Artikel tentang Shaum (Puasa)

Diposting oleh Tarbiyatun Nisaa - Jumat, 28 Agustus 2009, 21.22 Kategori: - Komentar: 0 komentar

Shaum Antara Langit dan Bumi, Antara Syetan dan Malaikat

Sahabat Mu’adz bin Jabbal r.a. berkata, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Ya Mu’adz, maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Ingin sekali ya Rasul, jawabku. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Puasa adalah penangkal siksa neraka, sedangkan shodaqoh dapat menghapus dosa sebagaimana air dapat mematikan api.” (HR. Tirmidzi)

Sahabat Abu Hurairoh r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Allah azza wa jalla telah berfirman, seluruh amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku, dan aku yang akan memberinya balasan khusus. Puasa adalah perisai neraka. Apabila salah seorang diantara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berbicara kotor dan keji. Apabila ada seseorang yang mencaci atau mengajak berkelahi, maka katakanlah: “Aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang diri Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, bau mulut orang puasa, lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak wangi. Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah SWT Tuhannya. (HR Bukhory dan Muslim).


Respons dan Apresiasi
Kesan apa yang didapatkan setiap bulan Ramadhan tiba? Mengapa ia selalu hadir di setiap tahun? Ada apa sebenarnya di balik Ramadhan ini? Kalau memang ia berkaitan dengan pembinaan keshalehan diri, adakah agenda atau program peningkatan dan pengembangan kualitas keimanan dan ketakwaan diri yang bisa dilakukan selama Ramadhan? Adakah target yang ingin dicapai selama bulan Ramadhan? Ataukah sama sekali “blank” alias tidak punya agenda apapun? Bahagiakah atau merasa tersiksakah? Ramadhan, tidak dapat dipungkiri, kehadirannya akan mendapat beragam respons, persepsi dan apresiasi kaum muslimin dalam mensikapinya. Ada sebagian orang muslim, yang berbahagia penuh suka cita dalam menyambut dan menjalankannya. Senandung puji dan rasa syukur, mereka panjatkan, sebagai ungkapan rasa bahagia tiada terkira, karena mereka masih diberikan kesempatan untuk mereguk, menghirup dan menikmati kembali indahnya bulan suci Ramadhan. Inilah kelompok kaum muslimin maksimalis, yang telah banyak mendapatkan hikmah, keutamaan, keindahan dan pesona Ramadhan. Pertanda, bahwa kadar dan kualitas keimanan mereka sudah terbentuk dan tertanam kuat.

Namun tak sedikit pula, sebagian kaum muslimin yang merasa tersiksa dan setengah terpaksa menyambut dan menjalankannya. Uh, puasa lagi, puasa lagi. Cepat sekali datangnya puasa ini! Itulah ungkapan tanpa sadar, yang keluar dari mulut mereka, sebagai ekspresi ketidak ikhlasan dan ketidak ridloan datangnya bulan suci Ramadhan. Inilah kelompok kaum muslimin minimalis, yang beranggapan bahwa kehadiran bulan suci Ramadhan, hanyalah belenggu dan siksaan. Mereka sama sekali tidak mendapatkan apapun dari setiap hadirnya bulan Ramadhan. Sebagai pertanda, bahwa kadar dan kualitas keimanan mereka belum terbentuk dan tertanam kuat. Mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: kurangnya pengetahuan dan keilmuan tentang Ramadhan khususnya dan ajaran Islam pada umumnya, terlalu sibuk dan terikat dengan kesenangan dan kenikmatan duniawi, atau memang hidupnya tidak memiliki arah dan tujuan dan lain sebagainya.

Yang perlu dipertanyakan sekarang adalah, di kelompok manakah keberadaan kita, saat menyambut bulan suci Ramadhan ini? Apakah termasuk kelompok pertama ataukah masuk katagori kelompok kedua? Jika anda berada di kelompok pertama, berbahagia dan beryukurlah, pertanda rahmat, taufik, hidayat dan barakah Allah SWT telah masuk, mengalir, menyelusup dan bersemi di seluruh sel-sel syaraf, hati, fikiran, jiwa, perasaan dan seluruh metabolisme ragawi dan ruhani anda. Sebaliknya, bila anda masih termasuk katagori kedua, hati-hati dan waspadalah! Pertanda, masih jauhnya rahmat, taufik dan hidayat Allah SWT, sehingga barakah dan kebahagiaan tidak pernah muncul di hati dan seluruh kehidupan anda.

Apakah yang harus dilakukan, agar kita terhindar dan tidak termasuk kelompok kedua ini? Tiada lain tiada bukan, kita harus belajar dan berusaha mendapatkan pengetahuan, wawasan, hikmat dan pesona Ramadhan melalui kegiatan “ngelmu”, ngaji, membaca dan bergaul dengan orang-orang sholeh dan berilmu, yang dianggap bisa memberikan pencerahan dan cahaya hidup kepada Anda. Di mana dan kapan saja, asal ada kemauan dan usaha, pasti anda akan menemukannya. Salah satunya termasuk, menyimak dan menelaah makalah sederhana ini. Mudah-mudahan sedikit banyak membantu membuka hati, jiwa, perasaan dan nurani Anda, tentang dahsyat dan luar biasanya makna dan nilai ibadah Shaum Ramadhan yang akan kita jalankan ini. Semoga ...

