MANUSIA LANGIT

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Senin, 24 Maret 2014, 11.18 Kategori: - Komentar: 0 komentar


Serial Kajian Psikologi Qur’an
“MANUSIA LANGIT”
Oleh Iyus Khaerunnas Malik
 (Wakil Ketua Yayasan Wakaf Tarbiyatun Nisaa Bogor)


Dalam hikayat shufiyah dijelaskan, bahwa sejatinya manusia adalah mahluk “langit” yang diturunkan ke bumi bukan sekadar mahluk bumi yang nantinya kembali ke “langit”. Tiada manusia “diturunkan” ke bumi (baca: dilahirkan) kecuali untuk mengcopy-paste peradaban syurga (jannatunna’im) yang penuh kenikmatan, kebahagiaan, kesejahteraan; tanpa rasa takut, gelisah, stres dan khawatir sedikitpun menghadapi gejolak kehidupan. Memang manusia diberi akal dan qalbu oleh Allah yang berfungsi untuk merenung dan berpikir, berkontemplasi dan berzikir dalam menghadapi romantika kehidupan yang ragam tantangan (multy-challanges) dan keharusan manusia untuk menjawabnya (response) dengan baik, benar dan tepat. Namun menyerahkan sepenuhnya kepada akal dan qalbu tanpa bimbingan wahyu (pesan-pesan Illahiyah; kitab suci) yang terjadi adalah ngawurnya pemikiran, terseok-seoknya perasaan, berkutatnya prasangka dan suburnyasyahwat kehidupan (syahwat budaya, ekonomi, sosial danpolitik) sehingga mewujudkan kehidupan baku-hantam (ba’dhukum liba’dhin aduwwun: homo homini lupus; bellum omnium contra omne); saling sikut, saling jegal, saling hasud, saling khianat (kal an’am balhum adhol: seperti binatang bahkan lebih buruk dari binatang) dst, pada gilirannya kearifan, keharmonisan dan keberkahan pun sirna ilang kertaning bumi.

Menurut Imam Ghozali, menyitir hadis Rasulullah saw, kenapa hati manusia disebut qalbu, karena kondisinya yang selalu bolak-balik, naik turun dan tidak ajeg. Begitulah qalbu tanpa bimbingan agama akan berjalan tanpa arah. Perlu dikuatkan dengan iman, ilmu, amal, ibadah, zikir dan doa—seperti doa ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala dinika (Duhai Allah pembolak-balik hati manusia mantapkanlah hati ini {istiqomah} dalam agamaMu).

Pepatah sufistik mengatakan... dunia lebih membutuhkan satu orang suci ketimbang seribu orang nalar. Orang suci yang dengan sinar ruhaninya mampu memberi efek kesejukan, kedamaian dan keindahan. Sementara orang nalar (yang tercerabut dari akar spiritualitasnya) lebih banyak manabur keangkuhan, kesombongan, kebencian dan egoisme sektoral. Dunia di tangan orang suci menjadi indah dan harmonis meski berbeda-beda namun di tangan orang nalar menjadi babak belur dan penuh kesenjangan. Orang suci membawa pesan-pesan langit untuk menjadi hukum kehidupan sementara orang nalar—dengan keangkuhan berpikirnya—mengatur kehidupan dengan daya pikir yang dipenuhi sak wasangka dan syahwat semata sehingga menyuburkan fahisyah dan kezaliman di dalam sistem kehidupan.

Dalam sejarah agama... paham dan kepercayaan manusia tanpa bimbingan wahyu (hidayatul irsyad) melahirkan animisme, dinamisme, totemisme dan naturalisme. Kepercayaan tersebut menggambarkan bahwa benda-benda (batu, pohon, air, gunung dsb), hewan-hewan tertentu (harimau, elang, garuda, beruang, serigala, dsb) dan fenomena alam (angin topan, gempa bumi, badai, kebakaran, banjir, tsunami, dsb)  masing-masing memiliki kekuatan gaib, magis dan supranatural sehingga harus diberi sesaji dan disembah-sembah. Dari sini muncul istilah dewa air, dewa laut, dewa api, dewa angin, dewa bulan dan dewa matahari. Karena matahari punya unsur-unsur mysterium, tremendum et fascinans (istimewa)—menurut Rudolf Otto, seorang sosiolog agama, makaiadijadikan sebagai dewa tertinggi dengan aneka sebutan seperti Ra, Zeus dan Indra. 

Demikian juga dalam kehidupan sosial,  bertumbuhnya sosialisme, kolektifisme, kapitalisme, skeptisisme, agnotisisme, liberalisme dst, pada gilirannya memunculkan ketidak-adilan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara karena berbasis pada siapa yang kuat itu yang menang (maafseperti dalam arena pileg dan pilpres kita sekarang terkadang siapa yang bermodal kuat (potensial sebagai) pemenang(modal duit, modal media, modal survey—mungkin juga modal manipulasi data, dsb).  Paham dan kepercayaan ini diluruskan oleh wahyu dengan cara diutusnya para Nabi dan Rasul—menurut hadis riwayat Imam Ahmad, jumlah Nabi mencapai 124 ribu Nabi dan Rasul mencapai 315 Rasul yang diutus ke seluruh pelosok bumi (QS 16 : 36), dan ditutup dengan kehadiran NabiMuhammad saw sebagai Khotamun Nabiyin (penutup para Nabi). Perhatikan ungkapan hadis berikut ini:

“perumpamaanku dengan para nabi adalah seperti perumpamaan seseorang yang membangun sebuah rumah. Dia menata dengan bagus dan sempurna. Kecuali masih ada satu bata. Banyak orang masuk ke dalam bangunan tersebut dan mengaguminya seraya berkata: kalau seandainya bukan karena tempat bata itu (masih kosong), maka akan jauh lebih bagus. Selanjutnya Rasulullah saw. Bersabda: Aku adalah yang (diibaratkan) sebagai bata tersebut. Aku datang sekaligus sebagai penutup para nabi.” (HR Jabir r.a. Kitab Shahih Muslim : 4240)

Siapa “Manusia Langit”

Istilah “manusia langit”—disamping istilah yang sangat sufistik, ternyata diinspirasi QS Al-A’raf {7} : 172... Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak cucu Adam dari sulbi mereka kemudian Dia meminta persaksian mereka atas diri mereka sendiri (dan berfirman) ‘Bukankah Aku ini Robb kalian?’ Mereka semua menjawab, ya benar, kami semua bersaksi (bahwa Engkau adalah Robb kami). Beberapa kitab tafsir menyebut perjanjian primordial itu terjadi di alam ruh (tempat Adam bermula) sebelum ruh  ditiupkan ke dalam jasad (diturunkan ke bumi). Sebagian menyebut—termasuk dalam kajian tashawuf modern (Agus Mustofa 2003), bahwa akhirat itu sudah ada dan dunia ini bagian kecil dari akhirat (perhatikan QS 3 : 133) bahwa syurga itu seluas langit dan bumi. Luasnya langit dan bumi menurut ilmuwan antariksa berdiameter 30 milyar tahun cahaya. Sederhananya bintang yang paling jauh baru sampai cahayanya ke bumi pada kurun 30 milyar tahun cahaya. Itulah (kurang lebihnya) luas alam akhirat (?).

Perjanjian primordial itu terjadi di alam tersebut. Dengan demikian “manusia langit” adalah manusia fitrah (baca: suci) yang disabdakan oleh Nabi saw,bahwa tiap-tiap anak diahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka (peranan) kedua orangtuanyalah yang menjadikan mereka yahudi, nashroni atau majusi (HR Buchari).  Jadi ruh itu suci dan harus terus dirawat kesuciannya dengan buku panduanPenciptanya yaituAl-Qur’an melalui uswah hasanahRasulullah saw. Ibarat kendaraan bermotor sebutlah yamaha—cara merawat mesin,juga saat rusak—haruslah berdasarkan buku panduanpraktis produk yamaha. Kalau menggunakan buku lain, suzuki atau honda, maka alamat rusaklah motor tersebut.

Dengan demikian “manusia langit” adalah ungkapan majaz (simbolik) mengenai sikap dan perilaku yang Islami; sesuai dengan fitrahnya; sejalan dan selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Perhatikan berikut ini... Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), yaitufitrah (agama) Allah yang telah Dia ciptakan manusia (selaras) atasnya. Tiada perubahan bagi ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum {30} : 30). Dengan kata laindinul Islam adalah dinul fitrah, dan manusia beriman kepada dinul fitrah disebut sebagai manusia fitrah sama dengan (=) manusia suci.

“Manusia Nalar”

Manusia punya akal dan qalbu sebagai alat untuk merenung dan berpikir. Kalau akal digunakan untuk berpikir analitik, maka qalbu (dengan unsur-unsur di dalamnya seperti lubb, shodr dan fu’ad) digunakan untuk berpikir kontemplatif. Berpikir analitik didasari hal-hal empirik (eksperimen, uji validitasdata dan fakta). Berpikir kontemplatif didasari hal-hal subyektif (perenungan intrinksik {ke dalam}, doa, zikir, ilham, firasat, intuisi, ramalan dst). Keduanya harus saling melengkapi karena masing-masing ada kurang dan lebihnya. Contoh, seorang cenayang (semacam paranormal) mendapat firasat (intuisi) bahwa jatuhnya pesawat MH370 ada di lepas pantai lautan hindia. Kebenaran intuisi  ini harus divalidasi dengan pelacakan  empirik ke lapangan. Jika tidak, jadinya sekadar mengawangatauangin lalusaja. Anehnya di negeri ini hal-hal yang bersifat kontemplatif (perenungan subyektif: ramalan) kadang diyakini kebenarannya tanpa uji validasi ke lapangan. Media cetak, elektronik dan audio-visual ramai memberitakan paranormal laku keras (bak kacang goreng) didatangi para caleg dan capres meminta doadanpetunjuk agarsukses dalam pencalegan dan pencapresannya. Mereka ada yang mengidentikkan dirinya sebagai dukun, orang pintar, titisan pajajaran; majapahit, dsb—bahkan tak sedikit—mengklaim sebagai ustad, kyai atau ulama dengan segala atribut kebesarannya.

Dalam sejarah diungkapkan, ketika Portugis menyerang Nusantara dengan kekuatan senjata meriam. Jelas meriam adalah senjata jarak jauh yang digunakan pada saat perang. Namun di Nusantara ada sebagian orang memperlakukan meriam sebagai senjata magis yang wajib dimandikan tiap malam jum’at kliwon dengan kembang tujuh rupa. Termasuk terhadap keris, kujang, badik, clurit dsb—seolah dengan begitu, Portugis dan Belanda jadi takut. Hasilnya 350 tahun kita dijajah (lebih kurang sepuluh generasi); waktu yang tidak sebentar.

Walhasil Barat yang bercirikan “rasionalitas angkuh” dengan persenjataan canggih (masa itu) dapat menaklukkan negeri-negerimuslim khususnya di wilayah Asia Tenggara. Akhirnya negeri-negeri jajahan dipreteli satu persatu dan dibagi-bagi (persis nasi tumpeng) untuk Inggris, Belanda, Amerika dan Portugis.Sementara sebagian penduduk negeri-negeri jajahan mengidapimperiority complex dan minder wardig (sindrom rendah diri) sehingga melahirkan generasi baru yang western minded-western oriented, merasa diri terhormat dan mulia jikalau mengekor ke Barat baik dalam pikiran maupun perilaku, secara lebih luas dalam sistem sosial, ekonomi, politik dan hukum. Padahal Barat sekarang mengalami “sakit-sakitan” dan sebagian sudah sakarotul maut akibat kehidupan mereka yang sekular, liberal dan individualis—sebagai hasil daricara berpikir yang memberhalakan nalar-rasionalitas tadi—yangtercerabut dari akar spiritualitasnya.

Kritik terhadap Barat sudah lama menggema seperti Maurice Bucaielle, Roger geraudy, Jefry Langdan John Naisbit untuk menyebut beberapa nama. Oleh karenanya pada dekade 90-an, masyarakat Barat mulai menerima “kearifan Timur” meski tetap memusuhi Islam—sebagaimana tulisanSamuel P Huntington (penasihat Pentagon), dalam bukunya Who Are We? (2004): Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS—dan sebelumnya dalam The Clash of Civilization (1996), “Bagi Barat, yang menjadi musuh utama bukanlah fundamentalisme Islam, tapi Islam itu sendiri.”

Ironinya makin Islam dimusuhi dan difitnah dengan kejimakin banyak masyarakat Barat yang masuk Islam, di Inggris, Prancis dan Amerika—untuk menyebut tiga negara, jumlah muslimnya  mencapai 20 hingga 50% lebih—sementara agama kristen dengan gerejanya makin sepi dan ditinggalkan. Wajar kalau seorang pakarsejarah, Emile Dermenghem (penulis The Life of Mahomet), menyebut Islam sebagai agama yang paling layakhidup di masadepandan di dunia modern.

Integrasi “Manusia Langit” dan “Manusia Nalar”

Indonesia membutuhkan “manusia langit” dan “manusia nalar” sekaligus. Namun manusia nalar yang berbasis pada iman dan taqwa, sehingga nalar yang dikembangkan berorientasi pada pembangunan peradaban syurga di dunia; terwujudnyaperasaan senang,  bahagia, sejahtera lahir dan batin; tiada rasa takut, gelisah, stres dan khawatir menghadapi perubahan zaman. Secara paradigmatik integrasi keduanya bermula dari perpaduan akal dan qalbu yang saling mengisi baiksecaraanalitik-rasionalatau perenungan kontemplatifnya sehingga padasaat melakonisatuperbuatan ukurannya tak sebatas “bisa dan tidak bisa”, tapi“boleh dan tidak boleh”, jugapenjelasanhikmah di balikitu. Ungkapan “Bisa dan tidak bisa” adalah bahasa pikiran, “boleh dan tidak boleh”: bahasa hukum (fiqh), danhikmah di balikitu (yang dirasakan) secarabatinadalahbahasahati. Contoh, bisa tidak kita makan babi? Jawaban pikiran, bisa! Jawaban hukum, tidak boleh! Bisa tidak seorang muslim kumpul kebo? Termasuk kawin mut’ah?  Jawaban pikiran, bisa! Jawabanhukum, tidak boleh! Dsb. di sinilah pikiran dan agama saling mengupas kenapa agama melarang makan babi? Kumpul kebo? Kawin mut’ah? Jelas ada hikmah di balik itu dan bisa dijelaskan secara analitik-rasional-ilmiah—dan (dalambahasaqalbu) bisa dirasakan maslahat dan keberkahannya di dalam batin.

Perhatikanfirman Allah dalamQS. Al-A’raf : 96: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.
Dan ditandaskan dalam QS At-Tholaq : 3:  “ Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiapsesuatu.”.

Menyatunya “Kepemimpinan Langit dan Kepemimpinan Nalar

Menyatunya “kepemimpinan langit” dan “kepemimpinan nalar” harus terjadi di negeri ini. Menurut para sejarawan, ekonom dan sesepuh NKRI, Indonesia sekarang telah menjadi negeri “tanggung” dan membingungkan, disebut negara agama bukan, negara sekular juga bukan, kesimpulannya negara “bukan-bukan”.  Jenis kelaminnya tidak jelas (bukan laki-laki bukan pula perempuan alias-maaf—banci!). Konstitusi kita menyebut negara pancasila dimana sila pertamanya “keTuhanan Yang MahaEsa” namun militansi kepada Tuhan dikebiri; umat Islam meminta hak menjalankan agamanya secara kaafah difitnah teroris dan dianggap musuh pancasila dan musuh bhinekatunggalika. Kekayaan sumber daya alam yang seharusnya domain negara untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran dankesejahteraan rakyat malah diobral ke asing. Inilah gambaran nyata betapa pemimpin kita sudah tercerabut dari akar spiritualitasnya, pedoman hidup bangsanya, dan menggunakan konsep neo-liberalism. Sujudnya bukan lagi kepada Allah tapi kepada Obama, kiblatnya bukan lagi ke Ka’bah tapi ke  Amerika. Ini merupakan kelanjutan dari mental jajahan yang imperiority complex dan minder wardig—rendahdiri stadium 4!!!

Harus hadir model “kepemimpinan langit” dan “kepemimpinan nalar” sekaligus yang menyatu dalam figur calon pemimpin yang dengan sinar ruhaninya memberi efek kesejukan, kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan batin;  Akidahnya lurus; pembelaan kepada rakyatnya total dan keberaniannya untuk menegakkan amar makruf dan nahyi munkar, sekalipun harus melawan Barat,  tak perlu diragukan. Ia bukan pemimpin cengeng, bukan juga boneka yang dikendalikan oleh para kapitalis, borjuis, neo-liberalis… ia adalah manusia suci yang ingin mengembalikan negeri ini kepada khittahnya sebagai bangsa pejuang, besar dan religius.

Semoga model manusia langit dan manusia nalar menyatu di dalam diri kita, dan hadir pula pemimpin besar di negeri ini yang diridhoi Allah yang bobotnya seperti harapan kita di atas.

Wallahua’lambishawab.
Pengumuman
Sekolah Islam Terpadu (SIT) Tarbiyatun Nisaa Bogor, Sekolah berbasis karakter, kesadaran Lingkungan dan Akhlak Islami. Membuka pendaftaran siswa/siswi baru T.A. 2014/2015, untuk tingkat: RA/TKQ-SDIT-SMP-TKQ/TPQ. Dibuka sejak bulan Januari s/d Juni 2014. Dan menerima pendaftaran mahasiswi baru program 1 tahun terampil PGTKA (Pendidikan Guru TK. Al Qur'an). Dibuka sejak Maret s/d Juni  2014, Kuliah dimulai Bulan Juni  2014.
Selengkapnya »»»

DAHSYATNYA ISTIGHFAR (THE POWER OF ISTIGHFAR) BAG. 3

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Selasa, 11 Maret 2014, 08.41 Kategori: - Komentar: 0 komentar

Masih melanjutkan seri Dahsyatnya Istighfar (The Power of Istighfar), tulisan ini melengkapi tulisan sebelumnya, tentang dahsyat dan hebatnya istighfar, sebagai bagian tak terpisah dari ucapan, sikap dan perilaku keseharian muslim, dalam menghadapi ragam persoalan hidup, yang kian hari kian berat.  Kata istighfar mengandung dua makna: satu, sebagai wujud ekspresi taubat dan mohon ampun, kedua, sebagai bentuk optimisme dan harapan akan kebaikan hidup yang sedang dijalankan.  Berikut 25 keutamaan dan kehebatan istighfar, yaitu:
 
25 Dahsyatnya istighfar

1. Menggembirakan Allah
Rasulullah bersabda, “Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya, persis seperti gembiranya seseorang yang menemukan kembali ontanya yang telah hilang di padang pasir” (HR.Bukhari dan Muslim).

2. Dicintai Allah
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.al-Baqarah: 222). Rasulullah bersabda, “Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah. Orang yang bertaubat atas dosanya, bagaikan orang yang tidak berdosa.”(HR.Ibnu Majah).

3. Dosa-dosanya diampuni
Rasulullah bersabda, “Allah telah berkata,’Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengamouni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak dosanya).”(HR.Ibnu Majah, Tirmidzi).
Imam Qatadah berkata,”Al-Qur’an telah menunjukkan penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, dan obat kalian adalah istighfar.” (Kitab Ihya’Ulumiddin: 1/410).

4. Selamat dari api neraka
Hudzaifah pernah berkata, “Saya adalah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku, Wahai Rasulullah, aku takut kalau lidahku itu menyebabkan ku masuk neraka’. Rasulullah bersabda,’Dimana posisimu terhadap istighfar? Sesungguhnya, aku senantiasa beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari semalam’.” (HR.Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan dishahihkannya).

5. Mendapat balasan surga
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”(QS.Ali’Imran: 135-136).

6. Mengecewakan syetan
Sesungguhnya syetan telah berkata,”Demi kemulian-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam badan mereka (masih hidup). Maka Allah menimpalinya,”Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan (beristighfar) kepada-Ku.”(HR.Ahmad dan al-Hakim).

