HINANYA NASIB PENGKHIANAT

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Rabu, 01 Februari 2017, 20.43 Kategori: - Komentar: 0 komentar


HINANYA NASIB PENGKHIANAT

Walaupun sudah banyak diposting, namun tidak ada salahnya, peristiwa ini diangkat kembali. Untuk sekedar mengingatkan, bahwa sisa-sisa dendam itu, tetap akan ada dan abadi. Itulah dia, Perang Salib.

Peristiwa Perang Salib yang terjadi antara pasukan muslimin dengan Pasukan Nasrani, merupakan sejarah kelam, yang tidak bisa dilupakan, dan tidak bisa dihapus dari sejarah perjalanan kehidupan Umat Islam dan Umat Nasrani.  Bayangkan 400 tahun lamanya, atau lebih kurang 4 abad, perseturuan dan peperangan itu terjadi.
 
Kisah ini terjadi pada saat berkecamuknya Perang antara pasukan muslimin, yang saat itu, Pasukan Muslim dipimpin oleh Shalahudin al Ayyubi, sedangkan Pasukan Nasrani dipimpin oleh Richardbergelar Si Hati Singa.   

Dalam suatu penyerbuan yang licik, beberapa orang tentara Islam terjebak. Semuanya terbunuh, terkecuali tiga orang. Mereka ditangkap dan dihadapkan kepada pangeran Richard.  "kalian akan dihukum mati!" teriak pangeran Richard.

Ketiga tentara islam itu hanya diam, sepertinya tak gentar menghadapi gertakan itu.
Dua diantara mereka berusia separuh umur, sedangkan  seorang lagi masih kelihatan sangat muda. "Tinggal pilih, kalian ingin mati dengan cara bagaimana? Digantung, disalib, atau dipancung!" gertak Pangeran Richard.

Kedua tentara Islam yang berusia sedikit tua itu akhirnya menjadi ketakutan mendengar ancaman hukuman yang nampaknya tidak main-main. Wajah mereka seketika terlihat pucat pasi, tubuhnya gemetar dan lunglai bertumpu di atas lututnya. sedangkan seorang lagi yang masih muda tampak tenang.

"Namun semuanya bisa  diatur," lanjut Pangeran Richard. "Masih ada jalan untuk selamat bagi diri kalian.  Kalian akan kubebaskan dan kuberi kesenangan serta harta kekayaan,  tapi dengan syarat, kalian harus memeluk agama kami dan menjadi mata-mata tentara kami!"

"Hai anak muda," teriak Pangeran Richard kepada tentara Islam yang masih muda itu. "Bagaimana dengan dirimu? Ikut  kehendak kami, dengan imbalan kesenangan dan kekayaan, atau memilih mati?" Pemuda yang tangannya terbelenggu erat hanya menatap Pangeran Nasrani itu dan mulutnya mengucap,  " Allahu Akbar!!!". Sikap anak muda itu membuat Pangeran Richard murka. Iapun berteriak memanggil algojonya.



"Bangsat!!! Algojo!!! Seret dia keluar dan cincang tubuhnya!"
Algojo yang tubuhnya tinggi besar,  dengan kasar menyeret tubuh pemuda yang tak berdaya itu keluar.  Dimasukkan tubuh pemuda itu ke dalam sebuah tong kayu yang bagian dalamnya dipasangi paku-paku tajam. Tong itu ditutup rapat-rapat, kemudian digulingkan dari atas bukit. Kedua kawannya disuruh menyaksikan jalannya hukuman mati itu.

Ketika tong yang berisi pemuda itu sampai di dasar bukit, lalu dibuka, kedua kawannya memekik ngeri melihat keadaan anak muda itu. Seluruh tubuhnya bersimbah darah dengan luka bagai tercincang dicabik-cabik.

"Sudah kau lihat nasib kawanmu itu?" tanya Richard ketika kedua tentara Islam itu dihadapkan kepada dirinya.  "Kau ingin nasib seperti dia atau memilih kehidupan yang mulia?"
"Saya ingin hidup mulia," jawab seorang diantara kedua tentara Islam yang sedikit lebih tua. 

"Bagus! Jadi kau mau menuruti permintaanku? Mau menjadi mata-mata kami?"
"Tidak!"
"Lho?! Lalu apa maksudmu?" teriak Pangeran Richard.
"Aku ingin hidup mulia di sisi Allah…..  Allahu Akbar!!!"
"Tua bangka kurang ajar! Kau lihat saja nanti!"  Ejek Pangeran Richard dengan mata berapi-api. "Dan kau,  yang satunya lagi. Bagaimana dengan keputusanmu?"