Ramadhan Bulan Pelatihan Diri (Self Training)
Ibadah puasa (shaum) merupakan salah satu rukun Islam, yang dianggap sebagai bagian dari proses pembinaan ruhani, spiritual dan keimanan seorang muslim, agar kadar dan kualitas keimanan ketakwaannya kepada Allah SWT, senantiasa terus menerus meningkat. Karena ia sebagai pembinaan, maka kehadiran dan kegiatannya akan terus senantiasa berulang setiap setahun sekali.

Di samping, shalat, syahadat, zakat dan haji, ibadah shaum (puasa) merupakan ibadah badaniyah sekaligus ruhaniyah, namun ibadah ini memiliki keistimewaan dibanding ibadah-ibadah yang lainnya. Dalam beberapa hadis qudsi dikatakan, setiap amal kebaikan akan dibalas Allah SWT sepuluh kali lipat, kecuali ibadah puasa. Ia hanyalah milikku, dan terserah kepadaku untuk membalasnya sesukaku. Inilah kelebihan bulan dan ibadah puasa Ramadhan dibanding ibadah-ibadah yang lainnya. Mengapa ibadah puasa ini memiliki keistimewaan dibanding ibadah-ibadah yang lainnya? Apa fungsi-fungsi yang dimiliki oleh ibadah puasa ini? Itulah barangkali ragam pertanyaan yang mungkin diajukan oleh orang yang merasa penasaran dengan keistimewaan yang ada di bulan puasa ini.

Di bawah ini akan diuraikan secara ringkas, beragam kelebihan ibadah shaum (puasa) dalam berbagai dimensi persepsi dan penafsiran. Yang satu dengan lainnya, memiliki keterkaitan dan jalinan yang sangat erat tidak bisa dipisah-pisahkan, antara lain dalam berbagai aspek sebagai berikut :
1. Aspek Religius Spiritual
2. Aspek Fisik Biologis
3. Aspek Psikologis
4. Aspek Sosiologis dan humanis
5. Aspek Ekonomis dan Ekologis
6. dan lain-lain

Aspek Religius Spiritual
Apa manfaat dan fungsi puasa bagi keagamaan dan kespiritualan seseorang? Apakah benar bahwa puasa bisa meningkatkan kualitas ruhani seseorang? Apakah benar puasa bisa menjadikan seseorang lebih sholeh dan selalu ingin berbuat baik? Mengapa kesholehan itu hanya terlihat di bulan Ramadhan saja, sementara 11 bulan kemudian, tidak berkembang? Mengapa hal itu bisa terjadi? Itulah barangkali ragam pertanyaan yang mungkin timbul sebagai respons terhadap fungsi shaum terhadap aspek ruhani/spiritual seseorang. Kenapa masih banyak orang Islam, yang tidak mau dan taat melaksanakan ibadah puasa ini? Apakah ibadah shaum ini begitu memberatkan, sehingga banyak orang muslim yang tidak kuat menjalankannya? Perintah ibadah puasa ini sangat berkaitan erat dengan keimanan. Ayat yang sudah dikenal umum tentang puasa adalah Qs. 2 (Al Baqoroh: 183) : “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian ibadah puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang bertakwa”

Bila memperhatikan ayat di atas, ada beberapa penjelasan yang bisa kita tangkap, yaitu : Pertama, jelas sekali, ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang meyakini sepenuh hati tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT. Sehingga, tidak ada keberatan bagi mereka untuk melaksanakan ibadah shaum ini, karena mereka sudah meyakini dan mempercayai, bahwa apa yang diperintahkan Allah SWT pasti ada manfaaat dan hikmat yang terkandung di dalamnya. Kedua, ibadah shaum (puasa) merupakan ibadah primitif turun temurun. Artinya tidak hanya untuk umat nabi Muhammad SAW saja, namun umat-umat nabi lain sebelumnyapun mendapatkan perintah yang sama. Ketiga, puasa bertujuan untuk membentuk dan melahirkan ketakwaan. Apa itu takwa? Secara sederhana, istilah takwa bisa diartikan kondisi mental ruhani spiritual seseorang yang terikat dan terkait dengan kesadaran akan asal muasal jati dirinya. Darimana ia berasal, untuk apa ia diciptakan dan hendak ke mana muara akhir kehidupannya. Istilah lain yang lebih sederhana, TAKWA bisa diartikan manajemen hidup berbasis Allah.
Apa saja fungsi ibadah puasa bagi kehidupan ruhani, religius atau spiritual seseorang? Di bawah ini akan diuraikan secara ringkas, berdasarkan pengalaman dan interpretasi pribadi tentang ibadah puasa yang dijalani, diantaranya adalah :

1. Reposisi Restrukturisasi Alam Ruhani dalam Diri. Dalam diri manusia sebenarnya ada elemen-elemen langit atau yang disebut dengan aspek ruhani. Dengan ibadah puasa, elemen ruhani ini dibangkitkan dan disuburkan kembali. Bahwa manusia ini sebenarnya adalah makhluk langit, makhluk surga, makhluk ruhani, yang bertanggung jawab atas perjanjian ruhaninya pada saat diciptakan, bahwa ia hanya mengakui Allah SWT sebagai Tuhan yang harus diabdi dan disembah. Dengan ibadah puasa, maka jiwa dan diri manusia disadarkan kembali, bahwa elemen penting dalam diri manusia yang memiliki keterkaitan dengan Allah SWT adalah aspek ruhani atau spiritualnya. Sehingga manusia kembali sadar dan tahu diri, dari mana dan hendak kemana ia akan pergi dan kembali. Ketika kesadaran ini tumbuh subur dan berkembang dalam diri manusia, maka ia akan memancarkan nilai-nilai baik dari dalam dirinya, dan akan memberikan manfaat kepada manusia lain yang ada di sekitarnya. Dengan tidak makan, minum dan bergaul suami isteri di siang hari, serta meninggalkan segala hal yang bersifat bumi, ternyata manusia bisa dan kuasa. Ia bisa menempatkan aspek duniawi benar-benar di bawah pijakan ruhani spiritualnya, dan ternyata ia bisa membebaskan diri dari ketergantungan terhadap bumi yang bersifat duniawi.
2. Ketakwaan Manusia bisa melebihi Malaikat. Apa yang menyebabkan malaikat disuruh sujud kepada Adam? Tiada lain tiada bukan, adalah kelebihan manusia dibanding malaikat adalah ilmu dan kemampuan mengembangkan dirinya menjadi manusia ruhani, padahal ia terikat kuat dengan elemen bumi. Sedangkan malaikat hanya tercipta dari cahaya, yang dibuat hanya untuk taat dan mengabdi pada Allah. Namun manusia tercipta dari dua unsur yang saling dorong mendorong dan mempengaruhi, yaitu ruhani yang berdimensi langit, nafsu yang berdimensi bumi. Ketika manusia mampu membebaskan dirinya dari ketergantungan kepada bumi, dan hanya satu yang ia munculkan yaitu ketinggian ruhani langit, maka itulah kualitas dan prestasi manusia, sehingga malaikat disuruh sujud hormat kepada manusia. Salah satu media yang bisa menjadikan manusia bisa melebihi malaikat adalah ibadah puasa.
3. Menjadikan dan Menghadirkan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan. Dengan ibadah puasa, maka jiwa dan ruhani manusia direstrukturisasi dan direkonstruksi kembali, bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Manusia tidak memiliki apapun, semuanya berasal dari Allah SWT, tubuh kasar yang kita gunakan, hati, batin dan akal fikiran yang kita manfaatkan, semuanya berasal dariNya. Manusia tak memiliki sedikitpun, semuanya adalah pemberian dari Nya. Manusia hanya diberikan hak guna pakai dan pemeliharaan. Suatu saat, semua yang kita miliki akan dikembalikan lagi kepada sang pemiliknya, yaitu Allah SWT. Inilah tujuan dari pelaksanaan ibadah puasa, yaitu mengembalikan kesadaran dan kesejatian diri manusia, bahwa semua berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya, dan di akhirat nanti, manusia akan dituntut dan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT atas segala karunia, anugerah dan berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya. Oleh karenanya, tak pantas dan alangkah bodohnya manusia yang takabbur, sombong, adigung adiguna, menganggap bahwa apa yang ada pada dirinya adalah miliknya, kekayaan, kekuasaan, kehebatan, kepopuleran dan ragam assesories duniawiyah adalah kepunyaannya. Alangkah kasihan dan terhinanya manusia seperti itu. Karena sebenarnya, itu semua adalah titipan dari Allah SWT sang Pemilik Sejati kehidupan, dan semua akan dikembalikan kepadaNya, suka ataupun terpaksa, pasti akan kembali menuju kepadaNya. Inilah kesejatian Tauhid, Akidah dan Keyakinan kepada Allah SWT.

Aspek Fisik Biologis
Bayangkanlah sebuah sebuah pabrik makanan, yang berjalan dan berproduksi tiada henti selama 24 jam, terus menerus dan itu berjalan selama 11 bulan. Tak tergambar, pasti pabrik itu akan hancur, bahkan mungkin bisa meledak, karena tidak tahan dengan terus-menerusnya berproduksi tiada henti. Demikian halnya juga dengan tubuh manusia. Kurang lebih selama 11 bulan, seluruh mekanisme tubuh manusia, berjalan dan bekerja tiada kenal berhenti. Bisa dibayangkan, ibarat pabrik, tubuh manusiapun akan mengalami aus, rusak dan kehancuran.

