KEISTIMEWAAN SEPERTIGA AKHIR RAMADHAN

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Sabtu, 19 Juli 2014, 11.47 Kategori: - Komentar: 1 komentar

SAAT-SAAT ISTIMEWA
tidak terasa, Ramadhan sebentar lagi akan segera berakhir. Bulan yang menjadi momentum paling indah dan sempurna bagi kaum muslimin  untuk mencari ridho, ampunan dan berkah dari Allah SWT. Bulan bagi orang-orang beriman selalu menjadi ladang amal yang amat berlimpah dan ladang pengampunan dosa yang sangat terbuka.
Menurut para ahli, bulan Ramadhan dibagi kedalam tiga fase. Fase pertama atau sepuluh hari pertama  adalah fase rahmat, kedua  fase maghfirah, dan sepuluh hari terakhir atau fase ketiga adalah pembebasan dari api neraka ('ifqumminannaar).

Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang keadaan Rasulullah  Muhammad SAW saat  memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan,
“Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan menbangunkan keluarganya.”

Mengapa sepertiga bulan terakhir menjadi sangat istimewa  dan mendapat perhatian utama dari Rasulullah SAW? Paling tidak ada dua sebab hal utama, antara lain:
Pertama, sepuluh hari terakhir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, dan amal perbuatan manusia itu tergantung pada akhirnya/penutupannya. Seperti doa Rasulullah SAW.

“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana aku berjumpa dengan-Mu kelak.”

Yang terpenting dari manusia adalah mengakhiri hidupnya atau perbuatannya di dalam kebaikan atau husnul khotimah, sebab ada orang yang selama hidupnya berjejak pada kebaikan namun memilih untuk mengakhiri hidupnya dalam keburukan atau su'ul khotimah.

Kedua, adanya peristiwa lailatul qadr di sepertiga malam terakhir sebagaimana firman Allah S.W.T.
Apa itu Lailatul Qodar? Secara generik bahasa, Lailatul Qodar terdiri dari 2 kata, Lailatul artinya suatu malam dan Qodar memiliki berberapa arti diantaranya kepastian, hitungan, terukur, rasional, sistematis dan harmonis. Seperti firman Allah SWT: Wa Khalaqna Kulla Syaiin biqodarin, “kami ciptakan segala sesuatu dengan qadar, artinya terukur, rasional, penuh perhitungan, sistematis dan harmonis”. Sehingga dari keqodarannya ciptaan Allah, manusia bisa menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai dengan sekarang.

Dengan demikian, arti Lailatul Qodar secara bahasa bermakna, malam yang penuh dengan kepastian, perhitungan, terukur, sistematis dan harmonis. Berdasar keterangan al Qur’an, Lailatul Qodar, seperti dijelaskan dalam QS. Al Qodar, nilainya lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun), para malaikat turun ke bumi bersama malaikat Jibril dengan izin Allah membawa kedamaian, ketenangan dan ketentraman, hingga terbit waktu fajar. Dalam ayat lain, lailatul qodar disebut juga dengan lailatul mubarokah, malam yang penuh dengan keberkahan.

Secara psiko-religi-spiritual, orang yang mendapatkan Lailatul Qodar, tentu saja setelah melewati proses pelatihan diri (self Training) melalui puasa, shalat malam, membaca dan memaknai al Qur’an, mengaji dan mengkaji, merenung disertai wirid, dzikir dan istighfar (kontemplasi dan meditasi), berarti orang yang telah tertanam di dalam hati, fikiran dan jiwanya keyakinan, kepastian dan perhitungan hidup, untuk apa diciptakan, apa yang harus dilakukan selama hidup di dunia dan hendak kemana akhir tujuan hidupnya.
Sehingga dalam menjalani hidup, orang tersebut akan lebih optimis, besar keyakinan, sabar, ikhlas dan tawakkal, tidak mudah putus asa dan menyerah, namun bertindak hati-hati, waspada, dan penuh perhitungan. Sehingga hidupnya akan berlimpah dengan keberkahan, kemurahan, kemudahan, kedamaian dan kebahagiaan. Mungkinkah kita termasuk golongan orang tersebut? Yaitu mereka yang telah menyerap dan menghimpun qadar Allah dalam dirinya, sehingga benar-benar merasakan hidup penuh dengan sensasi surgawi. Insya Allah, Anda dan kita semua bisa, mengapa tidak? Semoga kita senantiasa selalu berada dalam balutan rahmat, maghfirah dan berkah Allah SWT, dan yang paling penting, mengakhiri hidup dengan KHUSNUL KHOTIMAH. Amin Ya Rabbal 'Alamin....
Wallahu A'lam Bisshowwab....

Menjelang dan selama bulan Ramadhan 1435 H, YAYASAN WAKAF TARBIYATUN NISAA BOGOR, siap  kembali menampung, menghimpun dan menyalurkan INFAQ, SHADAQOH, ZAKAT, WAKAF Bapak/Ibu/Sdr/Sdri. Pemberian bisa dilakukan dengan cara: 
a. Transfer melalui rekening bank
b. Transfer melalui Pos Wesel
c. Diberikan langsung ke tempat kami
d. Atau petugas kami yang menghubungi
Teriring doa dari kami, mudah-mudahan kita masih diberikan keesempatan melaksanakan Ibadah Shaum Ramadhan, dalam keadaan sehat walafiyat, aman, tenang dan nyaman.  Dan semoga bentuk kebaikan yang Bapak/Ibu/Sdr/Sdri, akan menambah keberkahan nilai ibadah Shaum Ramadhan yang dijalankan, dan mendapat balasan Allah SWT dalam bentuk kemudahan, kemurahan dan keberlimpahan. Amin Ya Rabbal 'Alamin....
Selengkapnya »»»

RAGAM PERISTIWA PENTING DI BULAN RAMADHAN

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Minggu, 06 Juli 2014, 02.41 Kategori: - Komentar: 0 komentar

RAGAM PERISTIWA PENTING DI BULAN RAMADHAN
Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa penuh dengan keberkahan. Bersamanya, banyak peristiwa atau momentum penting bagi umat Islam. Sejarah yang terjadi di masa lalu tersebut telah terekam oleh kaum muslim dari masa ke masa. Banyaknya peristiwa penting tersebut, menandakan bahwa Ramadhan adalah bukan bulan biasa, melainkan bulan istimewa, bukan saatnya santai dan beristirahat karena shaum yang sedang dijalankan. Sebab kenyataanya, sejarah telah mencatatkan banyak momentum kemenangan yang diraih kaum muslimin,  bukan hanya menguji mental, fisik maupun emosi kaum muslim, namun juga pembuktian kemenangan dan kekuatan aqidah islamiyah. Walaupun banyak postingan sejenis, namun tidak ada salahnya untuk direpost kembali, sekedar berbagi info, betapa hebat dan luar biasanya bulan Ramadhan ini. Berikut adalah beberapa lintasan sejarah tentang momen penting yang terjadi pada bulan Ramadhan:

1.    Turunnya Wahyu Pertama
Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah SWT menyanjung bulan Ramadhan atas bulan-bulan yang lain, yaitu dengan memilihnya sebagai bulan dimana Al Quran diturunkan di dalamnya. Ya, pada tanggal 17 Ramadhan Rasulullah menerima wahyu pertama di Gua Hira berupa Al Quran surat Al Alaq: 1-5. Al Quran juga melukiskan peristiwa penting itu sebagai berikut,“Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, serta pemisah antara hak dan batil”. (QS. Al Baqarah : 185).

2.    Perang Badar
Perang Badar adalah pertempuran pertama yang dilakukan kaum Muslim setelah berhijrah ke Madinah melawan kaum Quraisy dari Mekkah. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah. Pertempuran berakhir dengan kemenangan pihak Muslim yang hanya berkekuatan 313 orang dan melawan sekitar 1000 kaum kafir Quraisy.  Allah SWT berkenan menerangkan kisah yang bersejarah ini di dalam Al Quran: "Dan sungguh Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya." (QS. Ali Imran: 123)

3.    Peristiwa Fathu Makkah
Fathu Makkah merupakan peristiwa besar, dimana Muslim berhasil menguasai Kota mekah.. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”. (QS. Al Fath: 1). Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud kemenangan di sini adalah peristiwa Fathu Makkah. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 21 Ramadhan, tahun 8 hijriyah. Di bulan yang sama pula Khalid bin Walid menghancurkan patung Uzza.

4.    Thariq Bin Ziyad Menaklukan Andalusia
Andalus ditaklukkan pada bulan Ramadhan. Pada 28 Ramadhan tahun 92 H, pasukan Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad berhasil memasuki Andalus dari arah pesisir, ini adalah hal yang diluar  dugaan, sehingga Roderick, penguasa Visigoth Spanyol segera mempersiapkan pasukannya yang  berjumlah 25.000. Setelah menguasai Jabal Thariq dan membakar kapal-kapal yang telah digunakannya, Thariq bin Ziyad berkhutbah di depan pasukannya: ”Lautan dibelakang kalian! Musuh di depan kalian!”. Lalu pecahlah pertempuran antara 12.000 pasukan Muslimin melawan 100.000 tentara Roderick. Yang berakhir dengan tercerai-berainya pasukan Visigoth dan tewasnya Roderick.

5.    Umat Islam Mengalahkan Tentara Mongol (Peristiwa Ain Jalut)
Pada tanggal 15 Ramadhan tahun 658 Hijriyah, umat Islam berhasil mengalahkan 20.000 tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan, cucu Genghis Khan. Perang ini terjadi di Ain Jalut, Palestina Utara. Sehingga peperangan ini dikenal dengan peristiwa ‘Ain Jalut. Para sejarawan menganggap bahwa peristiwa ini amat penting dalam sejarah penaklukan bangsa Mongol di Asia Tengah, dimana pasukan Mongol mengalami kekalahan telak atas kaum Muslimin dan tidak mampu membalas kekalahan itu

6.    Kemenangan Salahuddin Al Ayyubi
Pada bulan Ramadhan 583 H, panglima Salahuddin Al Ayyubi, yang di Eropa terkenal dengan sebutan Saladin, mencapai kemenangan gemilang dengan memukul mundur pasukan Salib pada beberapa medan pertempuran, serta membebaskan sebagian besar daerah yang telah diduduki tentara Salib, di antaranya dapat merebut kembali  Kota Yerusalem dan menawan Raja Yerusalem.

