IKHLAS SUMBER SEGALA KEBERHASILAN

Diposting oleh Tarbiyatun Nisaa - Kamis, 12 April 2012, 04.36 Kategori: - Komentar: 4 komentar

Dikisahkan pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami isteri. Keduanya hidup tenteram mula-mula. Meskipun hidup miskin melarat, mereka taat kepada perintah Allah. Segala yang dilarang Allah dihindari, ibadah merekapun tekun sekali. Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Namun karena bosan hidup melarat dan miskin, akhirnya si isterinyapun tidak tahan. Sudah beberapa lama isterinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika segala-galanya serba cukup.
Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, hendak mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan ia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon itu, yang konon dianggap keramat dan sakti. Banyak juga kaum wanita dan para pedagang yang meminta-minta, agar suami mereka setia, atau dagangannya laris manis tak tersisa.

"Ini syirik,”fikir lelaki yang alim tadi. "Ini harus diberantas habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan
menyembah serta meminta selain kepada Allah.”Maka pulanglah dia terburu-buru.
Isterinya heran, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya, tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keledainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu. Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompatlah sesosok tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyerupai manusia.
"Hai, mau ke mana kamu!?”tanya si iblis.
Orang alim tersebut menjawab, "Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang, bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang rubuh pohon syirik itu.”
"Kamu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang saja!”
"Tidak bisa, kemungkaran mesti diberantas!”jawab si alim bersikap tegas.
"Berhenti, jangan teruskan!”bentak iblis marah.
"Akan saya teruskan!”
Karena masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian hebat antara orang alim tadi dengan iblis. Bila melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah bisa dibinasakan. Namun, anehnya ternyata iblis itu menyerah kalah, bahkan meminta-minta ampun.
Kemudian dengan berdiri menahan kesakitan dia berkata, "Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sholat Subuh, di bawah tikar sholat Tuan, saya sediakan uang emas empat dinar. Lebih baik, pulang saja berburu, jangan teruskan niat Tuan itu menebang pohon itu!”
Mendengar janji iblis dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Teringatlah ia akan isterinya yang hidup miskin dan melarat itu. Terngiang-ngiang, sungutan dan gerutuan isterinya setiap hari.
Hemmh, setiap pagi empat dinar, dalam sebulan saja dia sudah bisa menjadi orang kaya. Mengingat akan desakan dan omelan isterinya itu, maka pulanglah dia. Patah niatnya semula hendak memberantas kemungkaran.
Demikianlah, semenjak pagi itu isterinya tidak pernah marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai sholat, dibukanya tikar sholatnya. Betul di situ tergolek empat benda berkilat, empat dinar uang emas! Dia meloncat riang, isterinya gembira. Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar sholat, masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah tikar sholatnya, tidak ada apa-apa lagi, kecuali tikar pandan yang sudah tua dan rapuh. Isterinya mulai marah karena uang yang kemarin sudah dihabiskan semuanya.
Si alim dengan lesu menjawab, "Jangan khawatir, esok barangkali kita bakal dapat delapan dinar sekaligus.”
Keesokan harinya, dengan harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai sholat, dibukalah tikar sejadahnya, ternyata kosong.
"Kurang ajar. Penipu!”teriak si isteri.
"Ambil kapak, tebanglah pohon itu!”
"Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya hingga ke ranting dan daun-daunnya!”sahut si alim itu.
Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keledainya menuju ke arah pohon syirik itu. Di tengah jalan, iblis yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghadang. Dengan mata menyorot tajam, ia berkata, "Mau ke mana kamu?”hardiknya menggelegar.
"Mau menebang pohon syirik itu!”jawab si alim dengan gagah berani.
"Berhenti, jangan lanjutkan!”
"Tidak bisa. Bagaimanapun juga, pohon itu tidak boleh dibiarkan. Harus ditebang abis!”
Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis yang kalah, tapi si alim yang terkulai kalah. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran, "Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkanku, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?”
Iblis itu dengan angkuh menjawab, "Tentu saja engkau dahulu bisa menang, karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah, karena Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh bala tentaraku menyerangmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya karena tidak ada uang di bawah tikar sejadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh kebolehanmu, tidak mungkin kamu mampu menjatuhkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu!”
Mendengar penjelasan iblis ini, si alim tadi hanya termangu layu. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas karena Allah lagi. Dengan terhuyung-hayang ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang tanpa keikhlasan karena Allah, dan ia sadar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain kesia-siaan yang berkelanjutan. Sebab tujuannya hanya semata-mata karena harta benda, mengatasi keikhlasan karena Allah dan agama. Bukankah berarti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsunya semata-mata?
"Barangsiapa di antara kalian melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin hendaklah berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, hendaklah mengingkari dengan hatinya (meninggalkannya). Itulah selemah-lemahnya iman.” Hadith Riwayat Muslim