7. Membuat syetan putus asa
Ali bin Abi thalib pernah didatangi oleh seseorang,”Saya telah melakukan dosa’.'Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi’,kata Ali. Orang itu menjawab,’Saya telah bertaubat, tapi setelah itu saya berdosa lagi’. Ali berkata, ‘Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi’. Orang itu bertanya lagi,’Sampai kapan?’ Ali menjawab,’Sampai syetan berputus asa dan merasa rugi.”(Kitab Tanbihul Ghafilin: 73).

8. Meredam azab
Allah berfirman,”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”(QS.al-Anfal: 33).

9. Mengusir kesedihan
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

10. Melapangkan kesempitan
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

11. Melancarkan rizki
Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan rizkinya karena dosa yang dilakukannya.”(HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).
12. Membersihkan hati
Rasulullah bersabda,”Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka tercoretlah noda hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkannya dan beristighfar, maka bersihlah hatinya.”(HR.Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi).

13. Mengangkat derajatnya disurga
Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di surga. Hamba itu berkata,’Wahai Allah, dari mana saya dapat kemuliaan ini?’ Allah berkata,’Karena istighfar anakmu untukmu’.”(HR.Ahmad dengan sanad hasan).

14. Mengikut sunnah Rosulullah shallalhu ‘alaihi wasallam
Abu Hurairah berkata,”Saya telah mendengar Rasulullah bersabda,’Demi Allah, Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah (beristighfar) dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali’.”(HR.Bukhari).

15. Menjadi sebaik-baik orang yang bersalah
Rasulullah bersabda,”Setiap anak Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat.”(HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim).

16. Bersifat sebagai hamba Allah yang sejati
Allah berfirman,”Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo’a:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah), dan yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur.”(QS.Ali’Imran: 15-17).

17. Terhindar dari stampel kezhaliman
Allah berfirman,”…Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”(QS.al-Hujurat: 11).

18. Mudah mendapat anak
Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).

19. Mudah mendapatkan air hujan
Ibnu Shabih berkata,”Hasan al-Bashri pernah didatangi seseorang dan mengadu bahwa lahannya tandus, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain yang mengadu bahwa kebunnya kering, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain lagi yang mengadu bahwa ia belum punya anak, ia berkata,’Perbanyaklah istighfar’.(Kitab Fathul Bari: 11/98).

20. Bertambah kekuatannya
Allah berfirman,”Dan (dia berkata):”Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”(QS.Hud: 52).

21. Bertambah kesejahteraanya
Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”(QS.Nuh: 10-12).

22. Menjadi orang-orang yang beruntung
Allah berfirman,”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS.an-Nur: 31).
Aisyah berkata,”Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada setiap lembar catatan harian amal mereka.”(HR.Bukhari).

23. Keburukannya diganti dengan kebaikan
Allah berfirman,”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.al-Furqan: 70).
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”(QS.Hud: 114).

24. Bercitra sebagai orang mukmin
Rasulullah bersabda,”Tidak seorangpun dari umatku, yang apabila ia berbuat baik dan ia menyadari bahwa yang diperbuat adalah kebaikan, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan. Dan tidaklah ia melakukan suatu yang tercela, dan ia sadar sepenuhnya bahwa perbuatannya itu salah, lalu ia mohon ampun (beristighfar) kepada Allah, dan hatinya yakin bahwa tiada Tuhan yang bisa mengampuni kecuali Allah, maka dia adalah seorang Mukmin.”(HR.Ahmad).

25. Berkepribadian sebagai orang bijak
Seorang ulama berkata,”Tanda orang yang arif (bijak) itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristighfar.” (Kitab Tanbihul Ghafilin: 67).
Wallahu a’lam bish showab..
(artikel Islami/arrahmah.com)
Pengumuman
Sekolah Islam Terpadu (SIT) Tarbiyatun Nisaa Bogor, Sekolah berbasis karakter, kesadaran Lingkungan dan Akhlak Islami. Membuka pendaftaran siswa/siswi baru T.A. 2014/2015, untuk tingkat: RA/TKQ-SDIT-SMP-TKQ/TPQ. Dibuka sejak bulan Januari s/d Juni 2014. Dan menerima pendaftaran mahasiswi baru program 1 tahun terampil PGTKA (Pendidikan Guru TK. Al Qur'an). Dibuka sejak Maret s/d Juni  2014, Kuliah dimulai Bulan Juni  2014.
Selengkapnya »»»

DAHSYATNYA ISTIGHFAR (THE POWER OF ISTIGHFAR) BAG-2

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Minggu, 02 Maret 2014, 06.53 Kategori: - Komentar: 0 komentar

Menurut Al Qur'an, membaca Istighar merupakan salah satu satu sifat dari hamba Allah yang bertaqwa (QS Ali 'Imran : 133 - 135). Selain sebagai salah satu karakteristik dari orang bertaqwa, amalan ini sungguh istimewa. Dalil-dalil yang membahas mengenai istighfar menyebutkan betapa ia dapat menjadi solusi segala masalah. Artinya masalah apapun yang kita hadapi dan kita merasa berat menjalaninya dapat diatasi dengan satu solusi, yaitu istighfar. Adapun dasarnya adalah dari dalil-dalil berikut ini :

Rasulullah SAW bersabda,

"Barangsiapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan melapangkan setiap kesusahannya, memberi jalan keluar pada setiap kesukarannya, dan memberinya rezeki tanpa diduga-duga."  (HR. Abu Dawud dan Nasa'i)

Suatu hari Rasulullah SAW tengah berkumpul bersama sejumlah sahabatnya di masjid. Kemudian masuklah empat orang lelaki. Setiap dari mereka datang membawa masalah yang ingin disampaikan kepada Rasulullah SAW. Orang pertama mengeluh karena di daerahnya sudah lama tidak turun hujan. Rasulullah SAW menasehatinya,"Beristighfarlah". Orang kedua mengeluh karena sudah lama menikah tapi belum dikaruniai keturunan. Rasulullah SAW bersabda,"Beristighfarlah". Orang ketiga mengeluhkan kesulitan ekonominya. Rasulullah SAW lalu berkata,"Beristighfarlah". Orang keempat mengeluhkan tanah pertaniannya yang sudah tidak subur lagi. Lagi-lagi beliau SAW bersabda,"Beristighfarlah". Abu Hurairah yang saat itu ada bersama mereka terheran-heran, kemudian ia bertanya kepada Nabi,"Ya Rasulullah, mengapa masalah yang berbeda-beda tetapi penawarnya hanya satu?" Rasulullah SAW kemudian membaca surat Nuh 10 - 12 :


 "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dua hadis diatas cukuplah menjadi bukti yang menunjukkan bahwasanya istighfar adalah amalan yang sangat manjur untuk mengangkat setiap masalah dan segala kesulitan hidup. Berikutnya kita akan membahas keistimewaan amalan istighfar yang berkaitan dengan rezeki.

Istighfar akan memudahkan dan melapangkan rezeki.
Mengenai hal ini telah jelas disebutkan dalam al-Qur'an :

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai”. [QS 71 : 10-12]

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan,"Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa menaati-Nya, niscaya Dia akan membanyakkan rezeki kalian, menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan hewan ternak untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang didalamnya terdapat bermacam buah-buahan untuk kalian, serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian)."

Selain dalil dari al-Qur'an terdapat pula dalil yang bersumber dari Hadis. Diantara dalil-dalil yang bersumber dari Hadis adalah dalil berikut :

"Barangsiapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan melapangkan setiap kesusahannya, memberi jalan keluar pada setiap kesukarannya, dan memberinya rezeki tanpa diduga-duga."
(HR. Abu Dawud dan Nasa'i)

"Barangsiapa yang merasa rezekinya lambat atau tersendat-sendat, maka hendaknya Ia beristighfar kepada Allah."
(HR. Baihaqi dan Ar-Rabi'i)

Agar Istighfar Membuka Pintu Rezeki
Sebenarnya bagaimana cara beristighfar yang harus kita lakukan agar ia dapat membuahkan hasil : memudahkan rezeki dan membukakan jalan keluar setiap masalah dan kesulitan?

Jika kita menilik lagi kepada sabda Rasulullah SAW :

"Barangsiapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan melapangkan setiap kesusahannya, memberi jalan keluar pada setiap kesukarannya, dan memberinya rezeki tanpa diduga-duga."
(HR. Abu Dawud dan Nasa'i)

Maka kita akan mendapati ada kata kunci yang tersurat disana, yaitu kata "memperbanyak" atau dalam lafadz bahasa arab : "aktsara". Dalam riwayat lain disebutkan lafadz "lazima" atau melazimkan atau membiasakan. Jadi kuncinya ada pada memperbanyak, melazimkan, atau membiasakan istighfar. Maka dari itu Allah akan melapangkan setiap kesusahan, membukakan jalan keluar dan memberi kita rezeki yang tak terduga dengan jalan membiasakan istighfar.

Kata "memperbanyak" dan "membiasakan" berarti bukanlah jenis pekerjaan yang bisa membuahkan hasil dengan hanya sekali dua kali kerja. Ia adalah jenis pekerjaan yang baru dapat membuahkan hasil dengan cara dilakukan terus menerus, kontinu dan berkesinambungan. Oleh karena itu jika kita melakukan hanya sekali dua kali atau jika kita tidak berkesinambungan atau kumat-kumatan, sehari beristighfar besoknya ditinggalkan lalu besoknya lagi diamalkan lagi maka bisa jadi Allah menunda pertolongan-Nya, karena kita juga seenaknya sendiri dalam mengamalkannya. Untuk itu dibutuhkan tools lainnya sebagai penunjang keberhasilan istighfar kita, tools itu adalah keyakinan yang kuat, keikhlasan, kesungguhan, dan kesabaran. Kalau kita tidak yakin, maka kita pun juga tidak akan bersungguh-sungguh dalam menjalaninya, jika kita tidak bersungguh-sungguh maka sulit untuk ikhlas, jika kita tidak ikhlas maka kita tidak akan sabar, apabila kita tidak sabar, sudah barang tentu kita tidak akan sanggup membiasakan istighfar, dan sudah tentu Allah akan menunda pertolongan-Nya sampai kita bisa "memperbanyak" atau bisa "membiasakan".



Dalam hal pembiasaan istighfar ini sebenarnya sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dimana dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim didapati bahwasanya Rasulullah SAW setiap hari tidak pernah lupa beristighfar, dan dalam 1 hari beliau bisa beristighfar tidak kurang dari 70 kali, bahkan dalam suatu riwayat bisa sampai 100 kali.

Dalam hal ini ada salah seorang sahabat yang menghitung Rasulullah SAW mengucapkan lafadz "Robbighfirli watub 'alayya.." (Ya Allah ampunilah aku dan aku bertaubat kepada Mu..)  lebih dari 70 kali.

Cara beristighfar kepada Allah
Ada baiknya kita mendengarkan pendapat dari Imam Al-Ghazali dalam perkara ini. Imam Ghazali berkata,"Menurutku istighfar di lisan saja adalah merupakan kebaikan, karena gerakan lisan yang beristighfar masih lebih baik daripada seseorang yang gahibah atau berkata-kata yang tiada manfaatnya, ia juga lebih baik daripada lisannya diam. Namun ia akan kurang nilainya jika dibandingkan dengan amal hati."

Imam Ghazali juga berkata,"Yang termasuk taubatnya pendusta adalah istighfar yang hanya di lisan saja tetapi hatinya tidak ikut serta. Karena hatinya tidak berniat untuk memohon ampun."

Dalam hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

"Sesungguhnya doa yang paling utama adalah doa yang keluar dari hati yang bersungguh-sungguh dan tekun. Itulah doa yang didengar dan diijabah, walaupun doanya sedikit."
(HR. Al-Hakim)

Oleh karena itu saat kita beristighfar, kita tidak hanya melakukan dengan lisan semata, namun hati dan perbuatan kita juga kita ikut sertakan. Saat lisan kita memohon ampun kepada Allah dengan lafadz-lafadz istighfar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, hati kita menerjemahkan apa yang kita baca dan meresapi dengan sungguh-sungguh. Buat hati kita menyesali perbuatan dosa kita, dan adakan niat untuk berhenti dari dosa, lalu kita ganti dengan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan keridhoan Allah.

Istighfar yang dilakukan dengan hati, lisan dan perbuatan inilah yang paling baik. Maka dari itu hal inilah yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah.

Mereka yang sudah mendapatkan pertolongan Allah dengan Istighfar.

Dalam buku "At-Tadawi bil istighfar" halaman 52 Karya Hasan bin Ahmad Hammam, dikisahkan bahwa dengan istighfar dagangan akan menjadi laris.

Dalam kitab tersebut diceritakan "Seorang lelaki pergi ke pasar untuk menjual dagangannya. Waktu itu pasar penuh sesak dengan penjual dan pembeli. Dia duduk di tempat yang disiapkan untuk jualan dan menjajakan dagangannya. Waktu berlangsung lama tapi tak seorangpun tertarik dengan dagangannya. Orang-orang hanya melihat lalu pergi. Dia sangat membutuhkan uang sehingga mau tidak mau harus menjual barang dagangannya. Waktu sudah berjalan cukup lama namun tak seorangpun membeli dagangannya.

Dia merasa sempit dan berfikir keras apa yang arus dilakukan. Seketika dia ingat sebuah Hadis (Hadis keutamaan istighfar) yang pernah didengarnya dari imam masjid. Maka diapun mulai beristighfar dan terus beristighfar.

Dia bercerita, "Demi Allah, tatkala saya mulai beristighfar orang-orang mulai datang, yang ini ingin membeli yang lain juga ingin membeli, yang lain lagi menaikkan tawaran lebih tinggi, mereka berebut untuk membeli dagangan saya.

Aku pulang dengan membawa banyak uang, sementara air mataku menetes karena selama ini telah melalaikan barang yang sangat berharga. yakni istighfar maka lidahku tak henti-hentinya memuji alhamdu lillahi Rabbil Alaimin".

Diceritakan, seorang pria mendatangi Imam masjid Nabawi di kota Madinah, Arab Saudi. Pria tersebut menyampaikan keluhan kepada imam masjid bahwa ia telah beberapa tahun menikah namun belum juga dikaruniai keturunan oleh Allah SWT. Berbagai terapi medis telah dijalani bersama sang isteri, akan tetapi semua ikhtiar tersebut belum membuahkan hasil. Pria tersebut mengharapkan agar sang imam berkenan untuk mendoakannya agar Allah berkenan untuk mengkaruniai keturunan.



Sang imam pun bersedia untuk mendoakan pria tersebut. Namun imam juga meminta agar pria tersebut juga tetap berdoa serta rajin membaca istighfar. Pria itu pun menuruti nasehat sang imam. Kemudian pria tersebut semakin rajin berdoa dan membaca istighfar. Selang beberapa waktu pria tadi datang kembali menemui sang imam dengan wajah berseri-seri, ia menyampaikan terima kasih karena akhirnya isterinya telah positif hamil.

Suatu waktu, kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, Umar bin al-Khattab tak mau tinggal diam. Beliau berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ seperti yang direncanakan Umar pada awalnya melainkan beliau seorang diri hanya melafalkan kalimat-kalimat istighfar.

Namun ternyata Istighfar Umar bukan sembarang istighfar. Tapi istighfar yang penuh ijabah. Benar saja, tak lama kemudian, hujan deras membasahi tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung bertanya, “Bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan membacakan istighfar?”. Dengan enteng, Umar ra berujar, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit.

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, jika beliau sedang mendapat masalah yang cukup berat, solusinya adalah dengan memperbanyak istighfar. "Jika masalah yang saya hadapi mengalami kebuntuan (sulit menemukan solusinya), saya beristighfar kepada Allah sebanyak seribu kali. Allah pun memberi saya jalan keluarnya." Itulah pengakuan dari seorang ulama besar yang menjadi guru dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

Demikianlah bab istighfar sebagai amalan pembuka rezeki. Insya Allah pada postingan berikutnya masih akan membahas seputar amal-amal yang akan memudahkan datangnya rezeki yang halal dan berkah.

Semoga terinspirasi.
Pengumuman
Sekolah Islam Terpadu (SIT) Tarbiyatun Nisaa Bogor, Sekolah berbasis karakter, kesadaran Lingkungan dan Akhlak Islami. Membuka pendaftaran siswa/siswi baru T.A. 2014/2015, untuk tingkat: RA/TKQ-SDIT-SMP-TKQ/TPQ. Dibuka sejak bulan Januari s/d Juni 2014. Dan menerima pendaftaran mahasiswi baru program 1 tahun terampil PGTKA (Pendidikan Guru TK. Al Qur'an). Dibuka sejak Maret s/d Juni  2014, Kuliah dimulai Bulan Juni  2014.
Selengkapnya »»»

DAHSYATNYA ISTIGHFAR (THE POWER OF ISTIGHFAR)

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Selasa, 18 Februari 2014, 10.46 Kategori: - Komentar: 3 komentar

Walaupun banyak postingan sejenis, namun tidak ada salahnya untuk direpost kembali.Mengingat betapa penting, istimewa dan dahsyatnya Ucapan Istighfar. Ucapan sederhana, mudah dilantunkan, tetapi kalau diniati tulus, ikhlas, serta benar-benar berpasrah kepada Nya, maka ia akan menjadi ucapan pengubah dan perubah terhadap beragam kesulitan hidup yang dialami atau dihadapi seseorang. Berikut beberapa kisah yang berkaitan dengan DAHSYATNYA ISTIGHFAR. 

Ibnu Shubaih,  bercerita:
Seorang lelaki mengadukan musim paceklik kepada Imam Al-Hasan Al-Bashri, maka beliau berkata kepadanya: Beristighfarlah kepada Allah!
Sedangkan lelaki kedua mengeluhkan kefakiran kepada beliau, dan beliaupun menasehatinya: Bersitighfarlah kepada Allah!
Lalu orang ketiga datang kepada beliau seraya berkata: Tolong doakan saya, agar Allah mengkaruniakan anak kepada saya.
Dan beliaupun tetap menganjurkannya dengan berkata: Beristighfarlah kepada Allah!

Sampai kepada orang keempat yang mengadukan kekeringan kebunnya, beliau tetap tidak berubah dengan nasehatnya: Beristighfarlah kepada Allah!
Sehingga kamipun menanyakan hal itu kepada beliau (mengapa nasehatnya kepada semua dengan kepentingan yang berbeda-beda hanya istighfar saja?).


Beliau lalu menjawab: Aku justru tidak berkata apapun dari pendapatku sendiri. Melainkan Allah-lah Yang Berfirman dalam surah Nuh (yang artinya): “Maka aku (Nabi Nuh as.) katakan kepada mereka: ‘Beristighfarlah kepada Tuhanmu, – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – , niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak bagimu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS. Nuh: 10 – 12).
Rasulullah SAW. juga bersabda (yang artinya): “Barangsiapa tak henti beristighfar, niscaya Allah akan mengadakan baginya untuk setiap himpitan hidup solusi dan jalan keluar, untuk setiap kepedihan perlepasan dan kebebasan, serta memberinya rezeki secara tidak terduga” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra.).

Do’a Yang Selalu Terkabul

Dikisahkan bahwa, sekali waktu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bepergian untuk suatu keperluan sampai kemalaman di sebuah kampung. Karena tidak ingin merepotkan siapapun, beliaupun mampir ke sebuah masjid kecil untuk shalat sekaligus berniat bermalam di sana.