Apa kaitan ilustrasi tersebut dengan ibadah puasa? Apa kaitan puasa dengan aspek fisik biologis manusia? Apakah benar, puasa bisa membuat seseorang lebih sehat? Apakah bisa diyakini bahwa ibadah puasa bisa membuat tubuh lebih fit? Padahal, secara kasat mata ibadah puasa justru bisa melemahkan dan mengurangi kekuatan tubuh? Itulah barangkali pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan, untuk lebih memahami dan meyakini, bahwa dengan keutamaan ibadah puasa berkaitan dengan fisik biologis manusia, manusia bisa mendapatkan kesentosaan. Di bawah ini terdapat beberapa hal, yang bisa memperjelas fungsi dan manfaat puasa bagi tubuh manusia, dan ternyata penelitian medis (kesehatan) pun memiliki kesimpulan yang sama, antara lain :
1. Relaksasi. Memberikan kesempatan istirahat kepada tubuh untuk menormalkan dan mengembalikan kekuatan, sehingga tubuh kembali sehat, kuat dan fit.
2. Restrukturasi dan Rekonstruksi. Dengan melakukan ibadah puasa, tubuh diberi kesempatan untuk memperbaiki dan merekonstruksi kembali sel-sel yang rusak, menumbuhkan dan menguatkannya kembali, sehingga bisa berfungsi maksimal.
3. Membentuk ferformance ideal tubuh. Puasa membentuk pola hidup seimbang, antara konsumsi makanan, minuman dengan pengosongan. Hingga terbentuk ferformance ideal antara 1/3 makanan, 1/3 minuman dan 1/3 untuk pernapasan.

Baru-baru ini seorang pakar kesehatan dari Amerika, Paul C. Bragg, N.D., Ph.D bersama anak perempuannya Patricia Bragg, N.D., Ph.D., menulis sebuah buku tentang rahasia berpuasa “The Miracle of fasting, proven through history for Physical, Mental and Spiritual Rejuvenation“. Dalam buku ini mereka mengungkapkan bagaimana sebenarnya puasa itu merupakan alternatif kesehatan yang dijadikan oleh Tuhan dan berasal dari dalam tubuh manusia itu sendiri, sehingga dapat memberikan terapi kesehatan, baik yang berkaitan dengan kesehatan fisikis, mental, dan spiritual. Selama ini banyak orang menyangka bahwa puasa itu adalah sebuah ibadah yang hanya bersifat spiritual, ternyata puasa itu adalah keperluan hidup manusia yang menginginkan hidup lebih sehat, dan hidup lebih lama.

Pada awal tulisannya Bragg menyatakan bahwa binatang dalam kehidupannya telah mengetahui dengan instink yang diberikan kepadanya bagaimana untuk hidup, apa yang harus dimakan, dan apa yang harus diminum. Secara instink, makhluk binatang juga mengetahui bagaimana mereka harus berpuasa jika mereka terluka atau sakit. Secara alami, binatang hanya memakan apa saja yang baik untuk mereka, tetapi banyak manusia memakan apa saja dan berapa pun banyaknya tanpa menghiraukan apakah makanan itu akan berpengaruh kepada kehidupannya. Padahal kita mengetahui bahwa apa saja yang kita makan pasti akan diproses di dalam perut kita sehingga ada yang dapat hancur menjadi darah dan daging, ada juga yang harus dibuang, baik melalui kotoran ataupun keringat. Bahkan, bila makanan itu bersifat kimiawi, yang tidak bisa diproses oleh tubuh, bisa berakibat tubuh menjadi keracunan, bisa terkena toksid dan residu dalam badan manusia.

Badan manusia adalah laksana mesin, yang memproses makanan yang masuk ke dalam tubuh untuk menjadi tenaga, sehingga manusia dapat bergerak dengan baik. Sebagaimana layaknya sebuah mesin, maka tubuh manusia juga memerlukan waktu istirahat, sehingga mesin tersebut dapat berjalan dengan lancar, dan sebaliknya dengan memberikan masa istirahat alias turun mesin, maka mesin itu akan bekerja seperti baru lagi. Demikian juga dengan tubuh manusia, semua organ tubuh yang menjalankan tugas masing-masing memerlukan waktu istirahat. Dalam kajian kesehatan, menurut buku tersebut, bahwa dalam setiap seminggu tubuh manusia itu memerlukan istirahat total selama duapuluh empat jam, atau dalam sebulan tubuh memerlukan istirahat selama tiga hari, atau dalam setahun maka dia memerlukan istirahat selama tigapuluh hari. Ini bukan sebuah kebetulan, jika dalam ajaran agama islam kita mengenal dalam setiap minggu ada puasa sunat hari senin dan kamis, dalam setiap bulan ada puasa sunat selama tiga hari berturut-turut yaitu tanggal 13, 14 dan 15, berdasar kalender bulan hijriyah, dan dalam setahun umat islam diwajibkan untuk berpuasa ramadhan selama satu bulan (28, 29 atau genap 30 hari). Subhanalah... berarti memang Allah Taala telah menetapkan suatu hukum puasa, baik itu puasa sunat seperti puasa sunat senin–kamis dan pusa sunat tiga hari dalam sebulan apalagi puasa wajib di bulan ramadhan sebagai suatu keharusan untuk menjaga kesehatan badan yang diperlukan oleh tubuh manusia.

Laksana baterei, maka puasa adalah proses “recharge“ (ngecas ulang) energi yang sangat diperlukan oleh tubuh; dan laksana mesin, puasa adalah proses turun mesin yang diperlukan oleh seluruh organ dalam tubuh. Kesehatan tubuh yang diakibatkan oleh puasa itu mengakibatkan kepada kesehatan mental dengan terkontrolnya nafsu sehingga membentuk keseimbangan dan ketenangan jiwa yang sangat diperlukan oleh kehidupan manusia modern. Keseimbangan dan ketenangan jiwa ini akan mengakibatkan kepada kejernihan berpikir dan bersikap. Kejernihan berpikir akan buah pikiran yang bijak dan ide-ide yang cemerlang yang sangat diperlukan oleh seseorang di tengah menghadapi segala persoalan hidup. Itulah sebabnya banyak pemimpin dunia membiasakan berpuasa untuk membentuk kejernihan berpikir dan tindakan yang bijaksana. Hippocrates, Bapak kesehatan Yunani berkata “Badan dan jiwa akan bekerja berama-sama. Apa saja yang terjadi di dalam badan akan mempengaruhi jiwa dan pikiran, demikian juga sebaliknya. Pikiran dan badan tidak dapat dipisahkan. Jika keduanya tidak dapat bersatu, maka stres emosi dan stress fisikis tak akan dapat dielakkan“.

Menurut Bagg, pemimpin yang bijak sejak dari dahulu kala telah membiasakan diri dengan puasa, seperti Zoroaster, Socrates, Plato, Aristoteles, Hippocrates, sampai kepada Confusius dan Gandhi. Bragg dalam buku tersebut menceritakan bahwa pada bulan Juli 1946 dia pernah menemani Gandhi yang mengadakan perjalanan ke seluruh pelosok India untuk kampanye kemerdekaan. Gandhi melakukan perjalanan dari satu kampung masuk ke satu kampung yang lain dengan berjalan kaki, juga dengan melakukan puasa selama perjalanannya, yang memakan waktu tiga minggu. Pada waktu itu Gandhi berusia tujuh puluh tujuh tahun, tetapi kata Bragg, dia tidak terlihat letih, malahan dalam perjalanan tersebut dia melihat bahwa Gandhi dengan penuh kekuatan yang luar biasa, baik secara mental maupun fisikal. Walaupun berjalan di tengah gurun yang begitu terik, Gandhi tidak menampakkan rasa lelah, dia terus berjalan, dan hanya berhenti selama dua puluh menit jika berbicara dengan penduduk kampung dan menjawab pertanyaan selama dua puluh menit lagi, kemudian dia meneruskan perjalanan sucinya tersebut. Sewaktu ditanyakan kepadanya apa rahasia kekuatan tubuh dan semangatnya itu Mahatma Gandhi, bapak spiritual India itu menjawab : “All the vitality and energy I have, comes to me because my body is purified by fasting“. (seluruh kekuatan dan energi yang datang kepadaku adalah disebabkan oleh badan yang bersih melalui puasa). Oleh sebab itu, Gandhi menganjurkan kepada rakyatnya untuk melakukan puasa sebab “The light of the world will illuminate within you when you fast dan purify your self “. (cahaya dunia akan bersinar dari dalam diri kamu, jika kamu melakukan puasa dan pembersihan diri).

Di Klinik Pyrmont, Jerman, Dr. Otto Buchinger dan kawan-kawannya telah menyembuhkan banyak pasien dengan terapi puasa. Penyembuhan meliputi penyakit fisik dan kejiwaan, sehingga bisa dikatakan sebagai psiko-fisio terapi. Setelah para pasien dirawat secara medis selama sekitar 2-4 minggu dan berdisiplin puasa, ternyata mereka lebih segar kembali baik secara fisik maupun secara mental. Mereka juga lebih bergairah hidup. Menurut pengalaman terapi di klinik ini, berbagai penyakit seperti ginjal, kanker, hipertensi, depresi, diabetes, maag dan insomania dapat disembuhkan melalui puasa. Demikian juga yang terjadi di Moskow Institute of Psychiatry. Menurut Dr. Yuli Nekolar, setelah mengadakan riset dia menyatakan bahwa upaya penyembuhan secara medis yang disertai dengan puasa, hasilnya akan lebih baik dan lebih cepat. Hal ini juga telah dibuktikan oleh para pasein yang menjalani terapi puasa di klinik Health Spa di Amerika. (dikutip dari Mailist Internet tentang puasa :Google Search Engine)