7.    Proklamasi Kemerdekaan
Proklamasi kemardekaan Indonesia dikumandangkan pada bulan Ramadhan. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan yang telah mendera bangsa yang mayoritas muslim ini, peristiwa itu terjadi pada Jumat terakhir di bulan Ramadhan.

Menjelang dan selama bulan Ramadhan 1435 H, YAYASAN WAKAF TARBIYATUN NISAA BOGOR, siap  kembali menampung, menghimpun dan menyalurkan INFAQ, SHADAQOH, ZAKAT, WAKAF Bapak/Ibu/Sdr/Sdri. Pemberian bisa dilakukan dengan cara: 
a. Transfer melalui rekening bank
b. Transfer melalui Pos Wesel
c. Diberikan langsung ke tempat kami
d. Atau petugas kami yang menghubungi
Teriring doa dari kami, mudah-mudahan kita masih diberikan keesempatan melaksanakan Ibadah Shaum Ramadhan, dalam keadaan sehat walafiyat, aman, tenang dan nyaman.  Dan semoga bentuk kebaikan yang Bapak/Ibu/Sdr/Sdri, akan menambah keberkahan nilai ibadah Shaum Ramadhan yang dijalankan, dan mendapat balasan Allah SWT dalam bentuk kemudahan, kemurahan dan keberlimpahan. Amin Ya Rabbal 'Alamin....
Selengkapnya »»»

SHODAQOH, HIDUP LEBIH MUDAH MURAH BERLIMPAH BERKAH

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Sabtu, 05 Juli 2014, 03.05 Kategori: - Komentar: 3 komentar

 ما نقصت مال عبد من صدقة بل يزداد بل يزداد بل يزداد
"Tidak akan berkurang harta sedikitpun karena sedekah, bahkan ia akan terus bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah”



The Miracle of Giving
Walaupun sudah banyak postingan sejenis, namun tidak ada salahnya untuk direpost kembali, mengingat betapa agung dan mulianya SHODAQOH. Shadaqoh secara harfiyah bermakna membenarkan, menyetujui dan mengetahui. Sedangkan secara istilah mengandung makna memberikan sesuatu yang berharga, apapun jenis dan berapapun jumlahnya, kepada orang lain, secara ikhlas dan sukarela, tidak dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu,  sebagai tanda keyakinan dan kesungguhan hati akan kebenaran dan keutamaannya, bahwa Allah SWT akan mengganti bahkan menambah keberkahan harta yang dimilikinya. 

Pernahkan anda mendengar kisah tentang seorang yang asalnya kaya, tiba-tiba jatuh miskin karena rajin bershodaqoh? Ataukah sebaliknya, seorang justru semakin kaya, makmur dan bahagia, karena rajin bershadaqoh?  Atau, ingatkah kita Kisah “Aisyah, istri Rasullulah, yang memberikan dua buah roti kepada dua orang pengemis, padahal roti itu yang tersisa untuk buka puasanya? Dimana yang terjadi selanjutnya, ALLAH menggantikan pemberian itu dengan kambing bakar yang di atasnya terdapat roti yang diantar oleh seorang tetangganya. Padahal, tetangga tersebut belum pernah memberi hadiah apapun sebelumnya.
Dalam Al- Quran, kita tahu tentang janji ALLAH yang akan melipatgandakan Shodaqoh kita dengan 700x lipat dari apa yang kita shodaqohkan (QS. AL -Baqaroh : 261). Pada kenyataannya, ternyata banyak manfaat lain shodaqoh. Diantaranya, dapat menyelamatkan si pemberi dari kejadian buruk. Selain itu, Atas ijin ALLAH, shodaqoh juga ampuh untuk menyembuhkan penyakit si pemberi. Kisah berikut buktinya.

Kisah Pertama
Adalah Muhammad bin Wadhoh, seorang imam, hafizh, dan ahli hadist. Beliau adalah budak dari penguasa Andalusia. Waro’, zuhud, sabar dalam menyebarkan ilmu serta jauh dari perbuataan maksiat adalah hal lain yang diketahui dari dirinya. Suatu ketika beliau sedang asyik berbincang dengan tamunya, datang seseorang membawa kabar tentang anak beliau yang di tabrak dan dilindas gerobak. Tetapi ia tidka begitu peduli dengan berita buruk itu.
bahkan beliau mengambil bukunya dan meminta seorang qori’ untuk memanjangkan bacaannya. Tak lama seorang lelaki datang menepis berita buruk tadi mengabarkan, “bergembiralah wahai Abu Abdillah, Alhamdulliah anak anda selamat, Roda gerobak itu hanya menyerempet bajunya hingga ia terjatuh, namun ia tak sampai cedera’, jelas si pembawa berita.

Maka Muhammad bin Wadhoh menjawab” Alhmadulliah, aku yakin akan hal itu, karena hari ini aku melihat anakku memberikan uang recehan kepada seorang miskin, jadi aku tahu tidak akan ada suatu keburukan pun yang akan menimpanya siang ini. Lalu ia mengutip hadist : ‘sesungguhnya ALLAH akan menolak kematian yang buruk atas seseorang karena shodaqoh yang di keluarkannya “.

Kisah Kedua
Kisah lain menyangkut seorang laki-laki yang datang kepad Ibnu Mubarok dan bertanya tentang solusi atas luka bernanah yang keluar dari lututnya sejak tujuh tahun yang lalu. ia sudah mengobati lukanya dengan berbagai jenis obat, namun kesembuhan masih enggan menyapanya. Maka Ibnu Mubarok memberikan solusi cerdas yang sulit di cerna oleh akal jika kita memakai logika saja. “Pulanglah, lalu galilah sumur di tempat orang orang yang membutuhkan air. Sesungguhnya aku berharap akan keluar mata air di sana dan darah nanahmu akan berhenti”. Apa hubungannya shodaqoh dengan kesembuhan lukanya? Simak apa kata Rasullulah,  “Obatilah yang sakit diantara kalian dengan shodaqoh, lindungilah harta kalian dengan zakat, dan bersiaplah menghadapi cobaan dengan doa (HR. Al-Baihaqi). Selanjutnya lelaki itu melaksanakan perintah Ibnu Mubarok, dan ia pun sembuh. Subhanallah. (Kisah ini dikutip dari Shahih At-Targhib)

Kisah Ketiga
Ada seseorang yang diserang penyakit kanker. Dia sudah keliling dunia untuk mengobati penya-kitnya, tetapi belum memperoleh kesembuhan. Akhirnya dia pun bershadaqah kepada seorang ibu yang memelihara anak yatim, maka melalui hal itu Allah SWT menyembuhkan dia.

Kisah Keempat
Kisah ini langsung diceritakan oleh orang yang menga-laminya kepada Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij, Dia berkata kepada beliau, “Saya mem-punyai seorang putri balita yang menderita suatu penyakit di sekitar tenggorokannya. Saya telah keluar masuk ke beberapa rumah sakit dan sudah konsultasi dengan banyak dokter, namun tidak ada hasil apa pun yang dirasakan. Sedangkan penyakit putriku tersebut semakin memburuk, bahkan untuk menghadapi penyakitnya tersebut, hampir-hampir saya ini yang jatuh sakit dan perhatian seluruh anggota keluarga tersita untuk mengurusinya. Dan yang bisa kami lakukan hanya memberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya saja. Kalaulah bukan karena rahmat Allah SWT rasa-rasanya kami sudah putus asa olehnya. Namun apa yang di angan-angankan itu pun datang dan terkuaklah pintu kesulitan yang kami alami selama ini.

Suatu hari, ada seorang yang shalih menghubungiku lewat telephon lalu menyampaikan hadits Rasulullah SAW,  “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bershadaqah.” Saya katakan kepada orang shalih tersebut, sungguh saya sudah banyak bershodaqoh! Lalu kata beliau kepadaku, “Bershadaqahlah kali ini dengan niat agar Allah SWT menyembuhkan putrimu. Mendengar hal itu saya langsung mengeluarkan shadaqah yang sangat sederhana kepada seseorang yang fakir, namun belum ada perobahan pada putriku. Lalu hal itu saya sampaikan kepada orang shalih tersebut. Dia pun mengatakan kepada saya, “Anda adalah orang yang banyak dapat nikmat dan punya banyak harta. Cobalah engkau bershadaqah dalam jumlah yang lebih banyak.” 

Setelah mendengar itu, maka saya pun mengisi mobil saya sepenuh-penuhnya dengan beras, lauk pauk, dan bahan makanan lainnya, lalu saya bagi-bagikan langsung kepada orang-orang yang membutuh-kannya, sehingga mereka sangat senang menerimanya. Dan demi Allah (saya bersumpah) saya tidak akan lupa selama-lamanya, ketika shadaqah tersebut selesai saya bagi-bagikan, Alhamdulillah putriku yang sedang sakit tersebut sembuh dengan sempurna. Maka saat itu saya pun menyakini bahwa di antara sebab-sebab syar’i yang paling utama untuk meraih kesembuhan adalah shadaqah. Dan sekarang atas berkat karunia dari Allah SWT putriku tersebut telah tiga tahun tidak mengalami sakit apa pun, Dan mulai saat itulah saya banyak-banyak mengeluarkan shodaqoh terutama mewakafkan harta saya pada hal-hal yang baik, dan (Alhamdulillah) setiap hari saya merasakan nikmat dan kesehatan pada diri saya sendiri maupun pada keluarga saya serta saya juga merasakan keberkahan pada harta saya. 