‘Ibroh ‘indal Qishah
Pertama, ingat dan camkanlah dalam hati, bahwa selama hidup, manusia akan terus menerus berperang dengan Syetan. Ia musuh nyata abadi sepanjang zaman (Qs. Al Baqoroh: 168, 208; Al An’am: 142, Yusuf: 5 dll). Syetan tidak akan tinggal diam, ia berusaha terus menerus mengganggu dan menyesatkan manusia tanpa bosan dan putus asa, dengan berbagai cara dari berbagai arah: kanan, kiri, atas bawah, depan, belakang (Qs. Al A’rof: 18). Oleh karenanya, hendaklah setiap mukmin senantiasa berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT, agar terhindar dari kejahatan Syetan (Qs. Al A’rof: 200, Fushilat: 36).
Kedua, ingatlah bahwa hanya orang-orang ikhlaslah yang tidak akan tergoda oleh Syetan (Qs. Al Hajr: 40, Ashofaat: 40, 74, 128). Oleh karenanya, berusahalah melakukan segala sesuatu dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Setiap pekerjaan yang didasari karena keikhlasan, akan melahirkan ketenangan, kepuasan, kebahagiaan dan nilai keabadian, karena dicatat sebagai amal sholeh. Sebaliknya, pekerjaan yang tidak didasari niat karena Allah, disamping memang amal itu tidak akan berbekas, juga hanya melahirkan kesia-siaan, penyesalan dan rasa kecewa yang tidak ada habis-habisnya.
Ketiga, Bercita-citalah untuk menjadi orang kaya. Kaya dalam segala hal. Kaya harta, kaya jiwa, kaya fikiran, kaya hati, kaya perasaan, kaya pergaulan, kaya pengetahuan, kaya wawasan, kaya ilmu, kaya amal dan sebagainya. Kekayaan akan mengantarkan seseorang bisa meraih dan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan, keberlimpahan, kemakmuran, kemudahan, kesejahteraan dan sebagainya. Sebaliknya jauhkanlah hidup dari kemiskinan. Miskin harta, miskin ilmu, miskin amal, miskin jiwa, miskin rasa, miskin pergaulan, miskin pengetahuan dan sebagainya. Karena kemiskinan hanya akan menghantarkan seseorang menuju kekufuran. Mudah putus asa dan kecewa. Hidup serba sempit, terlilit, sulit dan terjepit.
Keempat, Bekerjalah secara sungguh-sungguh, serius, berdasarkan proses alamiah, bukan instan serba tiba-tiba, ingin segera dan harus cepat ada. Karena budaya instan akan melahirkan sikap gampangan, tidak tahan lama, mudah kalah dan tidak mampu bersaing secara sehat dan kuat dengan orang lain.
Wallahu a'lam bisshowwabbb....
Referensi: dari berbagai sumber online

4 komentar:

  1. Artikel yang menarik mengandung pencerahan yang sangat-sangat bermanfaat!

    BalasHapus
  2. Mkasih kang Achmad....sama-sama kita berkarya terus...

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. ohhh kitu nyah...okehlah...siap lurrr...

    BalasHapus