Seusai shalat dan ketika hendak merebahkan tubuh tua beliau, sekedar melepaskan sedikit kepenatan malam itu, tiba-tiba sang penjaga masjid datang dan melarang beliau tidur di dalamnya. Sang penjaga tidak mengetahui bahwa, yang dihadapainya adalah seorang ulama besar. Sementara Imam Ahmad juga tidak ingin memperkenalkan diri kepadanya. Beliau langsung keluar dan berpindah ke teras masjid dengan niat beristirahat disana. Namun sang penjaga tetap saja mengusir beliau secara kasar dan bahkan sampai menarik beliau ke jalanan.
Tapi taqdir Allah, tepat saat Imam Ahmad sedang kebingungan di jalan itu, melintaslah seseorang,  yang ternyata berprofesi sebagai pembuat dan penjual roti. Akhirnya dia menawari dan mengajak beliau untuk menginap di tempatnya, juga tanpa tahu bahwa, tamunya ini adalah Imam Ahmad bin Hambal.
Ketika sampai di rumahnya, sang lelaki baik hati itupun segera mempersiapkan tempat bermalam untuk Imam Ahmad dan mempersilahkan beliau agar langsung istirahat. Sedangkan dia sendiri justru mulai bekerja dengan menyiapkan bahan-bahan pembuatan roti yang akan dijualnya esok hari.
Ternyata Imam Ahmad tidak langsung tidur, melainkan malah memperhatikan segala gerak gerik sang pembuat roti yang menjamu beliau. Dan ada satu hal yang paling menarik perhatian beliau dari lelaki ini. Yakni ucapan dzikir dan doa istighfar yang terus meluncur dari mulutnya tanpa putus sejak awal ia mulai mengerjakan adonan rotinya.

Imam Ahmad merasa penasaran lalu bertanya: Sejak kapan kamu selalu beristighfar tanpa henti seperti ini? Ia menjawab: Sejak lama sekali. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi. Sang Imam melanjutkan pertanyaan beliau: Lalu apakah kamu bisa merasakan adanya hasil dan manfaat tertentu dari kebiasaan istighfarmu ini? Ya, tentu saja, jawab sang tukang roti dengan cepat dan penuh keyakinan. Apa itu, kalau boleh tahu?, tanya Imam Ahmad lagi.
Iapun menjelaskan seraya bertutur: Sejak merutinkan bacaan doa istighfar ini, saya merasa tidak ada satu doapun yang saya panjatkan untuk kebutuhan saya selama ini, melainkan selalu Allah kabulkan, kecuali satu doa saja yang masih belum terijabahi sampai detik ini?
Sang Imam semakin penasaran dan bertanya: Apa gerangan doa yang satu itu? Si lelaki saleh inipun melanjutkan jawabannya dan berkata: Ya, sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Allah untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau adalah Imam Ahmad bin Hambal!
Mendengar jawaban dan penjelasan terakhir ini, Imam Ahmad terhenyak dan langsung bangkit serta bertakbir: Allahu Akbar! Ketahuilah wahai Saudaraku bahwa, Allah telah mengabulkan doamu!
Gantian si pembuat roti yang kaget dan penasaran: Apa kata Bapak? Doaku telah dikabulkan? Bagaimana caranya? Dimana saya bisa menemui Sang Imam panutan saya itu?
Selanjutnya Imam Ahmad menjawab dengan tenang: Ya. Benar, Allah telah mengijabahi doamu. Ternyata semua yang aku alami hari ini, mulai dari kemalaman di kampungmu ini, diusir sang penjaga masjid, bertemu dengan kamu di jalanan, sampai menginap di rumahmu sekarang ini, rupanya itu semua hanya merupakan cara Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya yang saleh. Ya, orang yang sangat ingin kamu temui selama ini telah ada di rumahmu, dan bahkan di depanmu sekarang. Ketahuilah wahai lelaki saleh, aku adalah Ahmad bin Hambal…!
Subhanallah, tak terbayangkan, betapa bahagia dan sukacitanya sang tukang roti tersebut. Kini imam dan ulama besar yang selalu dicintai dan diimpikannya untuk bertemu, telahh da di depan matanya.
Rahimahumallahu rahmatan wasi’ah…!
Semoga Allah merahmati keduanya dengan rahmat yang seluas-luasnya…!

Bersambung ..................
Referensi: dari berbagai sumber online

Selengkapnya »»»

MANASIK HAJI CILIK, LUCU, UNIK MENGGELITIK

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Sabtu, 01 Februari 2014, 09.59 Kategori: - Komentar: 1 komentar

MAKNA IBADAH HAJI
Dari sekian banyak ibadah dalam rukun Islam, haji adalah puncak ibadah ritual yang sangat didambakan  bisa dilakukan setiap Muslim. Selain karena pahalanya yang sangat besar, orang-orang yang berhaji akan dianggap oleh Allah sebagai tamu-tamu-Nya. “Orang yang beribadah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah serta mengaruniakan  mereka ampunan.” Demikian kata sebuah hadis

Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata: “Ibadah haji mempunyai hikmah yang besar, mengandung rahasia yang tinggi dan tujuan yang mulia, berupa kebaikan duniawi dan ukhrawi. Sebagaimana yang dikandung firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: 

لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“Untuk menyaksikan segala yang bermanfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 28)

Haji merupakan momen pertemuan akbar bagi umat Islam seluruh dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala pertemukan mereka semua di waktu dan tempat yang sama. Sehingga terjalinlah suatu interaksi, kedekatan dan saling merasakan satu dengan sesamanya, yang dapat membuahkan kuatnya tali persatuan umat Islam, dan terwujudnya kemanfaatan bagi urusan agama dan dunia mereka. (Taudhihul Ahkam, juz 4 hal. 4)
Seseorang yang berupaya menggali rahasia di balik ibadah haji, maka dia akan memperoleh banyak pelajaran penting, baik yang berkaitan dengan keimanan, ibadah, muamalah, dan akhlak yang mulia. Di antara pelajaran tersebut adalah:
  1. Perwujudan tauhid yang murni dari noda-noda kesyirikan dalam hati sanubari, ketika para jamaah haji bertalbiyah.
  2. Pendidikan hati untuk senantiasa khusyu’, tawadhu’ dan penghambaan diri kepada Rabbul ‘Alamin, ketika melakukan thawaf, wukuf di Arafah, dan amalan haji lainnya.
  3. Pembersihan jiwa untuk senantiasa ikhlas dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika menyembelih hewan kurban di hari-hari haji.
  4. Ketulusan dalam menerima bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa diiringi rasa berat hati, ketika mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani.
  5. Tumbuhnya kebersamaan hati dan jiwa ketika berada di tengah-tengah saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia, dengan pakaian yang sama, berada di tempat yang sama, dan menunaikan amalan yang sama pula (haji).
Manasik Haji Cilik, Lucu, Unik
dan Menggelitik
Pada hari Rabu, 22 Januari 2014, di RA/TKQ Tarbiyatun  Nisaa diadakan kegiatan manasik haji melibatkan beberapa RA/TKQ di sekitar Tarbiyatun Nisaa. Semenjak kedatangan, penyambutan, istirahat, shalat dan ritual haji lainnya. Subhanallah,  walaupun cuaca mendung dan hujan tak berhenti, namun tidak menyurutkan semangat anak-anak dalam melakukan ritual ibadah haji. Ritual manasik ini, dibimbing langsung oleh KH. E. Khaerul Yunus, Hj. Ratna Wulan, serta didamping guru-guru RA/TKQ lainnya. Ini dia photo-photo mereka:














Pengumuman
Sekolah Islam Terpadu (SIT) Tarbiyatun Nisaa Bogor, Sekolah berbasis karakter, kesadaran Lingkungan dan Akhlak Islami. Membuka pendaftaran siswa/siswi baru T.A. 2014/2015, untuk tingkat: RA/TKQ-SDIT-SMP-TKQ/TPQ. Dibuka sejak bulan Januari s/d Juni 2012. Dan menerima pendaftaran mahasiswi baru program 1 tahun terampil PGTKA (Pendidikan Guru TK. Al Qur'an). Dibuka sejak Maret s/d Juni  2014, Kuliah dimulai Bulan Juni  2014.
Selengkapnya »»»

RAHASIA PENDIDIKAN RASULULLAH SAW

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Selasa, 28 Januari 2014, 14.53 Kategori: - Komentar: 4 komentar

Sudah berhasilkah pendidikan di Indonesia? Kalau memang sudah berhasil, apa indikatornya, begitupun bila belum? Kemana sebenarnya arah pendidikan bangsa ini? Model manusia apakah yang ingin dihasilkan dari sistem pendidikan nasional kita? Apakah ragam kurikulum yang telah dibuat dan seringkali diperbarui dari waktu ke waktu, sudah menjadi jaminan penghantar bagi kemajuan masa depan anak-anak negeri ini? Adakah keterkaitan pendidikan kita dengan anugerah suburnya alam nusantara, yang kaya dengan ragam habitat nabati, botani dan biologi, baik di daratan maupun di lautan, sehingga menjadikan bangsa ini benar-benar sejahtera, kaya makmur dan berdaulat atas tanahnya sendiri? Islam merupakan agama yang dipeluk oleh mayoritas bangsa ini, namun sudahkah nilai-nilai Islam menjadi bagian dari pola hidup umat Islam dalam berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara? Kalau memang diyakini, bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh tauladan terbaik tiada dua, namun mengapa umat Islam tidak menjadikannya sebagai role model bagi seluruh kegiatan pendidikan, pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia unggulan?
Dalam tulisan sederhana ini, kita akan mencoba menggali apa sebenarnya rahasia pendidikan Rasulullah SAW, sehingga bisa menghasilkan manusia-manusia mulia yang sukar dicari tandingannya di dunia ini.
Selengkapnya »»»

BENARKAH ORANG YAHUDI PINTAR?

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Senin, 09 Desember 2013, 07.20 Kategori: - Komentar: 2 komentar

Mengapa Orang Yahudi Pintar?
Mitos apa realitas?


Walau banyak postingan sejenis, namun tidak ada salahnya untuk direpost kembali, karena menarik untuk disimak, difahami dan dimengerti. Moga jadi bahan renungan dan inspirasi.

Kata “Yahudi” merupakan istilah yang ditujukan atau merujuk kepada sebuah suku bangsa atau agama. Isitilah ini merujuk kepada umat yang beragama yahudi. Dalam kalangan masyarakat telah berkembang paradigma yang menganggap bahwa Bangsa Yahudi adalah suatu ras yang memiliki kelebihan dalam hal kecerdasan. Sehingga timbul ragam pertanyaan yang membutuhkan jawaban; Mengapa orang yahudi pintar?, kenapa bangsa yahudi pintar?. Atau mungkin Anda pernah mendengar sebuah ungkapan “Dasar Otak Yahudi”. Ternyata ungkapan tersebut adalah dalam konteks memuji kecerdasan, kejeniusan dan kebrilianan otak orang yahudi.


Jika Anda adalah salah satu orang yang memiliki pertanyaan “mengapa orang yahudi cerdas atau pintar?” nah, di bawah ini akan sedikit memberikan penjelasan kenapa  bangsa Yahudi pintar? Seperti yang dilansir oleh id.shooving.com

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel, karena menjalani housemanship di beberapa rumah sakit di sana . Dirinya melihat dan menemukan ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?”

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980,  Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California , terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?

Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekedar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang valid dan setepat mungkin.

Kebiasaan saat awal melahirkan
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano atau bermain musik lainnya yang ia kuasai. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama-sama.


Stephen sungguh heran, karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.

Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?”

Mereka menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.”

Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikuti terus perkembangannya.

Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh, si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai datang waktunya melahirkan.

Kebiasaan Makan
Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung, si ibu  suka sekali memakan kacang badam, sejenis kacang almond, yang biasa dijadikan oleh-oleh jama'ah haji, saat pulang dari Mekkah, serta korma bersama susu. Tengah hari, makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan lainnya.





 



Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak di dalam kandungan. Ini adalah kebiasaan  ibu-ibu Yahudi, saat  mengandung, termasuk  menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.

Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama, saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),”  ungkapnya.

Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.

Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Larangan Keras Merokok
Di Israel, merokok adalah sesuatu yang tabu. Apabila Anda diundang makan di rumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.

Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak (bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.

Kebiasaan anak-anak Yahudi
Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).


Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew (bahasa Yahudi), Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar dan jenius. Meenurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Maka tak heran, banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California , dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!!!” katanya.

Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi, olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.
Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Kebiasaan di Sekolah Tinggi
Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang yang lebih tinggi untuk diteliti dan ditindak lanjuti.

Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Di akhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya.  Seorang mahasiswa  hanya akan lulus jika team mereka (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!

Anda terperanjat?  Itulah kenyataannya.


Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

Yang ditakutkan Yahudi dari anak-anak Palestina
Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah, mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza.



Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.

Selain karena memang tabiat Yahudi yang kejam, licik dan tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismail  Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran!!! Subhanallah.....

Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. “Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.







Tidak heran, jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station, internet,  atau game online bagi mereka. Hingga  kondisi ini  memacu anak-anak Palestina  untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.


Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya.

Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.

Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini.

“Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu. Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga, sekolahan, perkantoran hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asap rokok! Berapa harga rokok di Indonesia? Cuma di kisaran 10 s/d 20 rb perak!!!

Kesimpulannya,  membentuk bangsa yang cerdas, sehat, kuat dan jenius, ternyata bukan perkara gampang, melainkan usah dan kerja keras dari semua pihak yang bertanggungjawab terhadap masa depan bangsa Indonesia ke depan. Kalau tidak, bisa jadi Indonesia menjadi bangsa terpuruk dan tertinggal dibanding bangsa-bangsa lain.

Semoga bermanfaat.....
Referensi: dari berbagai sumber online
Selengkapnya »»»