Ada banyak rahasia agung yang tersimpan dalam shodaqoh, ibarat mutiara yang tersimpan rapi dalam cangkang sebuah kerang yang kita tidak pernah tahu kemuliaan apa yang kita pancarkan. Walaupun kadang logika menolak! namun, itulah ajaibnya shodaqoh, memberi dua manfaat sekaligus. Untuk orang yang kita beri dan juga Insya ALLAH manfaat untuk kita sendiri. Wallahua’lam.

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah, Diganti 1000 Kali Lipat


Kisah nyata ini terjadi di Jawa Tengah. Hari itu, seorang lelaki tengah mengengkol vespanya. Tapi tak kunjung bunyi. “Jangan-jangan bensinnya habis,” pikirnya. Ia pun kemudian memiringkan vespanya. Alhamdulillah... vespa itu bisa distarter.

“Bensin hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu ya? Kalau beli bensin kudu muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,” demikian kira-kira kata hati lelaki itu. Ke mana arah vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis ngaji baru beli bensin.”

Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa vespa itu ingin bersedekah juga, tetapi uangnya tinggal lima ribu rupiah. Uang segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin setengah liter.

Syetan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan, sekitar 200 meter dari tempat pengajian vespanya berhenti. Benar saja, bensinnya benar-benar habis.

“Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syetan kembali menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali perbuatannya.

Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah waktunya ngedorong.” Meski demikian, matanya berkaca-kaca, “Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah lima ribu saja sudah dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya.
“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.
“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli bensin.”

Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol. Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter. Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali lipat.

“Kamu beruntung ya” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu keduanya kembali naik Kijang.
“Untung apaan?”
“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3 anak, saya belum”
“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya Cuma punya vespa”
“Hmm...... mau, anak ditukar Kijang?”
Mereka ngobrol banyak, tentang kesusahan masing-masing. Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik vespa.

Begitu sampai... “Mas, saya enggak turun ya,” kata pemilik Kijang. Lalu ia merogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum tahu isinya berapa,” bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu. Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah. Berlipat-lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya.

Sungguh benar firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).

[Kisah Nyata Keajaiban Sedekah ini disarikan dari Buku “Kun Fayakun 2” karya Ust. Yusuf Mansur]

Referensi:
Dari berbagai sumber online

Menjelang dan selama bulan Ramadhan 1435 H, YAYASAN WAKAF TARBIYATUN NISAA BOGOR, siap  kembali menampung, menghimpun dan menyalurkan INFAQ, SHADAQOH, ZAKAT, WAKAF Bapak/Ibu/Sdr/Sdri. Pemberian bisa dilakukan dengan cara: 
a. Transfer melalui rekening bank
b. Transfer melalui Pos Wesel
c. Diberikan langsung ke tempat kami
d. Atau petugas kami yang menghubungi
Teriring doa dari kami, mudah-mudahan kita masih diberikan keesempatan melaksanakan Ibadah Shaum Ramadhan, dalam keadaan sehat walafiyat, aman, tenang dan nyaman.  Dan semoga bentuk kebaikan yang Bapak/Ibu/Sdr/Sdri, akan menambah keberkahan nilai ibadah Shaum Ramadhan yang dijalankan, dan mendapat balasan Allah SWT dalam bentuk kemudahan, kemurahan dan keberlimpahan. Amin Ya Rabbal 'Alamin....
Selengkapnya »»»

DOA HARIAN RAMADHAN

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Jumat, 04 Juli 2014, 11.14 Kategori: - Komentar: 0 komentar

DOA HARIAN RAMADHAN
Doa Hari Pertama
   اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ صِيَامَ الصَّائِمِيْنَ وَ قِيَامِيْ فِيْهِ قِيَامَ الْقَائِمِيْنَ وَ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِيْنَ   وَ هَبْ لِيْ جُرْمِيْ فِيْهِ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَ اعْفُ عَنِّيْ يَا عَافِيًا عَنِ الْمُجْرِمِيْنَ
Yaa Allah! Jadikanlah puasaku sebagai puasa orang-orang yang benar-benar berpuasa. dan ibadah malamku sebagai ibadah orang-orang yang benar-benar melakukan ibadah malam. dan jauhkan aku dari tidurnya orang-orang yang lalai. Hapuskanlah dosaku ... Wahai Tuhan Sekalian Alam, dan ampunilah aku, Wahai Pengampun Para Pembuat Dosa

Doa Hari Kedua
اَللَّهُمَّ قَرِّبْنِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ سَخَطِكَ وَ نَقِمَاتِكَ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Yaa Allah, dekatkanlah aku kepada keridhoan-Mu. Jauhkanlah aku dari kemurkaan serta balasan-Mu. Berilah aku kemampuan untuk membaca ayat-ayat-Mu, dengan rahmat-Mu, Wahai Maha Pengasih dari semua yang mengasihi

Doa Hari Ketiga
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ الذِّهْنَ وَ التَّنْبِيْهَ وَ بَاعِدْنِيْ فِيْهِ مِنَ السَّفَاهَةِ وَ التَّمْوِيْهِ وَ اجْعَلْ لِيْ نَصِيْبًا مِنْ كُلِّ خَيْرٍ تُنْزِلُ فِيْهِ، بِجُوْدِكَ يَا أَجْوَدَ الْأَجْوَدِيْنَ

Yaa Allah! Berikanlah aku rezki akal dan kewaspadaan dan jauhkanlah aku dari kebodohan dan kesesatan. Sediakanlah bagian untukku dari segala kebaikan yang kau turunkan, demi kemurahan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Dermawan dari semua dermawan!

Doa Hari Keempat
اَللَّهُمَّ قَوِّنِيْ فِيْهِ عَلَى إِقَامَةِ أَمْرِكَ وَ أَذِقْنِيْ فِيْهِ حَلاَوَةَ ذِكْرِكَ وَ أَوْزِعْنِيْ فِيْهِ لأدَاءِ شُكْرِكَ بِكَرَمِكَ وَ احْفَظْنِيْ فِيْهِ بِحِفْظِكَ وَ سِتْرِكَ يَا أَبْصَرَ النَّاظِرِيْنَ
Yaa Allah! Berikanlah kekuatan kepadaku, untuk menegakkan perintah-perintah-Mu, dan berilah aku manisnya berdzikir mengingat-Mu. Berilah aku kekuatan untuk menunaikan syukur kepada-Mu, dengan kemuliaan-Mu. Dan jagalah aku dengan penjagaan-Mu dan perlindungan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Melihat

Doa Hari Kelima
 اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ الْقَانِتِيْنَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنْ أَوْلِيَائِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ بِرَأْفَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Yaa Allah! Jadikanlah aku diantara orang-orang yang memohon ampunan, dan jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang sholeh dan setia serta jadikanlah aku diantara Auliya'-Mu yang dekat disisi-Mu, dengan kelembutan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih.

Doa Hari Keenam
اَللَّهُمَّ لاَ تَخْذُلْنِيْ فِيْهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ وَ لاَ تَضْرِبْنِيْ بِسِيَاطِ نَقِمَتِكَ وَ زَحْزِحْنِيْ فِيْهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ سَخَطِكَ بِمَنِّكَ وَ أَيَادِيْكَ يَا مُنْتَهَى رَغْبَةِ الرَّاغِبِيْنَ
Yaa Allah! Janganlah Engkau hinakan aku karena perbuatan maksiat terhadap-Mu, dan janganlah Engkau pukul aku dengan cambuk balasan-Mu. jauhkanlah aku dari hal-hal yang dapat menyebabkan kemurkaan-Mu, dengan anugerah dan bantuan-Mu, wahai Puncak Keinginan orang-orang yang berkeinginan!

Doa Hari Ketujuh
اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ فِيْهِ عَلَى صِيَامِهِ وَ قِيَامِهِ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ هَفَوَاتِهِ وَ آثَامِهِ وَ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ ذِكْرَكَ بِدَوَامِهِ بِتَوْفِيْقِكَ يَا هَادِيَ الْمُضِلِّيْنَ .
Yaa Allah! Bantulah aku untuk melaksanakan puasanya, dan ibadah malamnya (‘nya’- di sini mengacu pada bulan Ramadhan). Jauhkanlah aku dari kelalaian dan dosa-dosa Nya, dan berikanlah aku dzikir berupa dzikir mengingat-Mu secara terus-menerus, dengan taufiq- Mu, wahai Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang sesat.

Doa Hari Kedelapan
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ رَحْمَةَ الأَيْتَامِ وَ إِطْعَامَ الطَّعَامِ وَ إِفْشَاءَ السَّلاَمِ وَ صُحْبَةَ الْكِرَامِ بِطَوْلِكَ يَا مَلْجَأَ الآمِلِيْنَ . .
Yaa Allah! Berilah aku rezeki berupa kasih sayang terhadap anak-anak yatim dan pemberian makan, serta penyebaran salam, dan pergaulan dengan orang-orang mulia, dengan kemuliaan-Mu, wahai Tempat Berlindung Bagi Orang-Orang Yang Berharap.

Doa Hari Kesembilan
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ فِيْهِ نَصِيْبًا مِنْ رَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةِ وَ اهْدِنِيْ فِيْهِ لِبَرَاهِيْنِكَ السَّاطِعَةِ وَ خُذْ بِنَاصِيَتِيْ إِلَى مَرْضَاتِكَ الْجَامِعَةِ بِمَحَبَّتِكَ يَا أَمَلَ الْمُشْتَاقِيْنَ . .
Yaa Allah! Sediakanlah untukku sebagian dari rahmat-Mu yang luas, dan berikanlah aku petunjuk kepada ajaran-ajaran-Mu yang terang, dan bimbinglah aku menuju kepada kerelaan-Mu yang penuh dengan kecintaan-Mu, wahai Harapan Orang-Orang Yang Rindu.

Doa Hari Kesepuluh
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُتَوَكِّلِيْنَ عَلَيْكَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْفَائِزِيْنَ لَدَيْكَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ إِلَيْكَ بِإِحْسَانِكَ يَا غَايَةَ الطَّالِبِيْنَ
Yaa Allah! Jadikanlah aku di antara orang-orang yang bertawakkal kepada-Mu, dan jadikanlah aku di antara orang-orang yang menang di sisi-Mu, dan jadikanlah aku di antara orang-orang yang dekat kepada-Mu dengan ihsan-Mu, wahai Tujuan Orang-Orang Yang Memohon.

Doa Hari Kesebelas
اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيَّ فِيْهِ الْإِحْسَانَ وَ كَرِّهْ إِلَيَّ فِيْهِ الْفُسُوْقَ وَ الْعِصْيَانَ وَ حَرِّمْ عَلَيَّ فِيْهِ السَّخَطَ وَ النِّيْرَانَ بِعَوْنِكَ يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيْثِيْنَ
Yaa Allah! Tanamkanlah dalam diriku kecintaan kepada perbuatan baik, dan tanamkanlah dalam diriku kebencian terhadap kemaksiatan dan kefasikan. Jauhkanlah dariku kemurkaan-Mu dan api neraka dengan pertolongan-Mu, wahai Penolong Orang-Orang Yang Meminta Pertolongan.

Doa Hari Kedua Belas
 اَللَّهُمَّ زَيِّنِّيْ فِيْهِ بِالسِّتْرِ وَ الْعَفَافِ وَ اسْتُرْنِيْ فِيْهِ بِلِبَاسِ الْقُنُوْعِ وَ الْكَفَافِ وَ احْمِلْنِيْ فِيْهِ عَلَى الْعَدْلِ وَالإِنْصَافِ وَ آمِنِّيْ فِيْهِ مِنْ كُلِّ مَا أَخَافُ بِعِصْمَتِكَ يَا عِصْمَةَ الْخَائِفِيْنَ
Yaa Allah! Hiasilah diriku dengan penutup dan kesucian. Tutupilah diriku dengan pakaian qana'ah dan kerelaan.Tempatkanlah aku di atas jalan keadilan dan sikap tulus. Amankanlah diriku dari setiap yang aku takuti dengan penjagaan-Mu, wahai Penjaga Orang-Orang Yang Takut.

Doa Hari Ketiga belas
 اَللَّهُمَّ طَهِّرْنِيْ فِيْهِ مِنَ الدَّنَسِ وَ الْأَقْذَارِ وَ صَبِّرْنِيْ فِيْهِ عَلَى كَائِنَاتِ الْأَقْدَارِ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِلتُّقَى وَ صُحْبَةِ الأَبْرَارِ بِعَوْنِكَ يَا قُرَّةَ عَيْنِ الْمَسَاكِيْنِ
Yaa Allah! Sucikanlah diriku dari kekotoran dan kejelekan. Berilah kesabaran padaku untuk menerima segala ketentuan. Dan berilah kemampuan kepadaku untuk bertaqwa, dan bergaul dengan orang-orang yang baik dengan bantuan-Mu, wahai Dambaan Orang-Orang Miskin.

Doa Hari Keempat belas
 اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ فِيْهِ بِالْعَثَرَاتِ وَ أَقِلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْخَطَايَا وَ الْهَفَوَاتِ وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ فِيْهِ غَرَضًا لِلْبَلايَا وَ الآفَاتِ بِعِزَّتِكَ يَا عِزَّ الْمُسْلِمِيْنَ
Yaa Allah! Janganlah engkau hukum aku karena kekeliruan yang kulakukan. Dan ampunilah aku dari kesalahan-kesalahan dan kebodohan. Janganlah Engkau jadikan diriku sebagai sasaran bala' dan malapetaka. Dengan kemuliaan-Mu, wahai Kemuliaan Kaum Muslimin.

Doa Hari Kelima belas
 اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ طَاعَةَ الْخَاشِعِيْنَ وَ اشْرَحْ فِيْهِ صَدْرِيْ بِإِنَابَةِ الْمُخْبِتِيْنَ بِأَمَانِكَ يَا أَمَانَ الْخَائِفِيْنَ
Yaa Allah! Berilah aku rezeki berupa ketaatan orang-orang yang khusyu'. Dan lapangkanlah dadaku dengan taubatnya orang-orang yang menyesal. Dengan keamanan-Mu, Wahai Pemberi Keamanan Bagi Orang-Orang Yang Takut.

Doa Hari Keenam belas
 اَللَّهُمَّ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِمُوَافَقَةِ الْأَبْرَارِ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مُرَافَقَةَ الْأَشْرَارِ وَ آوِنِيْ فِيْهِ بِرَحْمَتِكَ إِلَى ( فِيْ ) دَارِ الْقَرَارِ بِإِلَهِيَّتِكَ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ
 Ya Allah! Berilah aku kemampuan untuk hidup sebagaimana kehidupan orang-orang yang baik. Dan jauhkanlah aku dari kehidupan bersama orang-orang yang jahat. Dan naungilah aku dengan rahmat-Mu hingga sampai kepada alam Akhirat. Demi Ketuhanan-Mu Wahai Tuhan Sekalian Alam.

Doa hari ketujuh belas
اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْهِ لِصَالِحِ الأَعْمَالِ وَ اقْضِ لِيْ فِيْهِ الْحَوَائِجَ وَ الآمَالَ يَا مَنْ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى التَّفْسِيْرِ وَ السُّؤَالِ يَا عَالِمًا بِمَا فِيْ صُدُوْرِ الْعَالَمِيْنَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ
Yaa Allah! Tunjukkanlah aku kepada amal kebajikan dan penuhilah hajat serta cita-citaku. Wahai Yang Maha Mengetahui keperluan manusia tanpa pengungkapan permohonan. Wahai Yang Maha Mengetahui segala yang ada di dalam hati seluruh isi alam, sampaikanlah sholawat atas Mohammad dan keluarganya yang suci.

Hari Ke tujuh belas
اَللَّهُمَّ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ لِبَرَكَاتِ أَسْحَارِهِ وَ نَوِّرْ فِيْهِ قَلْبِيْ بِضِيَاءِ أَنْوَارِهِ وَ خُذْ بِكُلِّ أَعْضَائِيْ إِلَى اتِّبَاعِ آثَارِهِ بِنُوْرِكَ يَا مُنَوِّرَ قُلُوْبِ الْعَارِفِيْنَ
 Yaa Allah! Sadarkanlah aku akan berkah-berkah yang terdapat di saat sahur bulan Ramadhan dan sinarilah hatiku dengan terang cahayanya dan bimbinglah aku dan seluruh anggota tubuhku untuk dapat mengikuti ajaran-ajarannya, demi cahaya-Mu Wahai Penerang Hati orang-orang yang arif.

Hari Ke delapan belas
 اَللَّهُمَّ وَفِّرْ فِيْهِ حَظِّيْ مِنْ بَرَكَاتِهِ وَ سَهِّلْ سَبِيْلِيْ إِلَى خَيْرَاتِهِ وَ لاَ تَحْنِ رِمْنِيْ قَبُوْلَ حَسَنَاتِهِ يَا هَادِيًا إِلَى الْحَقِّ الْمُبِيْ
Yaa Allah! Penuhilah bagianku dengan berkah-berkah Ramadhan, dan mudahkanlah jalanku menuju kebaikan-kebaikannya. Janganlah Kau jauhkan aku dari keterkabulan amal-amalku di dalamnya, Wahai Pemberi Petunjuk Kepada Kebenaran Yang Terang.

Hari Ke sembilan belas
اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ فِيْهِ أَبْوَابَ الْجِنَانِ وَ أَغْلِقْ عَنِّيْ فِيْهِ أَبْوَابَ النِّيْرَانِ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ يَا مُنْزِلَ السَّكِيْنَةِ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ
Yaa Allah! Bukakanlah bagiku pintu-pintu sorga dan tutupkanlah bagiku pintu-pintu neraka, dan berikanlah kemampuan padaku untuk membaca Al-Quran, Wahai Pemberi Ketenangan di dalam hati orang-orang mukmin.

Hari Ke dua puluh
 اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ دَلِيْلاً وَ لاَ تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ عَلَيَّ سَبِيْلاً وَ اجْعَلِ الْجَنَّةَ لِيْ مَنْزِلاً وَ مَقِيْلاً يَا قَاضِيَ حَوَائِجِ الطَّالِبِيْنَ
Yaa Allah! Berilah aku petunjuk menuju kepada keridhoan- Mu. Dan janganlah engkau beri jalan kepada setan untuk menguasaiku. Jadikanlah sorga bagiku sebagai tempat tinggal dan peristirahatan, Wahai Pemenuh Keperluan orang-orang yang meminta.

Hari Ke dua puluh satu
 اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ فِيْهِ أَبْوَابَ فَضْلِكَ وَ أَنْزِلْ عَلَيَّ فِيْهِ بَرَكَاتِكَ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِمُوْجِبَاتِ مَرْضَاتِكَ وَ أَسْكِنِّيْ فِيْهِ بُحْبُوْحَاتِ جَنَّاتِكَ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّيْنَ
Yaa Allah! Bukakanlah bagiku pintu-pintu karunia-Mu, turunkan untukku berkah-berkah-Mu. Berilah kemampuan untukku meraih keridhoan-Mu, dan tempatkanlah aku di dalam sorga-Mu yang luas, Wahai Penjawab Doa orang-orang yang dalam kesempitan.

Hari Ke dua puluh dua
اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الذُّنُوْبِ وَ طَهِّرْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْعُيُوْبِ وَ امْتَحِنْ قَلْبِيْ فِيْهِ بِتَقْوَى الْقُلُوْبِ يَا مُقِيْلَ عَثَرَاتِ الْمُذْنِبِيْنَ
Yaa Allah! Sucikanlah aku dari dosa-dosa, dan bersihkanlah diriku dari segala aib. Tanamkanlah ketaqwaan di dalam hatiku, Wahai Penghapus Kesalahan orang-orang yang berdosa.

Hari Ke dua puluh tiga
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ فِيْهِ مَا يُرْضِيْكَ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِمَّا يُؤْذِيْكَ وَ أَسْأَلُكَ التَّوْفِيْقَ فِيْهِ لأَنْ أُطِيْعَكَ وَ لاَ أَعْصِيَكَ يَا جَوَّادَ السَّائِلِيْنَ
Yaa Allah! Aku memohon kepada-Mu hal-hal yang mendatangkan keridhoan-Mu, dan aku berlindung dengan- Mu dari hal-hal yang mendatangkan kemarahan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk mentaati-Mu serta menghindari kemaksiatan terhadap-Mu, Wahai Pemberi Para Peminta.

Hari Ke dua puluh empat
 اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مُحِبًّا لِأَوْلِيَائِكَ وَ مُعَادِيًا لأَعْدَائِكَ مُسْتَنّا بِسُنَّةِ خَاتَمِ أَنْبِيَائِكَ يَا عَاصِمَ قُلُوْبِ النَّبِيِّيْنَ
Yaa Allah! Jadikanlah aku orang-orang yang mencintai auliya-Mu dan memusuhi musuh-musuh-Mu. Jadikanlah aku pengikut sunnah-sunnah Nabi Terakhir-Mu, Wahai Penjaga Hati Para Nabi.

Hari Ke dua puluh lima
 اَللَّهُمَّ اجْعَلْ سَعْيِيْ فِيْهِ مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبِيْ فِيْهِ مَغْفُوْرًا وَ عَمَلِيْ فِيْهِ مَقْبُوْلاً وَ عَيْبِيْ فِيْهِ مَسْتُوْرًا يَا أَسْمَعَ السَّامِعِيْنَ
Yaa Allah! Jadikanlah usahaku di dalam bulan Ramadhan sebagai usaha yang Engkau terima, dan dosa-dosaku diampuni, amal perbuatanku diterima, dan seluruh aibku ditutupi, Wahai Maha Pendengar Dari Semua Yang Mendengar.

Hari Ke dua puluh enam
 اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ فَضْلَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَ صَيِّرْ أُمُوْرِيْ فِيْهِ مِنَ الْعُسْرِ إِلَى الْيُسْرِ وَ اقْبَلْ مَعَاذِيْرِيْ وَ حُطَّ عَنِّيَ الذَّنْبَ وَ الْوِزْرَ يَا رَؤُوْفًا بِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ
Yaa Allah! Rizkikanlah kepadaku keutamaan Lailatul Qadr, dan ubahlah perkara-perkaraku yang sulit menjadi mudah. Terimalah permintaan maafku, dan hapuskanlah dosa dan kesalahanku, Wahai Yang Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya yang sholeh.

Hari Ke dua puluh tujuh
اَللَّهُمَّ وَفِّرْ حَظِّيْ فِيْهِ مِنَ النَّوَافِلِ وَ أَكْرِمْنِيْ فِيْهِ بِإِحْضَارِ الْمَسَائِلِ وَ قَرِّبْ فِيْهِ وَسِيْلَتِيْ إِلَيْكَ مِنْ بَيْنِ الْوَسَائِلِ يَا مَنْ لاَ يَشْغَلُهُ إِلْحَاحُ الْمُلِحِّيْنَ
 Yaa Allah! Penuhkanlah hidupku di dalam bulan Ramadhan ini dengan amalan-amalan sunnah, dan muliakanlah aku dengan terkabulnya semua permintaan. Dekatkanlah diriku kepada-Mu, Wahai Yang Tidak Tersibukkan Oleh Permintaan Orang-Orang Yang Meminta.

Hari Ke dua puluh delapan
 اَللَّهُمَّ غَشِّنِيْ فِيْهِ بِالرَّحْمَةِ وَ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ التَّوْفِيْقَ وَ الْعِصْمَةَ وَ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنْ غَيَاهِبِ التُّهَمَةِ يَا رَحِيْمًا بِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ
Yaa Allah! Liputilah aku di bulan ini dengan rahmat dan berikanlah kepadaku taufiq dan penjagaan. Sucikanlah hatiku dan noda-noda fitnah, Wahai Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin.

Hari Ke dua puluh sembilan
  اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ بِالشُّكْرِ وَ الْقَبُوْلِ عَلَى مَا تَرْضَاهُ وَ يَرْضَاهُ الرَّسُوْلُ مُحْكَمَةً فُرُوْعُهُ بِالأُصُوْلِ بِحَقِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Yaa Allah! Jadikanlah puasaku disertai dengan syukur dan terkabul, sebagaimana puasa yang diridhoi oleh-Mu dan oleh Rasul-Mu, puasa yang kokoh dan kuat; demi Kenabian Muhammad dan Keluarganya Yang Suci, dan segala puji bagi Allah, Tuhan Sekalian Alam.

Hari ke tiga puluh
SEMOGA ALLAH s.w.t. MENERIMA AMAL IBADAH SHAUM  KITA. Amin Ya Rabbal 'Alamin...
Referensi: Dari berbagai sumber
Menjelang dan selama bulan Ramadhan 1435 H, YAYASAN WAKAF TARBIYATUN NISAA BOGOR, siap  kembali menampung, menghimpun dan menyalurkan INFAQ, SHADAQOH, ZAKAT, WAKAF Bapak/Ibu/Sdr/Sdri. Pemberian bisa dilakukan dengan cara: 
a. Transfer melalui rekening bank
b. Transfer melalui Pos Wesel
c. Diberikan langsung ke tempat kami
d. Atau petugas kami yang menghubungi
Teriring doa dari kami, mudah-mudahan kita masih diberikan keesempatan melaksanakan Ibadah Shaum Ramadhan, dalam keadaan sehat walafiyat, aman, tenang dan nyaman.  Dan semoga bentuk kebaikan yang Bapak/Ibu/Sdr/Sdri, akan menambah keberkahan nilai ibadah Shaum Ramadhan yang dijalankan, dan mendapat balasan Allah SWT dalam bentuk kemudahan, kemurahan dan keberlimpahan. Amin Ya Rabbal 'Alamin....
Selengkapnya »»»

SHAUM RAMADHAN, SUGUHAN SURGA DI BUMI FANA-2

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Minggu, 29 Juni 2014, 18.44 Kategori: - Komentar: 1 komentar

Aspek Fisik Biologis
Bayangkanlah sebuah sebuah pabrik makanan, yang berjalan dan berproduksi tiada henti selama 24 jam, terus menerus dan itu berjalan selama 11 bulan. Tak tergambar, pasti pabrik itu akan hancur, bahkan mungkin bisa meledak, karena tidak tahan dengan terus-menerusnya berproduksi tiada henti. Demikian halnya juga dengan tubuh manusia. Kurang lebih selama 11 bulan, seluruh mekanisme tubuh manusia, berjalan dan bekerja tiada kenal berhenti. Bisa dibayangkan, ibarat pabrik, tubuh manusiapun akan mengalami aus, rusak dan kehancuran.

Apa kaitan ilustrasi tersebut dengan ibadah puasa? Apa kaitan puasa dengan aspek fisik biologis manusia? Apakah benar, puasa bisa membuat seseorang lebih sehat? Apakah bisa diyakini bahwa ibadah puasa bisa membuat tubuh lebih fit? Padahal, secara kasat mata ibadah puasa justru bisa melemahkan dan mengurangi kekuatan tubuh? Itulah barangkali pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan, untuk lebih memahami dan meyakini, bahwa dengan keutamaan ibadah puasa berkaitan dengan fisik biologis manusia, manusia bisa mendapatkan kesentosaan. Di bawah ini terdapat beberapa hal, yang bisa memperjelas fungsi dan manfaat puasa bagi tubuh manusia, dan ternyata penelitian medis (kesehatan) pun memiliki kesimpulan yang sama, antara lain :
  1. Relaksasi. Memberikan kesempatan istirahat kepada tubuh untuk menormalkan dan mengembalikan kekuatan, sehingga tubuh kembali sehat, kuat dan fit.
  2. Restrukturasi dan Rekonstruksi. Dengan melakukan ibadah puasa, tubuh diberi kesempatan untuk memperbaiki dan merekonstruksi kembali sel-sel yang rusak, menumbuhkan dan menguatkannya kembali, sehingga bisa berfungsi maksimal.
  3. Membentuk ferformance ideal tubuh. Puasa membentuk pola hidup seimbang, antara konsumsi makanan, minuman dengan pengosongan. Hingga terbentuk ferformance ideal antara 1/3 makanan, 1/3 minuman dan 1/3 untuk pernapasan.

Baru-baru ini seorang pakar kesehatan dari Amerika, Paul C. Bragg, N.D., Ph.D bersama anak perempuannya Patricia Bragg, N.D., Ph.D., menulis sebuah buku tentang rahasia berpuasa “The Miracle of fasting, proven through history for Physical, Mental and Spiritual Rejuvenation“. Dalam buku ini mereka mengungkapkan bagaimana sebenarnya puasa itu merupakan alternatif kesehatan yang dijadikan oleh Tuhan dan berasal dari dalam tubuh manusia itu sendiri, sehingga dapat memberikan terapi kesehatan, baik yang berkaitan dengan kesehatan fisikis, mental, dan spiritual. Selama ini banyak orang menyangka bahwa puasa itu adalah sebuah ibadah yang hanya bersifat spiritual, ternyata puasa itu adalah keperluan hidup manusia yang menginginkan hidup lebih sehat, dan hidup lebih lama.

Pada awal tulisannya Bragg menyatakan bahwa binatang dalam kehidupannya telah mengetahui dengan instink yang diberikan kepadanya bagaimana untuk hidup, apa yang harus dimakan, dan apa yang harus diminum. Secara instink, makhluk binatang juga mengetahui bagaimana mereka harus berpuasa jika mereka terluka atau sakit. Secara alami, binatang hanya memakan apa saja yang baik untuk mereka, tetapi banyak manusia memakan apa saja dan berapa pun banyaknya tanpa menghiraukan apakah makanan itu akan berpengaruh kepada kehidupannya. Padahal kita mengetahui bahwa apa saja yang kita makan pasti akan diproses di dalam perut kita sehingga ada yang dapat hancur menjadi darah dan daging, ada juga yang harus dibuang, baik melalui kotoran ataupun keringat. Bahkan, bila makanan itu bersifat kimiawi, yang tidak bisa diproses oleh tubuh, bisa berakibat tubuh menjadi keracunan, bisa terkena toksid dan residu dalam badan manusia.

Badan manusia adalah laksana mesin, yang memproses makanan yang masuk ke dalam tubuh untuk menjadi tenaga, sehingga manusia dapat bergerak dengan baik. Sebagaimana layaknya sebuah mesin, maka tubuh manusia juga memerlukan waktu istirahat, sehingga mesin tersebut dapat berjalan dengan lancar, dan sebaliknya dengan memberikan masa istirahat alias turun mesin, maka mesin itu akan bekerja seperti baru lagi. Demikian juga dengan tubuh manusia, semua organ tubuh yang menjalankan tugas masing-masing memerlukan waktu istirahat. Dalam kajian kesehatan, menurut buku tersebut, bahwa dalam setiap seminggu tubuh manusia itu memerlukan istirahat total selama duapuluh empat jam, atau dalam sebulan tubuh memerlukan istirahat selama tiga hari, atau dalam setahun maka dia memerlukan istirahat selama tigapuluh hari. Ini bukan sebuah kebetulan, jika dalam ajaran agama islam kita mengenal dalam setiap minggu ada puasa sunat hari senin dan kamis, dalam setiap bulan ada puasa sunat selama tiga hari berturut-turut yaitu tanggal 13, 14 dan 15, berdasar kalender bulan hijriyah, dan dalam setahun umat islam diwajibkan untuk berpuasa ramadhan selama satu bulan (28, 29 atau genap 30 hari). Subhanalah... berarti memang Allah Taala telah menetapkan suatu hukum puasa, baik itu puasa sunat seperti puasa sunat senin–kamis dan pusa sunat tiga hari dalam sebulan apalagi puasa wajib di bulan ramadhan sebagai suatu keharusan untuk menjaga kesehatan badan yang diperlukan oleh tubuh manusia.

Laksana baterei, maka puasa adalah proses “recharge“ (ngecas ulang) energi yang sangat diperlukan oleh tubuh; dan laksana mesin, puasa adalah proses turun mesin yang diperlukan oleh seluruh organ dalam tubuh. Kesehatan tubuh yang diakibatkan oleh puasa itu mengakibatkan kepada kesehatan mental dengan terkontrolnya nafsu sehingga membentuk keseimbangan dan ketenangan jiwa yang sangat diperlukan oleh kehidupan manusia modern. Keseimbangan dan ketenangan jiwa ini akan mengakibatkan kepada kejernihan berpikir dan bersikap. Kejernihan berpikir akan buah pikiran yang bijak dan ide-ide yang cemerlang yang sangat diperlukan oleh seseorang di tengah menghadapi segala persoalan hidup. Itulah sebabnya banyak pemimpin dunia membiasakan berpuasa untuk membentuk kejernihan berpikir dan tindakan yang bijaksana. Hippocrates, Bapak kesehatan Yunani berkata “Badan dan jiwa akan bekerja berama-sama. Apa saja yang terjadi di dalam badan akan mempengaruhi jiwa dan pikiran, demikian juga sebaliknya. Pikiran dan badan tidak dapat dipisahkan. Jika keduanya tidak dapat bersatu, maka stres emosi dan stress fisikis tak akan dapat dielakkan“.

Menurut Bagg, pemimpin yang bijak sejak dari dahulu kala telah membiasakan diri dengan puasa, seperti Zoroaster, Socrates, Plato, Aristoteles, Hippocrates, sampai kepada Confusius dan Gandhi. Bragg dalam buku tersebut menceritakan bahwa pada bulan Juli 1946 dia pernah menemani Gandhi yang mengadakan perjalanan ke seluruh pelosok India untuk kampanye kemerdekaan. Gandhi melakukan perjalanan dari satu kampung masuk ke satu kampung yang lain dengan berjalan kaki, juga dengan melakukan puasa selama perjalanannya, yang memakan waktu tiga minggu. Pada waktu itu Gandhi berusia tujuh puluh tujuh tahun, tetapi kata Bragg, dia tidak terlihat letih, malahan dalam perjalanan tersebut dia melihat bahwa Gandhi dengan penuh kekuatan yang luar biasa, baik secara mental maupun fisikal. Walaupun berjalan di tengah gurun yang begitu terik, Gandhi tidak menampakkan rasa lelah, dia terus berjalan, dan hanya berhenti selama dua puluh menit jika berbicara dengan penduduk kampung dan menjawab pertanyaan selama dua puluh menit lagi, kemudian dia meneruskan perjalanan sucinya tersebut. Sewaktu ditanyakan kepadanya apa rahasia kekuatan tubuh dan semangatnya itu Mahatma Gandhi, bapak spiritual India itu menjawab : “All the vitality and energy I have, comes to me because my body is purified by fasting“. (seluruh kekuatan dan energi yang datang kepadaku adalah disebabkan oleh badan yang bersih melalui puasa). Oleh sebab itu, Gandhi menganjurkan kepada rakyatnya untuk melakukan puasa sebab “The light of the world will illuminate within you when you fast dan purify your self “. (cahaya dunia akan bersinar dari dalam diri kamu, jika kamu melakukan puasa dan pembersihan diri).

Di Klinik Pyrmont, Jerman, Dr. Otto Buchinger dan kawan-kawannya telah menyembuhkan banyak pasien dengan terapi puasa. Penyembuhan meliputi penyakit fisik dan kejiwaan, sehingga bisa dikatakan sebagai psiko-fisio terapi. Setelah para pasien dirawat secara medis selama sekitar 2-4 minggu dan berdisiplin puasa, ternyata mereka lebih segar kembali baik secara fisik maupun secara mental. Mereka juga lebih bergairah hidup. Menurut pengalaman terapi di klinik ini, berbagai penyakit seperti ginjal, kanker, hipertensi, depresi, diabetes, maag dan insomania dapat disembuhkan melalui puasa. Demikian juga yang terjadi di Moskow Institute of Psychiatry. Menurut Dr. Yuli Nekolar, setelah mengadakan riset dia menyatakan bahwa upaya penyembuhan secara medis yang disertai dengan puasa, hasilnya akan lebih baik dan lebih cepat. Hal ini juga telah dibuktikan oleh para pasein yang menjalani terapi puasa di klinik Health Spa di Amerika. (dikutip dari Mailist Internet tentang puasa :Google Search Engine)

Aspek Psikologis
Bila anda ingin selalu dibaluti rasa optimisme, penuh harapan, cita-cita dan kebahagiaan, maka lakukanlah puasa. Mengapa puasa bisa menumbuhkan semangat dan optimisme hidup? Apakah benar puasa bisa menjadikan seseorang penuh harapan, suka cita dan kebahagiaan? Ada beragam manfaat dan hikmat puasa, berkaitan dengan psikologi (kejiwaan) manusia, diantaranya adalah:
  1. Melatih kesabaran. Bayangkan, selama lk. 14 jam dari mulai terbit fajar (shubuh) sampai terbenam matahari (maghrib) tidak makan dan minum. Secara fisik biologis, tidak bisa dipungkiri, tubuh akan terasa lemas, lemah, letih dan lesu. Secara tidak langsung, jiwa kita dilatih untuk sabar dan tabah dalam menjalani proses ujian ini. Dan bila berhasil, artinya bisa tuntas sampai maghrib, ada rasa bahagia, sukses dan suka cita tiada terkira yang dirasakan oleh jiwa. Kesabaran menjalani ujian dan pelatihan, berbuah sukacita dan kebahagiaan.
  2. Melatih pengendalian diri. Tidak makan dan minum di siang hari, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa merusak puasa, adalah ujian pengendalian diri. Manakala kita mampu menjalaninya, artinya bisa menuntaskan kewajiban puasa sampai menjelang buka, selama satu bulan penuh, sungguh suatu kepuasan, kebahagiaan, kesuksesan dan keberhasilan jiwa, yang akan melahirkan rasa bahagia tiada terkira. Itulah makna dari ibadah puasa, yang akan menimbulkan rasa optimisme, bahagia dan suka cita.
  3. Menanamkan dan mengembangkan optimisme berkelanjutan. Selama Ramadhan, tiada hari tanpa merajut dan merenda harapan dan optimisme. Walau terasa lelah, letih, lesu, lapar dan haus di siang hari, namun segumpal harapan tetap tertanam kuat, karena ada saat istimewa yang ditunggu-tunggu, yaitu buka puasa pada waktu maghrib tiba. Setiap detik yang dilalui terasa begitu istimewa. Sehingga ada perasaan sayang, kalau tidak mengisinya dengan ragam kegiatan penambah keimanan dan ketakwaan, misalnya membaca al Qur’an sampai khatam, membaca buku-buku keislaman, atau buku-buku lainnya yang bisa menambah motivasi dan energi hidup.
Aspek Sosiologis dan Humanis
Apa yang dimaksud dengan aspek sosiologis dan humanis dikaitkan dengan puasa? Apakah benar, bulan puasa, bisa melahirkan rasa solidaritas dan kepedulian kepada sesama? Apa kaitan puasa dengan aspek kemanusiaan? Bulan Ramadhan adalah bulan kemanusiaan, kepedulian sosial dan cinta sesama. Bulan yang tidak membedakan antara kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat, antara kaum elit maupun alit. Rasa lapar, haus, letih dan lelah, saat menjalankan ibadah puasa, apalagi bagi yang sama-sama menjalankannya, ada perasaan senasib dan sepenanggungan, yang pada akhirnya akan melahirkan solidaritas kemanusiaan yang kental dan kuat (altruisme). Yang kaya dan kaum elit maupun pejabat rela membantu kaum miskin dan alit. Hal ini, diperkuat pula dengan beragam dalil naqli, baik yang ada di dalam Al Qur’an maupun hadis-hadis Rasulullah SAW, tentang berbagai keutamaan bulan Ramadhan, khususnya yang berkaitan dengan aspek solidaritas kemanusiaan.

Aspek Ekonomis dan Ekologis
Apa kaitan ibadah puasa dengan aspek ekonomi dan ekologi? Fungsi dan manfaat apa yang bisa didapatkan dari ibadah puasa, berkaitan dengan kehidupan ekonomi masyarakat dan ekologi (lingkungan)? Apakah benar, bulan Ramadhan, bisa dijadikan momentum bulan efisiensi dan penghematan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan? Secara ideal, seharusnya pada saat bulan puasa, tingkat konsumsi makanan, minuman dan lain-lainnya, bisa ditekan dan dikurangi. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Karena saat orang melakukan puasa, kegiatan makan dan minum, biasanya hanya berlangsung saat buka dan sahur saja, tidak lebih tidak kurang. Seteguk air putih dan beberapa butir kurma maupun makanan manis khas di bulan Ramadhan, yang dikonsumsi saat berbuka, biasanya cukup mengenyangkan. Terkecuali bagi orang yang memang dari dulunya sudah rakus, “gembul” dan “leuleuwiheun”.

Ketika pengurangan tingkat konsumsi terjadi, maka secara tidak langsung ada upaya efisiensi dan penghematan massal. Bila konsumsi berkurang, maka jumlah sampah rumah tangga yang dihasilkan dalam beragam bentuknya, setidaknya akan berkurang pula. Tidak bisa dibantah, bahwa hampir semua kemasan makanan saat sekarang ini, hampir seluruhnya menimbulkan sampah. Beragam jenis sampah yang dihasilkan dari rumah tangga seperti plastik, kertas, bungkus-bungkus dan sebagainya, yang selama ini hampir memenuhi di berbagai tempat, jalan, sungai, got, pasar, sekolah, rumah dan tempat-tempat lainnya, yang tidak bisa dipungkiri, menjadi ciri khas kebiasaan dan lingkungan masyarakat di tanah air, bahkan akhir-akhir ini fenomena sampah menjadi momok menakutkan, setidaknya akan berkurang drastis. Jika pada bulan Ramadhan, ternyata kita mampu mengurangi jumlah sampah dari sisa-sisa makanan, alangkah indah dan bersihnya, kalau kemampuan berhemat dalam mengkonsumsi makanan yang banyak menimbulkan sampah ini, menjadi kebiasaan 11 bulan kemudian. Dipastikan, fenomena gunung dan semrawutnya sampah di berbagai tempat akan berkurang secara signifikan. Tapi mungkinkah?


Pelaksanaan Ramadhan
Agar apresiasi dan penghayatan terhadap ibadah shaum (puasa) selama bulan Ramadhan bisa lebih tajam meningkat, sehingga bisa meraih dan mereguk hikmah, pesona dan keindahannya secara maksimal, sesuai dengan tuntutan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, maka setiap individu muslim perlu melakukan berbagai kegiatan, antara lain :

Persiapan. Kegiatan persiapan ini meliputi beberapa hal penting, diantaranya:
  • Membersihkan jiwa, hati dan perasaan (tazkiyatunnafsi)
  • Menguatkan niat dan tekad, misalnya puasa kali ini harus lebih baik dari puasa kemarin, saya harus khatam minimal 2x dalam puasa ini, saya harus lebih banyak bershodaqoh lagi dan seterusnya.
  • Silaturrahmi dan Mushofahah diantara sesama keluarga, saudara, teman-teman serta kaum muslimin pada umumnya, agar bisa saling membebaskan dari segala kekotoran hati dan saling memaafkan
  • Menambah dan meningkatkan penghayatan, ilmu dan wawasan tentang keutamaan shaum Ramadhan melalui kegiatan membaca, ngaji dan ngelmu, mendengar ceramah (audio visual) dan sebagainya.
Pelaksanaan. Ada 3 kegiatan ibadah utama di bulan Ramadhan, yaitu :
  • Imsak, yaitu menahan dan mengendalikan diri jasmani maupun ruhani. Pengendalian Jasmani menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami isteri di siang hari. Sedangkan secara ruhani, menjaga diri dari segala sesuatu yang bisa mengurangi nilai puasa, seperti mengumpat, mendengki, menyakiti orang lain dan sebagainya.
  • Rattil Al-Qur’an (membaca al Qur’an). Ramadhan adalah Syahrul Qur’an (bulan mengakrabi Al Qur’an). Usahakan untuk selalu membaca al Qur’an sepanjang Ramadhan, minimal 1x khatam, lebih baik lagi kalau bisa berkali-kali khatam.
  • Qiyamullail (shalat malam). Kebanyakan kaum muslimin melakukan Qiyamullail setelah shalat Isya, atau lebih dikenal dengan Shalat Tarawih. Secara harfiyah, shalat tarawih yaitu shalat yang dilakukan secara berjama’ah, dalam suasana santai, berselang-seling antara shalat dengan istirahat. Walau dalam kenyataannya, sebutan yang pantas adalah Shalat Tajawir, karena kebanyakan dilakukan “ngebut”, dengan ciri bacaan imam yang khas dan cepat, hampir tidak ada jeda sama sekali. Ada yang 11 raka’at, 8 raka’at plus 3 witir, ada juga yang 23 raka’at, 20 raka’at plus 3 witir. Manakah diantara keduanya yang paling benar? Kita jangan terlalu memusingkannya, karena memang masing-masing memiliki dalil sandarannya. Yang salah adalah mereka yang tidak pernah tarawih. Namun kalau kita ingin benar-benar mencontoh Qiyamullail Rasulullah SAW beserta para sahabat, maka lakukanlah Qiyamullail itu pada sepertiga malam, yaitu antara jam 1 s/d 3 malam, setelah kita istirahat tidur malam. Dalam suasana hening dan dinginnya malam, saat itulah, sebenarnya bisa kita dapatkan dan rasakan “sensasi” dan nikmatnya shalat malam. Apalagi setelahnya dilanjutkan dengan Rattil al Qur’an. Sungguh suatu pengalaman ruhani spiritual yang indah, eksotis tiada terkira. Penasaran? Mau mencoba?

Sunnah-sunnah Ramadhan. Selama melaksanakan shaum Ramadhan, perbanyaklah amalan-amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, diantaranya :
  • Menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur.
  • Memperbanyak infaq dan shodaqoh, terutama kepada anak-anak yatim, fakir miskin, janda, jompo, orang-orang tidak mampu.
  • Memperbanyak bacaan wirid, dzikir dan doa.
Menjelang Akhir Ramadhan. Sunnah Rasulullah SAW beserta para sahabat, bila menjelang akhir Ramadhan dan memasuki ‘Iedil Fitri, justru mereka lebih intensif dan lebih memperbanyak kegiatan ibadah, antara lain:
  • Melakukan I’tikaf, yaitu berdiam diri di mesjid dengan memperbanyak membaca al Qur’an, wirid, dzikir dan doa
  • Menunaikan zakat fitroh
Hari Raya ‘Iedul Fitri.
  • Bila sudah memasuki malam ‘Iedul Fitri, memperbanyak bacaan Takbir, Tahmid, Tasbih dan Tahlil sampai menjelang sholat ‘Iedil Fitri, baik secara kelompok maupun sendirian.
  • Menunaikan Shalat Sunnah ‘Iedul Fitri. Sunnah Rasulullah SAW beserta para sahabat melaksanakan shalat ‘iedil fitri di lapangan. Kecuali kalau hujan, maka shalat dilaksanakan di mesjid.
  • Disunnatkan untuk mandi besar, memakai minyak wangi dan mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki.
  • Bersilaturrahmi dan mushofahah dengan sesama saudara, tetangga dan kaum muslimin. Berbagi bahagia di hari kemenangan, saling memaafkan dan membebaskan.

Dengan ragam pelatihan diri yang dilakukan selama Ramadhan, didasari keikhlasan, rendah hati, penuh rela dan keridloan, diharapkan kebiasan-kebiasaan baik selama satu bulan tersebut, diharapkan menjadi kebiasaan terus menerus dilakukan oleh kaum muslimin selama 11 bulan kemudian. Bila hal itu telah menjadi kepribadian dan kebiasaan diri, berbahagialah Anda, itu berarti pertanda Anda telah mendapatkan lailatul qodar.

Apa itu Lailatul Qodar? Secara generik bahasa, Lailatul Qodar terdiri dari 2 kata, Lailatul artinya suatu malam dan Qodar memiliki berberapa arti diantaranya kepastian, hitungan, terukur, rasional, sistematis dan harmonis. Seperti firman Allah SWT: Wa Khalaqna Kulla Syaiinbiqodarin , “kami ciptakan segala sesuatu dengan qadar, artinya terukur, rasional, penuh perhitungan, sistematis dan harmonis”. Sehingga dari keqodarannya ciptaan Allah, manusia bisa menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai dengan sekarang.

Dengan demikian, arti Lailatul Qodar secara bahasa bermakna malam yang penuh dengan kepastian, perhitungan, terukur, sistematis dan harmonis. Berdasar keterangan al Qur’an, Lailatul Qodar, seperti dijelaskan dalam QS. Al Qodar, nilainya lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun), para malaikat turun ke bumi bersama malaikat Jibril dengan izin Allah membawa kedamaian, ketenangan dan ketentraman, hingga terbit waktu fajar. Dalam ayat lain, lailatul qodar disebut juga dengan lailatul mubarokah, malam yang penuh dengan keberkahan.