Aspek Psikologis
Bila anda ingin selalu dibaluti rasa optimisme, penuh harapan, cita-cita dan kebahagiaan, maka lakukanlah puasa. Mengapa puasa bisa menumbuhkan semangat dan optimisme hidup? Apakah benar puasa bisa menjadikan seseorang penuh harapan, suka cita dan kebahagiaan? Ada beragam manfaat dan hikmat puasa, berkaitan dengan psikologi (kejiwaan) manusia, diantaranya adalah:
1. Melatih kesabaran. Bayangkan, selama lk. 14 jam dari mulai terbit fajar (shubuh) sampai terbenam matahari (maghrib) tidak makan dan minum. Secara fisik biologis, tidak bisa dipungkiri, tubuh akan terasa lemas, lemah, letih dan lesu. Secara tidak langsung, jiwa kita dilatih untuk sabar dan tabah dalam menjalani proses ujian ini. Dan bila berhasil, artinya bisa tuntas sampai maghrib, ada rasa bahagia, sukses dan suka cita tiada terkira yang dirasakan oleh jiwa. Kesabaran menjalani ujian dan pelatihan, berbuah sukacita dan kebahagiaan.
2. Melatih pengendalian diri. Tidak makan dan minum di siang hari, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa merusak puasa, adalah ujian pengendalian diri. Manakala kita mampu menjalaninya, artinya bisa menuntaskan kewajiban puasa sampai menjelang buka, selama satu bulan penuh, sungguh suatu kepuasan, kebahagiaan, kesuksesan dan keberhasilan jiwa, yang akan melahirkan rasa bahagia tiada terkira. Itulah makna dari ibadah puasa, yang akan menimbulkan rasa optimisme, bahagia dan suka cita.
3. Menanamkan dan mengembangkan optimisme berkelanjutan. Selama Ramadhan, tiada hari tanpa merajut dan merenda harapan dan optimisme. Walau terasa lelah, letih, lesu, lapar dan haus di siang hari, namun segumpal harapan tetap tertanam kuat, karena ada saat istimewa yang ditunggu-tunggu, yaitu buka puasa pada waktu maghrib tiba. Setiap detik yang dilalui terasa begitu istimewa. Sehingga ada perasaan sayang, kalau tidak mengisinya dengan ragam kegiatan penambah keimanan dan ketakwaan, misalnya membaca al Qur’an sampai khatam, membaca buku-buku keislaman, atau buku-buku lainnya yang bisa menambah motivasi dan energi hidup.

Aspek Sosiologis dan Humanis
Apa yang dimaksud dengan aspek sosiologis dan humanis dikaitkan dengan puasa? Apakah benar, bulan puasa, bisa melahirkan rasa solidaritas dan kepedulian kepada sesama? Apa kaitan puasa dengan aspek kemanusiaan? Bulan Ramadhan adalah bulan kemanusiaan, kepedulian sosial dan cinta sesama. Bulan yang tidak membedakan antara kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat, antara kaum elit maupun alit. Rasa lapar, haus, letih dan lelah, saat menjalankan ibadah puasa, apalagi bagi yang sama-sama menjalankannya, ada perasaan senasib dan sepenanggungan, yang pada akhirnya akan melahirkan solidaritas kemanusiaan yang kental dan kuat (altruisme). Yang kaya dan kaum elit maupun pejabat rela membantu kaum miskin dan alit. Hal ini, diperkuat pula dengan beragam dalil naqli, baik yang ada di dalam Al Qur’an maupun hadis-hadis Rasulullah SAW, tentang berbagai keutamaan bulan Ramadhan, khususnya yang berkaitan dengan aspek solidaritas kemanusiaan.
Aspek Ekonomis dan Ekologis
Apa kaitan ibadah puasa dengan aspek ekonomi dan ekologi? Fungsi dan manfaat apa yang bisa didapatkan dari ibadah puasa, berkaitan dengan kehidupan ekonomi masyarakat dan ekologi (lingkungan)? Apakah benar, bulan Ramadhan, bisa dijadikan momentum bulan efisiensi dan penghematan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan? Secara ideal, seharusnya pada saat bulan puasa, tingkat konsumsi makanan, minuman dan lain-lainnya, bisa ditekan dan dikurangi. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Karena saat orang melakukan puasa, kegiatan makan dan minum, biasanya hanya berlangsung saat buka dan sahur saja, tidak lebih tidak kurang. Seteguk air putih dan beberapa butir kurma maupun makanan manis khas di bulan Ramadhan, yang dikonsumsi saat berbuka, biasanya cukup mengenyangkan. Terkecuali bagi orang yang memang dari dulunya sudah rakus, “gembul” dan “leuleuwiheun”.

