Sabtu, 26 November 2016

BERPACU DENGAN WAKTU

BERPACU DENGAN WAKTU

Pepatah Arab mengatakan,

الآتى قريب والماضى بعيد

Waktu yang akan datang sangatlah dekat,
Waktu yang terlewat, amatlah jauh


Waktu terus  berjalan ke depan, dan takkan mundur terulang, apalagi berputar ke belakang. Usia seseorang, hakikatnya bukan bertambah, melainkan berkurang. Dan ujungnya adalah kematian. Manusia adalah makhluk tiga dimensi, ia terikat oleh ruang, waktu dan bentuk. Selama ia hidup, maka selamanya ia terikat olehnya. Sebaik-baik manusia, dialah yang mengerti, memahami dan mampu memaknai waktu yang masih ada dan tersisa. Orang yang sukses dan bahagia, dialah yang memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, sebaliknya orang yang rugi, dialah yang tidak pernah berubah, dan akhirnya tergerus oleh waktu yang tak pernah kompromi sedikitpun.

Setiap manusia, diberikan waktu hidup yang sama, 24 jam sehari semalam, tanpa ada yang dibeda-bedakan, ditambah atau dikurangkan. Setiap jam terdiri dari 60 menit, setiap menit 60 detik.   Kalau waktu diberikan sama, terus kira-kira apa yang membedakan orang sukses bahagia dan berhasil dengan orang yang gagal terpental? Jawabannya adalah mindset atau cara pandang terhadap waktu, pemanfaatan,  usaha dan kerja keras, pendidikan, pengasuhan orangtua, budaya, kebiasaan, ideology, pergaulan dan lain sebagainya.

Mindset sukses melahirkan kebiasaan, pekerjaan, usaha dan keseriusan menjalani proses untuk sukses dan berhasil. Sebaliknya, mindset gagal, lahirkan kebiasaan menunda-nunda, berleha-leha, asal-asalan, tidak semangat, tidak bergairah, ketidak seriusan dan ketidak sabaran untuk menjalani proses menuju sukses. Padahal waktu terus menerus berjalan, tidak berhenti, dia akan menggerus siapa saja, menyedot setiap orang, berputar, menggelinding terus menerus tanpa henti, sampai akhir kehidupan. Pilihan ada pada manusia, mau memanfaatkan waktu, atau waktu yang memakan hidupnya tanpa sisa. 

Kesempatan itu hanya datang satu kali, saat ini,  di dunia ini, saat masih hidup, selebihnya adalah sehat, ada kesempatan, otak fikiran masih jalan, raga masih kuat menyangga, ditambah suasana aman dan nyaman, dan lain sebagainya. Jadi tidak alasan untuk tidak sukses, kaya, bahagia, sejahtera, makmur dan sentosa. Focus sekarang adalah hidup untuk masa depan yang lebih baik. Kesempatan untuk menjadi orang berguna, bermanfaat, bernilai lebih dan sejahtera, tetap terbuka.  Jangan berikan kesempatan leha, malas, lemah, letih, lesu, keluh dan cepat menyerah, bersemayam di balik rasa, jiwa, sukma dan raga.


Karena, kalau orang sudah mati tiada, tidak ada lagi kesempatan kedua untuk melakukan apapun. Kalau dia orang sholehh dan baik, dia akan menyesali kenapa tidak maksimal dan sepenuhnya berbuat baik, sebaliknya, bila dia orang jahat, dholim dan sesat, maka selamanya, dia akan menyesali kesesatannya, tanpa bisa lagi kembali ke asal untuk memperbaiki atau bertaubat karenanya.  

Itulah prinsip hidup, lakukan saja, bergerak terus jangan diam. Sekali diam, maka akan dilindas dan digerus oleh waktu. Bergerak dan mengalirlah seperti air. Air yang mengalir, terasa menyegarkan, sebaliknya, air yang diam tergenang, akan bau membusuk dan bertabur penyakit.

Wallahu a'lam bishowab......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar