DI BALIK PERINGATAN MUHARRAM 1436 H

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Senin, 10 November 2014, 21.58 Kategori: - Komentar: 0 komentar

Bulan Muharram, sebagai bulan pertama tahun Hijriyah, yang ditetapkan oleh Khalifah Umar ibn Al Khattab, adalah bulan penuh keistimewaan, menyimpan banyak makna yang patut ditafakkuri dan diapresiasi. Muharram tidak saja menandai awal tahun menurut penanggalan Islam, namun di dalamnya juga tersimpan hari mulia "Asyura" yang mencatat sejarah penting dan senantiasa dikenang dan diperingati sepanjang zaman oleh kaum Mukminin antara lain:
  1. Hari Asyura dikenang sebagai hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Nuh a.s. dari bencana banjir dan menenggelamkan musuh-musuh-Nya.
  2. Asyura juga dikenang sebagai hari Allah menyelamatkan Musa a.s. dari kejaran Fir'aun dan tentaranya. Itulah sebabnya umat Yahudi dan umat Nasrani mengagungkan hari ini.
  3. Nabi Nuh dan Musa diriwayatkan melakukan puasa pada hari ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kemenangan yang diberikan kepadanya.
  4. Umat Yahudi melakukan puasa pada hari Asyura dan menjadikannya sebagai hari raya. Konon kaum Quraish di masa jahiliyah juga melakukan puasa pada hari Asyura dan mereka menjadikannya hari keramat dimana pada hari itu mereka menjalankan tradisi mengganti kiswah Ka'bah.
  5. Ketika Rasulullah berhijrah, beliau mendapati penduduk kota Madinah melakukan puasa pada hari Asyura. Seorang Yahudi mengatakan kepada Rasulullah bahwa Asyura adalah hari agung dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari ancaman musuhnya, sehingga Musa berpuasa pada hari itu, Rasulullah pun menjawab "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian" (HR. Bukhory Muslim/Sahihain), lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa.
  6. Pada masa awal Islam, puasa Asyura adalah wajib bagi setiap muslim hingga turun ayat yang mewajibkan puasa bulan Ramadhan. Di mata Rasulullah s.a.w. hari Asyura begitu istimewa, beliau senantiasa melaksanakan puasa pada hari ini dan memerintahkan umatnya berpuasa demi rasa solidaritasnya kepada saudara seperjuangannya Nuh dan Musa a.s., bahkan pada tahun terakhir kehidupan Rasulullah beliau bersabda "Insya Allah tahun depan saya juga akan berpuasa" (Ashab Sunan) namun ajal telah menjemput beliau sebelum sempat menyempurnakan tahun itu.
  7. Asyura bagi umat Islam juga menampilkan kilas balik tragedi Karbala yang telah merenggut kedua cucu tercinta Rasulullah s.a.w, Hasan r.a. dan Husain r.a.. Lebih dari itu Karbala adalah tragedi yang menyadarkan kita betapa anarkisme, kekerasan dan tindakan tidak berperikemanusiaan telah menjadi noktah hitam sejarah umat Islam yang tidak akan pernah layak untuk terulang kembali.
  8. Masyarakat kita juga banyak menjalankan beberapa tradisi beragam berkaitan dengan hari Asyura. Ini menandakan betapa mengakarnya hari Asyura dalam tradisi dan budaya sebagian masyarakat kita.











Setiap pergantian tahun, baik masihiyah maupun hijriyah, setiap muslim dituntut untuk melakukan introspeksi. Mempertanyakan perjalanan hidupnya selama ini. Apakah telah banyak amal kebaikan yang telah dilakukan sebelumnya, ataukah sebaliknya? Dan rencana ragam kebaikan apa yang akan dilakukan, menjelang tahun baru yang akan dijelang? Karena pada hakikatnya, hidup manusia berproses menuju kematian. Sudah menjadi keyakinan, bahwa setiap amal perbuatan manusia, akan dipertanggungjawabkan di sisi Nya.




1 Muharam - Khalifah Umar Al-Khattab yang pertama kali menetapkan peristiwa hijriyah sebagai tahun penanggalan kaum muslimin.
10 Muharam - Dinamakan juga hari 'Asyura'. Pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi perjuangan yang gigih dan tabah bagi menegakkan keadilan dan kebenaran.

Pada 10 Muharam juga telah terjadi berbagai peristiwa penting, diantaranya:
  1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah.
  2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
  3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
  4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
  5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
  6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
  7. Penglihatan Nabi Yaakob yang kabur dipulihkkan Allah.
  8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya.
  9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama  40    hari 40 malam.
  10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran tentara  Firaun.
  11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
  12. Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar.
  13. Hari pertama Allah menciptakan alam.
  14. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
  15. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
  16. Allah menjadikan 'Arasy.
  17. Allah menjadikan Luh Mahfuz.
  18. Allah menjadikan alam.
  19. Allah menjadikan Malaikat Jibril.
  20. Nabi Isa diangkat ke langit.
Referensi: Dari berbagai sumber
Selengkapnya »»»

SEMARAK 'IDUL QURBAN 1435 H

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Minggu, 19 Oktober 2014, 21.18 Kategori: - Komentar: 0 komentar

Ucapan Terima kasih Idul Adha 1435 H
Alhamdulilah, kami Pengurus Yayasan dan Pengasuh Pesantren Tarbiyatun Nisaa Bogor, menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, atas kepercayaan Bapak/Ibu/Sdr/Sdri menitipkan hewan qurban kepada kami. Baik dalam bentuk fisik hewan qurban, maupun dalam bentuk  titipan uang. 

Syukur alhamdulilah, telah kami salurkan kembali kepada anak-anak yatim, para mustahiq, janda, jompo, para guru dan ustadz serta  kaum mustadh'afin, baik yang kami bina dan kelola, maupun anak-anak yatim yang dititipkan kepada lembaga kami. Hewan qurban terdiri dari:
  1. 2 ekor sapi
  2. 33 ekor kambing
Alhamdulilah, semuanya telah disalurkan kepada yang berhak, antara lain kepada:
  1. 250 anak yatim
  2. 225 janda jompo dan ibu-ibu Majelis Ta'lim

Untuk itu, secara khusus kami sampaikan ucapan terima kasih kepada:
  1. Kel. Ir. H. Wasidi Swastomo
  2. Orangtua dan Siswa/siswi SDIT Tarbiyatun Nisaa
  3. Orangtua dan Siswa/siswi RA/TKQ Tarbiyatun Nisaa
  4. H. Harry dan Hj. Weny (Neneng) binti Supan Kusumamihardja dkk
  5. Kel. Drs. H. Mustadi Anwar, Perum Yasmin Bogor
  6. Hj. Dini, IPB Bogor
  7. Kel. KH. E. Khaerul Yunus
  8. Ibu Tita, Bogor Baru
  9. Kel. Bapak H. Syakib Ali, Bogor Baru
  10. Kel. Yeti Rohaeti, Tarbiyatun Nisaa Bogor
  11. Kel. Ucu Sulastri, Tarbiyatun Nisaa Bogor
  12. Kel. Pengajian Ibu2 IPB Bogor Fak. Peternakan, Pajajaran Bogor
  13. Rumah Makan Gurih 7 Bogor
  14. Keluarga Bapak Aris Ahmad Jaya, Bogor
  15. Keluarga Bapak H. Bahrum, Tangerang
  16. Keluarga Mamah Ray/Tirza, Jasmin Bogor
  17. Keluarga Bapak Dr. Ir. H. Syarif Hidayat, IPB Bogor
  18. Keluarga Bapak Prof. Dr. Ir. H. AM. Saefuddin, Bogor
  19. Faya Widiy-Iswara, Bogor
  20. Keluarga ibu Hj. Nurul, Bogor
  21. Keluarga Ibu  Eka, Jakarta Timur
  22. Ibu Novita Sari, Bogor
  23. Aditya Fahmi, Tangerang 
  24. Keluarga Hj. Hafsah binti Abud Abdat, Empang Bogor
  25. Ibu Hanifa Rizali bin Hidayat Syarif, Bogor
  26. Ibu Hj. Titik, Balitnak IPB Bogor
  27. Hamba Allah lain, yang tidak mau disebutkan 

Mudah-mudahan hewan qurban yang telah diserahkan, diterima di sisi Allah SWT dan menjadi amal sholeh yang akan mendapatkan balasan berlipat ganda serta Allah SWT tambahkan keberkahan, kemurahan, kemudahan dan keberlimpahan. Tak lupa teriring doa dari kami
أجرك الله لك فيما أعطيت وبارك فيما أبقيت  وجعل الله لك طهورا
" Semoga Allah SWT membalas segala pemberian harta yang telah diberikan dan memberkahkan harta yang tersisakan. Dan semoga Allah SWT menjadikan kamu orang-orang yang bersih ".
Selengkapnya »»»

HAJI: IBADAH SARAT MAKNA

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Rabu, 24 September 2014, 01.57 Kategori: - Komentar: 0 komentar

Ibadah Haji 
Simbol Perjuangan Kemanusiaan 
Disamping sarat dengan rangkaian aturan rukun, syarat dan sunnah, sebagai bagian dari rukun Islam yang kelima, ternyata ibadah haji memiliki makna spiritual filosofis yang sangat tinggi dan istimewa. Ada dimensi Theologis, Humanis, Historis, Ideologis, Psikologis dan Sosiologis di dalamnya. Sungguh menarik membaca, menelaah dan menyimak pemikiran Ali Syari'ati, sosiolog sekaligus salah seorang tokoh intelektual di balik Revolusi Iran, dalam bukunya The Pilgrimage (Hajj), ternyata ibadah haji sarat dengan makna simbolisasi kemanusiaan, ketuhanan dan kehidupan itu sendiri. 


Haji, dalam pemahaman Syari’ati, merupakan kepulangan manusia kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak diserupai oleh sesuatu apapun. Kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta. Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini, tujuan manusia bukanlah untuk binasa, tetapi untuk 'berkembang'. Tujuan ini bukan untuk Allah, tetapi untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Makna-makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non-ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dalam bentuk nyata atau simbolik dan semuanya, pada akhirnya mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan universal.

Thawaf
Secara harfiah, Thawaf berarti berkeliling atau mengitari sesuatu. Dalam Haji ia berarti prosesi mengelilingi, mengitari bangunan kubus (Ka’bah) sebanyak tujuh kali. Ka’bah, menurut al Qur’an, adalah rumah paling awal dibangun manusia. Ia sengaja dibangun sebagai symbol pusat rotasi kehidupan semesta. Ka’bah bagai matahari yang menjadi pusat tata surya yang dikelilingi oleh planet-planet. Ini sesungguhnya hendak menggambarkan bahwa seluruh alam semesta berputar tak pernah berhenti mengitarinya, sambil menyenandungkan pujian dan memahasucikan Allah, Penciptanya.
.يسبح له ما فى السموات وما فى الأرض 
Thawaf juga adalah simbol perjuangan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah, menyatukan langkah, pikiran dan hati manusia dalam nuansa hati yang sepenuhnya pasrah kepada dan menuju ke satu titik dari mana mereka berasal dan ke mana pula mereka akan kembali. Titik itu tidak lain adalah Allah. Dia adalah pusat Eksisensi, kepada siapa seluruh alam semesta, termasuk manusia harus mengabdi dan menghambakan diri, karena Dialah Penciptanya. Perjuangan hidup manusia seharusnya memang diarahkan dalam kerangka ini dan bukan ke arah dan dalam kerangka yang lain. “Siapa yang mencari cara hidup selain menundukkan dan memasrahkan diri kepada Tuhan, maka tidak akan diterima, dan dia akan sengsara di hari kemudian”.

Sa'i
Sa’i secara literal berarti berusaha dan bekerja keras. Dalam ibadah Haji ia berarti prosesi berjalan kaki dan kadang-kadang berlari kecil, dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Ini adalah simbol perjuangan manusia untuk mempertahankan eksistensi (hidup) yang tak pernah berhenti. Ya, perjuangan untuk survive. Tujuh seringkali adalah angka kiasan untuk arti banyak dan tak terbatasi. Simbol ini pada mulanya ditampilkan melalui kisah seorang perempuan bernama Siti Hajar. Ia mencari air di lembah yang tandus untuk Ismail, seorang bayi yang baru saja dilahirkannya. Bayi ini anak hasil perkawinannya dengan Nabi Ibrahim. Kelahirannya sudah lama diidamkan ayahnya. Sayang begitu lahir, atas perintah Allah, Ibrahim harus meninggalkan sang anak dan ibunya. Ibrahim ke Palestina. Di tanah yang tandus, kering kerontang, tanpa tumbuhan itu, kedua anak manusia yang lemah itu harus berjuang untuk hidup. Sesuatu yang dicari sang ibu adalah air, karena air adalah sumber utama kehidupan, sekaligus kesuburan bagi manusia dan alam. Allah mengatakan:“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu”(QS.Al Anbiya,30). Tuhan lalu menganugerahinya air Zam-zam. Ada bilang “Tham-Tham” (Tha’am=makanan) .

Menarik sekali untuk diperhatikan, mengapa Tuhan memilih Hajar sebagai simbol.  Hajar diindentifikasi dengan sejumlah identitas sosio-kultural-politik. Hajar adalah perempuan, berkulit hitam, budak dan berkasta (kelas) rendah. Seluruh identitasnya adalah rendah dalam pandangan masyarakatnya ketika itu. Akan tetapi ia adalah seorang perempuan yang bertanggungjawab. Ali Syari’ati mengatakan: “Ia seorang ibu yang mencinta, sendirian, mengelana, mencari dan menanggungkan penderitaan dan kekhawatiran, tanpa pembela dan tempat berteduh, terlunta-lunta, terasing dari masyarakatnya, tidak mempunyai kelas, tidak mempunyai ras dan tidak berdaya. Ia seorang yang kesepian, seorang korban seorang asing yang terbuang dan dibenci”.(Ali Syari’ati, Haji, hlm.47)

Melalui Hajar, Tuhan tengah memperlihatkan pembelaan dan perhatian-Nya kepada nya justeru manakala masyarakat manusia mencampakkannya hanya karena jenis kelaminnya yang perempuan. Tuhan juga membelanya karena dia dilekati identitas-identias sosial yang juga sering dipandang rendah, kelasi dua, tak berharga, oleh masyarakatnya. Tetapi tidak bagi Tuhan. Dia justeru menghargainya. Melalui Siti Hajar, Tuhan sedang menunjukkan bahwa manusia adalah sama di hadapan-Nya, dan harus dihormati, apapun jenis kelamin dan apapun identitas sosialnya. Allah menyatakan :”Dan Sungguh, Kami (Allah), memuliakan Anak-anak Adam”.

Yang menarik lagi adalah bahwa Siti Hajar, isteri nabi Ibrahim, bapak para Nabi itu, sungguh, tidak berjuang hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seorang anak manusia yang tidak berdaya, seorang bayi, yang kelak menjadi Nabi dan utusan Tuhan dan demi keluarganya.

Maha Suci dan Maha Agung Allah, sangat menakjubkan, karena sampai hari ini air zam-zam terus mengalir deras, tanpa pernah kering sampai hari ini. Ia adalah air yang bersih dan jernih. Bermiliar orang dari seluruh dunia telah meminumnya. Zam-zam melambangkan sumber kehidupan yang bersih, sehat dan halal. Ini sesungguhnya mengarahkan manusia agar mencari sumber kehidupan yang bersih dan halal. “Tuhan adalah Maha Bersih dan hanya merestui makanan yang bersih (halal)”, kata Nabi.

Wuquf 'Arafah
Wuquf di Arafah. Makna hafriyahnya adalah berhenti, berdiam diri sejenak di area tanah yang maha luas dan kering, di Arafah, yang konon, di situ tempat bertemunya kembali nabi Adam dan Siti Hawa. Dalam ibadah haji Wuquf berarti berada di Arafat untuk berizikir, berdoa dan berkontempelasi. Ini adalah kegiatan yang paling utama. “Al Hajj Arafah”,  kata Nabi. Begitu utamanya sehingga para jamaah yang tidak sempat berada di tempat ini, belum dianggap telah melaksanakan haji. Dia harus mengulangi hajinya pada kesempatan yang lain.

Prosesi ini merupakan contoh atau gambaran keberadaan manusia yang dicita-citakan Allah. Di tempat ini semua manusia dari berbagai pelosok dunia dengan berbagai bahasa, suku, warna kulit, tradisi, aliran keagamaan, kebangsaan, jabatan, pangkat dan lain-lain bersatu dan bersama-sama menghadap Allah sebagai Penguasa alam semesta Satu-satunya. Kedudukan mereka di hadapan Allah adalah sama.Orang yang paling dimuliakan dan dihargai Allah adalah orang yang paling taqwa, orang yang paling ikhlas mengesakan Allah dan paling banyak amal baiknya.

Arafah juga merupakan gambaran di dunia bagaimana kelak di hari kiamat semua manusia akan dikumpulkan dan menunggu keputusan Allah akan nasib sesudahnya, apakah akan dimasukkan ke dalam surga atau ke neraka. Sama seperti di tempat ini, semua manusia di padang Mahshyar kelak, dalam keadaan tanpa membawa apa-apa dan hanya akan membawa iman dan amalnya masing-masing sekaligus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah swt. Di Mahsyar kelak, tidak ada lagi harta, kekuasaan,kekerabatan, pertemanan dan keluarga yang bisa menolong atau membantunya. Allah berfirman :

يوم ما لا ينفع مال ولا بنون الا من اتى الله بقلب سليم
 وأزلفت الجنة للمتقين وبرزت الجحيم للغاوين

"Hari di mana harta dan anak-anak tak akan berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Dan di hari itu didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertaqwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka kepada orang- orang yang sesat).(Q.S.al Syu’ara,[26:88-89).

Deklarasi Kemanusiaan Universal
Di Arafah, 15 abad yang lalu, Nabi besar Muhammad saw, menyampaikan pidato sebagai pesan terakhirnya yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Pidato Nabi yang disampaikannya di atas untanya tersebut, dihadiri oleh sekitar seratus ribu orang. Inilah isi  pidato tersebut:

“Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak tahu apakah aku dapat menjumpaimu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini.

“Wahai manusia. Sesungguhnya darah kamu dan harta kekayaan kamu merupakan kemuliaan bagi kamu sekalian, sebagaimana mulianya hari ini di bulan yang mulia ini, di negeri yang mulia ini. Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak berlaku lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan (seperti pembunuhan, dendam, dan lain-lain) yang telah terjadi di masa jahiliyah, semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi.

“Wahai manusia. Aku berwasiat kepada kalian, perlakukanlah perempuan dengan baik. Kalian sering memperlakukan mereka seperti tawanan. Kalian tidak berhak memperlakukan mereka kecuali dengan baik (kesantunan)”.

“Wahai manusia, aku berwasiat kepadamu, perlakukan isteri-isterimu dengan baik. Kalian telah mengambilnya sebagai pendamping hidupmu berdasarkan amanat Allah, dan kalian dihalalkan berhubungan suami-isteri berdasarkan sebuah komitmen untuk kesetiaan yang kokoh”.

“Wahai manusia. Sesungguhnya setan itu telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia di negeri ini, akan tetapi setan itu masih terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain. Setan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik”.

“Perhatikanlah perkataanku ini. Sesungguhnya aku telah menyampaikannya…”Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah (Al Quran) dan Sunnah nabi-Nya (Al-Hadits)

“Wahai manusia. Dengarkanlah dan ta’atlah kamu kepada pemimpin kamu , walaupun kamu dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari negeri Habsyah (Etiopia) yang berhidung pesek, selama dia tetap menjalankan ajaran Kitabullah (Al Quran ) kepada kalian semua”.

“Lakukanlah sikap yang baik terhadap hamba sahaya. Berikanlah makan kepada mereka dengan apa yang kamu makan dan berikanlah pakaian kepada mereka dengan pakaian yang kamu pakai. Jika mereka melakukan sesuatu kesalahan yang tidak dapat kamu ma’afkan, maka juallah hamba sahaya tersebut dan janganlah kamu menyiksa mereka”.

“Wahai manusia. Dengarkanlah kata-kataku ini dan perhatikanlah dengan sungguh-sungguh. Ketahuilah, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan semua kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan kerelaan hati. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri”.

“Ya  Allah, sudahkah aku menyampaikan pesan ini kepada mereka? Kamu sekalian akan menemui Allah, maka setelah kepergianku nanti janganlah kamu menjadi sesat seperti sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain (berkhianat(

“Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah ini menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir. Acapkali orang yang mendengar berita tentang khutbah ini di kemudian hari lebih memahami daripada mereka yang mendengar langsung pada hari ini”.

“Kalau kamu semua nanti akan ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan? Semua yang hadir menjawab: Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang kerasulanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat. Sambil menunjuk ke langit, Nabi Muhammad saw kemudian bersabda: ” Ya Allah, saksikanlah pernyataan kesaksian mereka ini..Ya Allah, Lihatlah, mereka telah menyatakan itu. Ya Allah, saksikanlah pernyataan mereka ini..Ya Allah, saksikanlah pernyatan mereka ini.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Melempar Jumroh
Jumrah adalah melempar batu di tiga tempat di Mina, masing-masing tujuh kali. Pada tanggal 10 zhul Hijjah para haji hanya dibolehkan melempar 7 batu di satu tempat saja, yang disebt Jumrah Aqabah/Kubra). Tanggal 11 dan 12 Zhulhijjah, mereka wajib melakukannya di tiga tempat: Ula, Wusta dan Aqabah.

Jumrah adalah simbol perjuangan manusia untuk membersihkan hati dengan membuang dan melemparkannya jauh-jauh kecenderungan-kecenderungan egoistik yang seringkali menyesatkan bahkan menyengsarakan manusia yang lain. Ia sering digambarkan bagai mengusir setan, karena makhluk inilah punya karekter yang selalu ingin menyesatkan manusia. Angka Tujuh menunjukkan sekali lagi bahwa perjuangan ini tidak boleh berhenti. Ini karena dalam diri manusia ada kecenderungan melampiaskan nafsunya secara tak terkendali dan acapkali diarahkan untk menghancurkan kemanusiaan. Allah menyatakan : “Sesungguhnya hawa nafsu selalu menggerakkan manusia ke arah tindakan-tindakan yang buruk”. (QS.Yusuf,53)

Qurban
Terakhir adalah Qurban. Secara harfiah ia berarti dekat atau mendekatan diri. Dalam Haji ia berarti mendekatkan diri kepada Allah, melalui penyembelihan ternak. Memenuhi seruan Tuhan dengan cara menyembelih hewan pada peristiwa ini adalah salah satu bentuk ketaqwaan kepada-Nya. Al Qur-an menyebutkan : “ dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagai bagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak dari hal itu. Dan daging-daging unta dan darahnya sama sekali tidak akan dapat mencapai Tuhan. Tetapi ketaqwaan kamulah yang dapat mencapainya”.(QS.Al Hajj, 22 : 36-37)

Ia adalah simbol perjuangan manusia mewujudkan solidaritas sosial-ekonomi demi kesejahteraan bersama. Allah menyatakan : “Kemudian bila (hewan itu) telah roboh, maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan keberadaannya (kemiskinannya) dan orang yang minta-minta”. Seorang penafsir modern Rasyid Ridha, seorang intelektual muslim Suriah, menyatakan, bahwa ibadah qurban melambangkan perjuangan kebenaran yang menuntut tingkat kesabaran, ketabahan dan pengorbanan yang tinggi”.  Pandangan ini mengajak kita untuk menaruh perhatian yang tinggi kepada dimensi moral dan perjuangan kemanusiaan ini. Dan semua harus terus diperjuangkan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan sosial. Kepemihakan Islam terhadap komunitas manusia yang miskin atau dimiskinkan oleh struktur sosialnya merupakan komitmen utama Islam. Menyembelih hewan adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang menyesatkan dan yang seringkali tidak peka dan tak peduli terhadap penderitaan orang lain.
Wallahu A'lam bisshowwab...
Referensi: Dari berbagai sumber
AJAKAN
Seperti biasa, menjelang Hari Raya Qurban 1435 H, Yayasan Wakaf Tarbiyatun Nisaa Bogor, kembali menerima, menghimpun dan menyalurkan hewan qurban kepada yang mereka berhak. Kami tetap masih membuka kesempatan seluas-luasnya, bagi yang mau berqurban di Tarbiyatun Nisaa, baik perorangan maupun kolektif, semua akan kami terima.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah qurban Bapak/Ibu/Sdr/Sdri dan kita semua, dan mudah-mudahan hewan yang diqurbankan, menjadi kendaraan yang bisa menghantarkan cepat menuju surga Nya. Amien Ya Rabbal 'Alamien...
Selengkapnya »»»

INDAHNYA BERBAGI DI BULAN SUCI

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Minggu, 27 Juli 2014, 20.23 Kategori: - Komentar: 1 komentar

RASA SYUKUR YANG TAK TERUKUR
Alhamdulilah, berkat rahmat, hidayat dan berkah Allah SWT, serta tak ketinggalan bantuan, dukungan dana dan doa dari para donatur, baik perorangan maupun lembaga (YBM BRI Jakarta, Bank Amanah Umah Bogor, Lajnah Al Khoiriyah Jakarta, Telkom), para simpatisan, para orangtua, siswa/siswi, para guru RA/TKQ, SDIT, SMP, TKQ/TPQ dan mahasiswi PGTKA, serta seluruh Pengurus Yayasan Wakaf Tarbiyatun Nisaa, telah sukses menyelenggarakan ragam kegiatan SYI'AR RAMADHAN CERIA DI TARBIYATUN NISAA 1435 H.

Untuk itu, kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada berbagai pihak yang telah ikut membantu, baik berupa materi, tenaga, doa dan yang lainnya, semoga Allah SWT menerima amal ibadah Shaum kita, serta menganugerahkan hidup yang lebih mudah, murah, berlimpah dan penuh berkah. Amieen Ya Rabbal 'Alaminnn.....

BAZAR BAJU LAYAK PAKAI
Diadakan untuk mengawali kegiatan Ramadhan. Dilaksanakan oleh para siswa-siswi SDIT Tarbiyatun Nisaa Bogor. Menghimpun dan mengumpulkan baju-baju, sendal, sepatu, celana yang masih layak pakai. Dijual murah untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat tidak mampu di sekitar pesantren. Adapun uang yang terkumpul dari hasil penjualan, disumbangkan seluruhnya kepada anak-anak yatim dan tidak mampu, baik yang ada di Pesantren Tarbiyatun Nisaa maupun pesantren yatim di luar.

 

SILATURRAHMI AKBAR SEKALIGUS BUKA SHAUM BERSAMA PARA KYAI, USTAD, MUALIM, TOKOH MASYARAKAT DAN TOKOH PEMUDA
Mengawali kegiatan awal Ramadhan, diadakan silaturahmi dan pengajian Akbar, mengundang para kyai, mualim, ustadz/dzah, tokoh masyarakat dan pemuda. Dilanjutkan dengan acara buka shaum bersama. Alhamdulilah jama'ah yang hadir lk. 1050 orang, kaum bapak dan ibu-ibu.









Santunan Janda, Jompo dan Mustadh'afin
Adalah Ny. Hj. Deswati Lubis, salah seorang donatur tetap yang rutin tiap Ramadhan, sejak tahun 1992, selalu berbagi rizki dengan para Janda, Jompo dan Mustadh'afin yang ada di lingkungan Tarbiyatun Nisaa Bogor. Lk. 330 orang mendapat santunan. Semoga amal baik dan shadaqoh yang diberikannya, menambah berkah dan mengalirnya rizki yang Allah berikan kepada Ibu Hj. Deswati beserta keluarganya. Amiennn....  







Santunan Anak Yatim
Kegiatan rutin dilakukan di setiap Ramadhan. Lk. 325 anak yatim, yang diasuh dan dibina oleh Pesantren Tarbiyatun Nisaa, mendapat santunan Ramadhan berupa bingkisan dan sekedar uang. Adapun dana santunan, terkumpul dari para donatur yang selama ini setia membantu, maupun dari hasil pengumpulan dana dari para orangtua siswa/siswi RA/TKQ, SDIT dan SMP Boarding School Tarbiyatun Nisaa. 









Ta'zil Jama'i (Buka Shaum Bersama)
Suasana Ramadhan pun semakin ceria dengan kegiatan buka bersama bersama anak-anak yatim dan tidak mampu. Dana kegiatan ini, sebagian berasal dari sumbangan para orangtua siswa, sebagian lain dari para donatur dan simpatisan Yayasan. Alhamdulilah, sukses dilaksanakan sebanyak 3 kali.















Pengajian Muallimin dan Kaum Ibu
Mengawali kegiatan Ramadhan dibuka dengan pengajian bersama untuk para muallimin (kaum Bapak) dengan kaum ibu. Alhamdulilah, hadir memberikan taushiyah, antara lain Prof. Dr. KH. Didin Hafidudin, M.S, H.E. Khaerul Yunus dan H. Yan Hasanudin Malik. Diikuti lk. 179 jama'ah, yang berasal dari jama'ah Mesjid sekitar Pesantren. 



PESANTREN KILAT KHUSUS YATIM 
DAN TIDAK MAMPU
Kegiatan ini dilaksanakan selama 6 hari. Diikuti lebih kurang 300 anak yatim dan tidak mampu yang ada di bawah bimbingan pesantren Tarbiyatun Nisaa. Materi pesantren kilat terdiri dari: Praktik Ibadah, Akhlak, Baca Tulis Al Qur'an, Doa-doa harian dan motivasi anak.









Riyadhoh Ritual Spiritual
Kegiatan ini berlangsung selama Ramadhan. Dari mulai Qiyamul Lail (Sholat Tahajud berjama'ah), Tadarus Al Qur'an, ceramah, praktik ibadah, sampai dalam bentuk kontemplasi spiritual, penyadaran tentang kesejatian diri manusia. Dilakukan secara terprogram, baik untuk anak-anak yatim binaan Tarbiyatun Nisaa, maupun para siswa/siswi RA/TKQ, SDIT, SMP, Mahasiswi PGTKA, selama rentang waktu belajar di sekolah.

 


Penutup
Demikianlah, sebagai bentuk tasyakur sekaligus laporan kepada para donatur, simpatisan, para orangtua, pengurus dan kaum muslimin umumnya. Mudah-mudahan ragam jenis kegiatan yang telah dilakukan, menjadi penambah semarak, kehangatan dan keberkahan Ramadhan. Sehingga, benar-benar memberikan manfaat dan keberkahan bagi yang menjalankan dan mensyiarkannya. Semoga kebaikan Ramadhan, akan tetap tertanam dan menjadi bagian dari kepribadian Muslim yang  Mukmin, Muhsin dan  Muttaqien, di sebelas bulan kemudian. Amien Ya Rabbal 'Alamin....
Selengkapnya »»»