Ketika pengurangan tingkat konsumsi terjadi, maka secara tidak langsung ada upaya efisiensi dan penghematan massal. Bila konsumsi berkurang, maka jumlah sampah rumah tangga yang dihasilkan dalam beragam bentuknya, setidaknya akan berkurang pula. Tidak bisa dibantah, bahwa hampir semua kemasan makanan saat sekarang ini, hampir seluruhnya menimbulkan sampah. Beragam jenis sampah yang dihasilkan dari rumah tangga seperti plastik, kertas, bungkus-bungkus dan sebagainya, yang selama ini hampir memenuhi di berbagai tempat, jalan, sungai, got, pasar, sekolah, rumah dan tempat-tempat lainnya, yang tidak bisa dipungkiri, menjadi ciri khas kebiasaan dan lingkungan masyarakat di tanah air, bahkan akhir-akhir ini fenomena sampah menjadi momok menakutkan, setidaknya akan berkurang drastis. Jika pada bulan Ramadhan, ternyata kita mampu mengurangi jumlah sampah dari sisa-sisa makanan, alangkah indah dan bersihnya, kalau kemampuan berhemat dalam mengkonsumsi makanan yang banyak menimbulkan sampah ini, menjadi kebiasaan 11 bulan kemudian. Dipastikan, fenomena gunung dan semrawutnya sampah di berbagai tempat akan berkurang secara signifikan. Tapi mungkinkah?

Pelaksanaan Ramadhan
Agar apresiasi dan penghayatan terhadap ibadah shaum (puasa) selama bulan Ramadhan bisa lebih tajam meningkat, sehingga bisa meraih dan mereguk hikmah, pesona dan keindahannya secara maksimal, sesuai dengan tuntutan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, maka setiap individu muslim perlu melakukan berbagai kegiatan, antara lain :
1. Persiapan. Kegiatan persiapan ini meliputi beberapa hal penting, diantaranya:
a. Membersihkan jiwa, hati dan perasaan (tazkiyatunnafsi)
b. Menguatkan niat dan tekad, misalnya puasa kali ini harus lebih baik dari puasa kemarin, saya harus khatam minimal 2x dalam puasa ini, saya harus lebih banyak bershodaqoh lagi dan seterusnya.
c. Silaturrahmi dan Mushofahah diantara sesama keluarga, saudara, teman-teman serta kaum muslimin pada umumnya, agar bisa saling membebaskan dari segala kekotoran hati dan saling memaafkan
d. Menambah dan meningkatkan penghayatan, ilmu dan wawasan tentang keutamaan shaum Ramadhan melalui kegiatan membaca, ngaji dan ngelmu, mendengar ceramah (audio visual) dan sebagainya.
2. Pelaksanaan. Ada 3 kegiatan ibadah utama di bulan Ramadhan, yaitu :
a. Imsak, yaitu menahan dan mengendalikan diri jasmani maupun ruhani. Pengendalian Jasmani menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami isteri di siang hari. Sedangkan secara ruhani, menjaga diri dari segala sesuatu yang bisa mengurangi nilai puasa, seperti mengumpat, mendengki, menyakiti orang lain dan sebagainya.
b. Rattil Al-Qur’an (membaca al Qur’an). Ramadhan adalah Syahrul Qur’an (bulan mengakrabi Al Qur’an). Usahakan untuk selalu membaca al Qur’an sepanjang Ramadhan, minimal 1x khatam, lebih baik lagi kalau bisa berkali-kali khatam.
c. Qiyamullail (shalat malam). Kebanyakan kaum muslimin melakukan Qiyamullail setelah shalat Isya, atau lebih dikenal dengan Shalat Tarawih. Secara harfiyah, shalat tarawih yaitu shalat yang dilakukan secara berjama’ah, dalam suasana santai, berselang-seling antara shalat dengan istirahat. Walau dalam kenyataannya, sebutan yang pantas adalah Shalat Tajawir, karena kebanyakan dilakukan “ngebut”, dengan ciri bacaan imam yang khas dan cepat, hampir tidak ada jeda sama sekali. Ada yang 11 raka’at, 8 raka’at plus 3 witir, ada juga yang 23 raka’at, 20 raka’at plus 3 witir. Manakah diantara keduanya yang paling benar? Kita jangan terlalu memusingkannya, karena memang masing-masing memiliki dalil sandarannya. Yang salah adalah mereka yang tidak pernah tarawih. Namun kalau kita ingin benar-benar mencontoh Qiyamullail Rasulullah SAW beserta para sahabat, maka lakukanlah Qiyamullail itu pada sepertiga malam, yaitu antara jam 1 s/d 3 malam, setelah kita istirahat tidur malam. Dalam suasana hening dan dinginnya malam, saat itulah, sebenarnya bisa kita dapatkan dan rasakan “sensasi” dan nikmatnya shalat malam. Apalagi setelahnya dilanjutkan dengan Rattil al Qur’an. Sungguh suatu pengalaman ruhani spiritual yang indah, eksotis tiada terkira. Penasaran? Mau mencoba?
3. Sunnah-sunnah Ramadhan. Selama melaksanakan shaum Ramadhan, perbanyaklah amalan-amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, diantaranya :
a. Menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur.
b. Memperbanyak infaq dan shodaqoh, terutama kepada anak-anak yatim, fakir miskin, janda, jompo, orang-orang tidak mampu.
c. Memperbanyak bacaan wirid, dzikir dan doa.
4. Menjelang Akhir Ramadhan. Sunnah Rasulullah SAW beserta para sahabat, bila menjelang akhir Ramadhan dan memasuki ‘Iedil Fitri, justru mereka lebih intensif dan lebih memperbanyak kegiatan ibadah, antara lain:
a. Melakukan I’tikaf, yaitu berdiam diri di mesjid dengan memperbanyak membaca al Qur’an, wirid, dzikir dan doa
b. Menunaikan zakat fitroh
5. Hari Raya ‘Iedul Fitri.
a. Bila sudah memasuki malam ‘Iedul Fitri, memperbanyak bacaan Takbir, Tahmid, Tasbih dan Tahlil sampai menjelang sholat ‘Iedil Fitri, baik secara kelompok maupun sendirian.
b. Menunaikan Shalat Sunnah ‘Iedul Fitri. Sunnah Rasulullah SAW beserta para sahabat melaksanakan shalat ‘iedil fitri di lapangan. Kecuali kalau hujan, maka shalat dilaksanakan di mesjid.
c. Disunnatkan untuk mandi besar, memakai minyak wangi dan mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki.
d. Bersilaturrahmi dan mushofahah dengan sesama saudara, tetangga dan kaum muslimin. Berbagi bahagia di hari kemenangan, saling memaafkan dan membebaskan.