Tentara Islam yang satunya, yang berumur agak muda, dengan gemetar dan badannya membungkuk-bungkuk ketakutan maju ke depan.
"Saya..... saya mohon ampun, Tuanku. Saya..... saya akan menuruti kehendak Tuanku...."
"Hahaha.... Bagus, bagus...." Richard si Hati Singa tertawa seraya memilin-milin kumisnya. "Artinya kau mau memeluk agama kami dan menjadi mata-mata tentara kami?"
“Benar, Tuanku.  Saya sebetulnya memeluk agama Islam hanya ikut-ikutan saja. Sayapun  berperang membela Islam juga karena dipaksa!"
"Betul demikian?"
"Betul, Tuanku."
Hati Pangeran Richard sangat girang mendengar jawaban itu.  Kemudian ia berteriak;
"Hai, pengawal! Beri dia pakaian yang bagus dan mulai sekarang ia kuangkat menjadi mata-mata kita."
Pengawal itu maju ke depan. "Ampun, Pangeran.  Sebelum dia diangkat menjadi bagian dari tentara kita,  apakah tidak lebih baik kita uji kesetiaannya?"
"Apa maksudmu?"
"Dia harus kita uji dulu. Berani tidak dia bunuh kawannya sendiri. Agar benar-benar setia pada kita."
"Hamba bersedia,  Tuanku. Hamba bersedia melakukannya!" Kata tentara Islam yang berkhianat itu.
Maka pengawal itu membuka pengikatnya dan memberinya sebilah pedang.  Dengan mata menjijikkan, pengkhianat itu mengambil pedang yang disodorkan kepadanya. dan dengan cepat dihunjamkan ke perut kawannya sendiri,  Berkali-kali dan bertubi-tubi. Hingga gugurlah temannya itu dengan memekik,  "Allahu Akbar! Allahu Akbar!"

Pengkhianat itu kemudian maju ke depan sambil tertawa sinis.  "Percayakah tuanku sekarang?  Hamba kini menyatakan diri untuk menjadi pengikut Tuan."
Richard si hati singa mengangguk-angguk, kemudian tertawa puas.

"Pengawal ajak dia ke tempat perjamuan dan perlakukan dia dengan baik."
"Sebentar, Tuanku," sahut pengawal itu. "Tidak sepatutnya orang ini diberi penghormatan seperti itu."
Pengkhianat itu menjadi kaget mendengar ucapan itu.

"Apa maksudmu?" tanya Pangeran Richard. "Bukankah dia telah melakukan tugasnya dengan baik?"
"Justru karena itulah kita harus berhati-hati, Tuanku," jawab pengawal itu. "Terhadap kawannya sendiri yang telah bergaul cukup lama, dia tega berbuat kejam, apalagi terhadap kita yang baru dikenalnya. Hamba yakin suatu ketika, dia pun pasti akan mengkhianati kita."

Mendengar penjelasan pengawal itu, Pangeran Richard mengkerutkan alisnya, lalu mengangguk-angguk.

"Ampun, tuanku. Hamba sekali-kali tidak akan berani melakukan itu..." Ratap si pengkhianat itu.
"Tuanku, Pangeran..." Kata pengawal itu lagi. "Sifat khianat adalah sifat terlaknat. Kalau suatu hari dia melarikan diri dan membeberkan semua keadaan serta pertahanan kita kepada tentara Islam,  apakah kita tidak akan hancur?"

"Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap orang ini?" Tanya Pangeran Richard.
"Hukum dia dengan kejam, melebihi kematian kedua sahabatnya yang ksatria itu."
"Algojo!" Teriak Pangeran Richard. "masukkan pengkhianat ini ke dalam kandang singa!"

Dengan meraung-raung minta ampun, pengkhianat itupun  diseret ke kandang singa. Terdengar ratapan, rintihan dan tangisan  si pengkhianat  untuk minta diampuni.  
Tapi Pangeran Richard tak memperdulikannya. Tak lama  kemudian terdengar raungan singa  lapar yang diiringi jeritan memilukan. Tubuh pengkhianat itupun dicabik-cabik oleh singa yang lapar dan bengis.  Sungguh sengsara dan terhina dia di dunia dan sengsara pula di akhirat."

Referensi: Dari berbagai sumber online

0 komentar

Poskan Komentar