TIGA PESAN KEMULIAAN

Diposting oleh Tarbiyatun Nisaa - Rabu, 11 April 2012, 05.46 Kategori: - Komentar: 2 komentar

Suatu hari Rasulullah SAW mendapat kabar, bahwa salah seorang sahabatnya meninggal dunia. Beliaupun segera berta’ziyah ditemani beberapa sahabat lainnya. Sesampainya di sana, Rasulullah bertanya kepada isteri sahabatnya tersebut.
“Adakah pesan atau wasiat yang disampaikan oleh suamimu, sebelum ia meninggal dunia?”
“Ada ya Rasulullah! Tapi kami tidak tahu, apakah yang disampaikannya itu wasiat ataukah hanya sekedar erangan orang yang akan meninggal dunia saja.” Demikian jawab isteri sahabat tersebut.
“Coba sebutkan tiga hal itu?”Tanya Rasulullah.
“Sebelum ia meninggal, ia mengatakan tiga hal; andaikan lebih panjang, andaikan masih baru dan andaikan semuanya” lanjut isteri sahabat tersebut memberikan keterangan. Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah SAW tersenyum. Penuh rasa penasaran, isteri sahabat tersebut bertanya.
“Apa maksud perkataan suamiku itu ya Rasulullah? Tolong beri kami penjelasan!”
Dengan penuh arif dan bijaksana, Rasulullah SAW pun memberi penjelasan.
“Andaikan lebih panjang. Suatu hari, tatkala suamimu pergi ke mesjid hendak melaksanakan shalat berjama’ah. Tiba-tiba di depannya, berjalan tertatih-tatih seorang kakek tua renta. Dengan penuh simpati dan empati, suamimu menolong membantu menuntun kakek-kakek tersebut, dengan perlahan penuh kelembutan menuju ke mesjid bersama-sama. Pada saat ia hendak meninggal, ia melihat pahala kebaikannya tersebut begitu besar. Sehingga ia merasa menyesal, mengapa jarak antara dia beserta kakek tersebut dengan mesjid tidak lebih panjang dan jauh lagi, sehingga ia bergumam, andaikan lebih panjang.”Demikian penjelasan Rasulullah SAW.
“Bagaimana dengan yang kedua ya Rasulullah SAW?”Tanya isteri sahabat tersebut penasaran.
“Andaikan masih baru. Suatu hari, suamimu baru saja pulang dari pasar, selesai menjahit pakaian jubah hangatnya yang sudah robek dan kusam. Di tengah jalan, ia melihat seorang pengemis tua, menggigil kedinginan. Pakaian yang dikenakannya, tidak mampu menahan udara dingin saat itu. Tanpa pikir panjang lagi, suamimupun memberikan jubah hangatnya tersebut, sehingga pengemis tua itu tidak kedinginan lagi. Pada saat ia akan meninggal, terlihatlah pahala kebaikannya tersebut begitu besar, sehingga ia merasa menyesal, mengapa ia tidak memiliki jubah hangat yang masih baru untuk diberikan. Penuh penyesalan iapun bergumam, andaikan masih baru.”Demikian penjelasan Rasulullah SAW.
“Bagaimana dengan yang ketiga ya Rasulullah SAW?”Penasaran isteri sahabatnya tersebut, ingin segera mendapat penjelasan.
“Andaikan semuanya. Suatu hari, suamimu baru saja pulang dari pekerjaannya. Pergi dari pagi sampai sore hari. Nampak rasa lelah dan lapar terlihat di wajahnya. Saat itu pula, engkaupun segera menyajikan sekepal roti, sebagai hidangan makan sore untuknya. Saat hendak makan, tiba-tiba terdengar suara Assalamu’alaikum di depan rumahnya. Iapun segera melihatnya, nampak seorang pengemis tua yang kelihatannya sangat lelah dan kelaparan. Akhirnya sekepal roti itupun dibagi dua oleh suamimu. Sepotong untuknya dan sepotong lagi diberikan kepada pengemis tua itu. Pada saat ia akan meninggal dunia, ia melihat pahala kebaikannya itu begitu besar. Sehingga ia merasa menyesal, mengapa roti itu tidak diberikan saja semuanya, mungkin pahala kebaikannyapun akan lebih besar lagi, hingga ia bergumam, andaikan semuanya.”Demikian penjelasan Rasulullah SAW di depan isteri dan keluarga sahabatnya tersebut.
‘Ibroh ‘Indal Qishoh
Terdapat beberapa hikmah yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah di atas. Pertama, sejarah keislaman dan kemanusiaan telah mencatat, manusia-manusia penuh kemuliaan, keunggulan, keagungan dan keanggunan telah dilahirkan, berkat pendidikan, pembinaan dan gemblengan Rasulullah SAW.
Sehingga sejarah Islam pertama, dipenuhi dengan kisah-kisah ketauladan para sahabatnya yang sungguh penuh pesona dan sangat luar biasa. Manusia-manusia yang keras, tangguh dan kuat bagai karang di lautan dalam memegang prinsip dan keyakinan. Namun hatinya diliputi kelembutan, ikhlas dan kehalusan, manakala melihat sesamanya yang kurang beruntung dan kekurangan. Hingga kemuliaan dan keagungan mereka, tercatat dan tetap terus menerus dikenang sepanjang zaman. (Lihat Qs. Al Fath: 29).
Kedua, Islam mengajarkan “Semua amal perbuatan manusia akan abadi dan berkonskuensi”. Persis sama dengan hukum “Kekekalan Energi”. Amal baik yang dilakukan secara ikhlas, akan mendapatkan balasan kebaikan, bahkan berlipat, walaupun terlihat kecil dan sepele. Membuang duri, batu atau paku di tengah jalan yang biasa dilewati, memungut dan menyimpan sampah pada tempatnya, menegur sapa ramah orang yang ditemui, walau hanya sebatas ucapan “kumaha cageur?”(Gimana sehat-red) dan contoh-contoh sederhana lainnya. Demikian pula amal keburukan dan kejahatan, akan mendapatkan balasan yang sama. “Maka barangsiapa yang berbuat kebaikan walau hanya sebesar atom sekalipun, pasti ia akan melihatnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan walau hanya sebesar atompun, pasti ia akan melihatnya pula”. (Qs. Azzalzalah: 7-8). Oleh karenanya, “jangan pernah menyesal, apalagi putus asa untuk selalu berbuat kebaikan dan jangan pernah merasa bangga dengan kemaksiatan yang dilakukan“.
Ketiga, yakinlah bahwa kehidupan Akhirat adalah sebuah KEPASTIAN. Al Qur’an secara terbuka, jelas dan tegas menginformasikan kepada manusia, tentang kehidupan akhirat yang akan dimasuki dan dialami. Bahkan seolah-olah kehidupan akhirat itu sudah terjadi, karena demikian jelasnya keterangan Allah di dalam Al Qur’an. Setiap manusia akan diminta pertanggungjawaban selama hidup di dunia, berikut dengan balasan yang akan didapatkan, sesuai dengan keyakinan keimanan dan amal perbuatan yang dilakukan.
Berbahagialah orang-orang yang beriman, bertakwa dan beramal sholeh. Surgalah tempat kembalinya. Celaka dan menyesallah orang-orang yang kafir, yang sombong dan mendustakan tentang adanya akhirat. Nerakalah tempat muara akhirnya. Bagaimana gambaran nasib yang akan dialami oleh kedua golongan tersebut?
Kehidupan Surga
Sungguh begitu indahnya Al Qur’an menggambarkan kehidupan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang beriman, bertakwa dan beramal sholeh, diantaranya:
  1. Bagaikan sebuah taman indah yang dikelilingi oleh sungai-sungai berair jernih, sungai susu, sungai khamar, sungai perasan madu murni, yang tidak pernah berubah warna dan rasanya serta disejukkan aneka macam pohon buah-buahan rimbun yang tidak pernah berhenti berbuah. (Qs. Ar Ra’du: 35, Muhammad: 15).
  2. Hidup kekal dan abadi dipenuhi ketenangan dan kedamaian, percakapan penghuninya adalah ucapan-ucapan indah menyejukkan, tidak ada ucapan yang kotor dan menyakitkan, tempat mereka ditinggikan, wajah mereka berseri-seri bahagia, sambil bersandar pada kasur dan bantal-bantal empuk dialasi permadani yang indah, didekatnya tersedia gelas-gelas berisi aneka macam minuman, dilayani oleh para pelayan yang disucikan. Puncak bahagia mereka adalah Ketika Allah ridlo kepada mereka dan merekapun ridlo kepadaNya. (Qs. Maryam: 62, Yaasin: 58, Azzukhruf: 81, Al Insan: 13-22, Al Ghasyiyah: 8-16, Al Bayyinah: 8)
Kehidupan Neraka
Sebaliknya, kehidupan neraka yang dijanjikan kepada orang-orang kafir, durhaka, sombong dan tidak mau taat kepada perintah Allah dan rasul-Nya, digambarkan dalam Al Qur’an, sebagai berikut:
  1. Bagaikan sebuah tempat gelap, sempit, kotor dan dipenuhi bau menyengat. Di dalamnya dipenuhi bermacam bentuk siksaan mengerikan tak terbayang yang tak berkesudahan, antara hidup dan mati silih berganti tiada henti (Qs. An Nisaa: 56, Al Insaan: 4, An Naba’: 21-30, Al Ghosyiah: 2-7, Tohaa: 74, Al A’laa:13) .
  2. Wajah-wajah para penghuninya hitam pekat tak bercahaya. Ada gurat sesal, kecewa, putus asa dan tiada henti-hentinya menyesali nasib dan diri (Qs. Yunus: 27, Ibrohim: 44, As Sajadah: 12, Al Munafiqun: 10, Al Qiyamah: 24-25, An Naba’: 40, Al Fajr: 23-26)
  3. Diantara mereka saling tuding salah menyalahkan, tidak ada kedamaian dan ketenangan, hanya rasa kecewa, marah, putus asa dan tak berdaya (Qs. Al A’roof: 38, An Nahl: 86, Ibrahim: 21)
Demikianlah Allah menjelaskan secara terbuka, jelas dan terang dalam Al Qur’an, tentang nasib yang akan dialami oleh dua golongan tersebut, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk mendustakan atau mengingkarinya. Kini keputusan di tangan Anda. Mau pilih golongan mana? Surga atau Neraka? Menjadi orang mukmin atau kafir? Ingatlah, Allah SWT tidak pernah main-main dengan JANJINYA.
Wallahu a'lamu bisshowwaab...
Referensi: dari berbagai sumber online

2 komentar:

  1. AKU segera sadar, terimakasih nasehatnya.

    salam hujan

    BalasHapus
  2. Terima kasih Bang Arif Agus....Hidup harus banyak beramal selagi sempat kapan dan di manapun.... walau hanya sedikit....Lanjutkan berkarya terus....

    BalasHapus