Dengan ragam pelatihan diri yang dilakukan selama Ramadhan, didasari keikhlasan, rendah hati, penuh rela dan keridloan, diharapkan kebiasan-kebiasaan baik selama satu bulan tersebut, diharapkan menjadi kebiasaan terus menerus dilakukan oleh kaum muslimin selama 11 bulan kemudian. Bila hal itu telah menjadi kepribadian dan kebiasaan diri, berbahagialah Anda, itu berarti pertanda Anda telah mendapatkan lailatul qodar.

Apa itu Lailatul Qodar? Secara generik bahasa, Lailatul Qodar terdiri dari 2 kata, Lailatul artinya suatu malam dan Qodar memiliki berberapa arti diantaranya kepastian, hitungan, terukur, rasional, sistematis dan harmonis. Seperti firman Allah SWT: Wa Khalaqna Kulla Syaiinbiqodarin , “kami ciptakan segala sesuatu dengan qadar, artinya terukur, rasional, penuh perhitungan, sistematis dan harmonis”. Sehingga dari keqodarannya ciptaan Allah, manusia bisa menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai dengan sekarang.

Dengan demikian, arti Lailatul Qodar secara bahasa bermakna malam yang penuh dengan kepastian, perhitungan, terukur, sistematis dan harmonis. Berdasar keterangan al Qur’an, Lailatul Qodar, seperti dijelaskan dalam QS. Al Qodar, nilainya lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun), para malaikat turun ke bumi bersama malaikat Jibril dengan izin Allah membawa kedamaian, ketenangan dan ketentraman, hingga terbit waktu fajar. Dalam ayat lain, lailatul qodar disebut juga dengan lailatul mubarokah, malam yang penuh dengan keberkahan.

Secara psiko-religi-spiritual, orang yang mendapatkan Lailatul Qodar, tentu saja setelah melewati proses pelatihan diri (self Training) melalui puasa, shalat malam, membaca dan memaknai al Qur’an, mengaji dan mengkaji, merenung disertai wirid, dzikir dan istighfar (kontemplasi dan meditasi), berarti orang yang telah tertanam di dalam hati, fikiran dan jiwanya keyakinan, kepastian dan perhitungan hidup, untuk apa diciptakan, apa yang harus dilakukan selama hidup di dunia dan hendak kemana akhir tujuan hidupnya. Sehingga dalam menjalani hidup, orang tersebut akan lebih optimis, besar keyakinan, sabar, ikhlas dan tawakkal, tidak mudah putus asa dan menyerah, namun bertindak hati-hati, waspada, dan penuh perhitungan. Sehingga hidupnya akan berlimpah dengan keberkahan, kemurahan, kemudahan, kedamaian dan kebahagiaan. Mungkinkah kita termasuk golongan orang tersebut? Yaitu mereka yang telah menyerap dan menghimpun qadar Allah dalam dirinya, sehingga benar-benar merasakan hidup penuh dengan sensasi surgawi. Insya Allah, Andapun bisa, mengapa tidak?



Wallahu’alam bisshawab
Bogor, Akhir Agustus 2009 M/Ramadhan 1430 H
Iman SM
Komp. Tarbiyatun Nisaa, Jl. Letkol Atang Senjaya Km. 2 Ds. Bantarsari Rancabungur Bogor 16310
Hp. 081310621446
e-mail: ywtn88@yahoo.co.id, ywtn88@gmail.com,
blog: tarbiyatunnisa.blogspot.com

0 komentar

Posting Komentar