Secara psiko-religi-spiritual, orang yang mendapatkan Lailatul Qodar, tentu saja setelah melewati proses pelatihan diri (self Training) melalui puasa, shalat malam, membaca dan memaknai al Qur’an, mengaji dan mengkaji, merenung disertai wirid, dzikir dan istighfar (kontemplasi dan meditasi), berarti orang yang telah tertanam di dalam hati, fikiran dan jiwanya keyakinan, kepastian dan perhitungan hidup, untuk apa diciptakan, apa yang harus dilakukan selama hidup di dunia dan hendak kemana akhir tujuan hidupnya. Sehingga dalam menjalani hidup, orang tersebut akan lebih optimis, besar keyakinan, sabar, ikhlas dan tawakkal, tidak mudah putus asa dan menyerah, namun bertindak hati-hati, waspada, dan penuh perhitungan. Sehingga hidupnya akan berlimpah dengan keberkahan, kemurahan, kemudahan, kedamaian dan kebahagiaan. Mungkinkah kita termasuk golongan orang tersebut? Yaitu mereka yang telah menyerap dan menghimpun qadar Allah dalam dirinya, sehingga benar-benar merasakan hidup penuh dengan sensasi surgawi. Insya Allah, Andapun bisa, mengapa tidak?
Wallahu A'lam Bisshowwab....

Menjelang dan selama bulan Ramadhan 1435 H, YAYASAN WAKAF TARBIYATUN NISAA BOGOR, siap  kembali menampung, menghimpun dan menyalurkan INFAQ, SHADAQOH, ZAKAT, WAKAF Bapak/Ibu/Sdr/Sdri. Pemberian bisa dilakukan dengan cara: 
a. Transfer melalui rekening bank
b. Transfer melalui Pos Wesel
c. Diberikan langsung ke tempat kami
d. Atau petugas kami yang menghubungi
Teriring doa dari kami, mudah-mudahan kita masih diberikan keesempatan melaksanakan Ibadah Shaum Ramadhan, dalam keadaan sehat walafiyat, aman, tenang dan nyaman.  Dan semoga bentuk kebaikan yang Bapak/Ibu/Sdr/Sdri, akan menambah keberkahan nilai ibadah Shaum Ramadhan yang dijalankan, dan mendapat balasan Allah SWT dalam bentuk kemudahan, kemurahan dan keberlimpahan. Amin Ya Rabbal 'Alamin....
Selengkapnya »»»

SHAUM RAMADHAN, SUGUHAN LANGIT DI BUMI FANA-1

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Sabtu, 28 Juni 2014, 16.41 Kategori: - Komentar: 1 komentar

Shaum Melangitkan Bumi,
Membumikan Langit

Kita bukan manusia yang mengalami pengalaman spiritual. 
Kita adalah makhluk spiritual  
yang mengalami pengalaman manusia. 
Teilhard de Chardin

Sahabat Mu’adz bin Jabbal r.a. berkata, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Ya Mu’adz, maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Ingin sekali ya Rasul, jawabku. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Shaum (Puasa) adalah penangkal siksa neraka, sedangkan shodaqoh dapat menghapus dosa sebagaimana air dapat mematikan api.” (HR. Tirmidzi)

Sahabat Abu Hurairoh r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Allah azza wa jalla telah berfirman, seluruh amal manusia adalah miliknya, kecuali shaum (puasa). Puasa adalah milik-Ku, dan aku yang akan memberinya balasan khusus. Puasa adalah perisai neraka. Apabila salah seorang diantara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berbicara kotor dan keji. Apabila ada seseorang yang mencaci atau mengajak berkelahi, maka katakanlah: “Aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang diri Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, bau mulut orang puasa, lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak wangi. Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah SWT Tuhannya. (HR Bukhory dan Muslim).
Respons dan Apresiasi
Kesan apa yang didapatkan setiap bulan Ramadhan tiba? Mengapa ia selalu hadir di setiap tahun? Ada apa sebenarnya di balik Ramadhan ini? Kalau memang ia berkaitan dengan pembinaan keshalehan diri, adakah agenda atau program peningkatan dan pengembangan kualitas keimanan dan ketakwaan diri yang bisa dilakukan selama Ramadhan? Adakah target yang ingin dicapai selama bulan Ramadhan? Ataukah sama sekali “blank” alias tidak punya agenda apapun? Bahagiakah atau merasa tersiksakah?

Ramadhan, tidak dapat dipungkiri, kehadirannya diapresiasi dengan ragam respons, persepsi dan apresiasi kaum muslimin dalam mensikapinya. Ada sebagian orang muslim, yang berbahagia penuh suka cita dalam menyambut dan menjalankannya. Senandung puji dan rasa syukur, mereka panjatkan, sebagai ungkapan rasa bahagia tiada terkira, karena mereka masih diberikan kesempatan untuk mereguk, menghirup dan menikmati kembali indahnya bulan suci Ramadhan. Inilah kelompok kaum muslimin maksimalis, yang telah banyak mendapatkan hikmah, keutamaan, keindahan dan pesona Ramadhan. Pertanda, bahwa kadar dan kualitas keimanan mereka sudah terbentuk dan tertanam kuat.

Namun tak sedikit pula, sebagian kaum muslimin yang merasa tersiksa dan setengah terpaksa menyambut dan menjalankannya. Uh, puasa lagi, puasa lagi. Cepat sekali datangnya puasa ini! Itulah ungkapan tanpa sadar, yang keluar dari mulut mereka, sebagai ekspresi ketidak ikhlasan dan ketidak ridloan datangnya bulan suci Ramadhan. Inilah kelompok kaum muslimin minimalis, yang beranggapan bahwa kehadiran bulan suci Ramadhan, hanyalah belenggu dan siksaan. Mereka sama sekali tidak mendapatkan apapun dari setiap hadirnya bulan Ramadhan. Sebagai pertanda, bahwa kadar dan kualitas keimanan mereka belum terbentuk dan tertanam kuat. Mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: kurangnya pengetahuan dan keilmuan tentang Ramadhan khususnya dan ajaran Islam pada umumnya, terlalu sibuk dan terikat dengan kesenangan dan kenikmatan duniawi, atau memang hidupnya tidak memiliki arah dan tujuan dan lain sebagainya.

Yang perlu dipertanyakan sekarang adalah, di kelompok manakah keberadaan kita, saat menyambut bulan suci Ramadhan ini? Apakah termasuk kelompok pertama ataukah masuk katagori kelompok kedua? Jika anda berada di kelompok pertama, berbahagia dan beryukurlah, pertanda rahmat, taufik, hidayat dan barakah Allah SWT telah masuk, mengalir, menyelusup dan bersemi di seluruh sel-sel syaraf, hati, fikiran, jiwa, perasaan dan seluruh metabolisme ragawi dan ruhani anda. Sebaliknya, bila anda masih termasuk katagori kedua, hati-hati dan waspadalah! Pertanda, masih jauhnya rahmat, taufik dan hidayat Allah SWT, sehingga barakah dan kebahagiaan tidak pernah muncul di hati dan seluruh kehidupan anda.

Apakah yang harus dilakukan, agar kita terhindar dan tidak termasuk kelompok kedua ini? Tiada lain tiada bukan, kita harus belajar dan berusaha mendapatkan pengetahuan, wawasan, hikmat dan pesona Ramadhan melalui kegiatan “ngelmu”, ngaji, membaca dan bergaul dengan orang-orang sholeh dan berilmu, yang dianggap bisa memberikan pencerahan dan cahaya hidup kepada Anda. Di mana dan kapan saja, asal ada kemauan dan usaha, pasti anda akan menemukannya. Salah satunya termasuk, menyimak dan menelaah makalah sederhana ini. Mudah-mudahan sedikit banyak membantu membuka hati, jiwa, perasaan dan nurani Anda, tentang dahsyat dan luar biasanya makna dan nilai ibadah Shaum Ramadhan yang akan kita jalankan ini. Semoga ...

Ramadhan Bulan Pelatihan Diri (Self Training)
Ibadah puasa (shaum) merupakan salah satu rukun Islam, yang dianggap sebagai bagian dari proses pembinaan ruhani, spiritual dan keimanan seorang muslim, agar kadar dan kualitas keimanan ketakwaannya kepada Allah SWT, senantiasa terus menerus meningkat. Karena ia sebagai pembinaan, maka kehadiran dan kegiatannya akan terus senantiasa berulang setiap setahun sekali.

Di samping, shalat, syahadat, zakat dan haji, ibadah shaum (puasa) merupakan ibadah badaniyah sekaligus ruhaniyah, namun ibadah ini memiliki keistimewaan dibanding ibadah-ibadah yang lainnya. Dalam beberapa hadis qudsi dikatakan, setiap amal kebaikan akan dibalas Allah SWT sepuluh kali lipat, kecuali ibadah puasa. Ia hanyalah milikku, dan terserah kepadaku untuk membalasnya sesukaku. Inilah kelebihan bulan dan ibadah puasa Ramadhan dibanding ibadah-ibadah yang lainnya. Mengapa ibadah puasa ini memiliki keistimewaan dibanding ibadah-ibadah yang lainnya? Apa fungsi-fungsi yang dimiliki oleh ibadah puasa ini? Itulah barangkali ragam pertanyaan yang mungkin diajukan oleh orang yang merasa penasaran dengan keistimewaan yang ada di bulan puasa ini.

Di bawah ini akan diuraikan secara ringkas, beragam kelebihan ibadah shaum (puasa) dalam berbagai dimensi persepsi dan penafsiran. Yang satu dengan lainnya, memiliki keterkaitan dan jalinan yang sangat erat tidak bisa dipisah-pisahkan, antara lain dalam berbagai aspek sebagai berikut :

1. Aspek Religius Spiritual
2. Aspek Fisik Biologis
3. Aspek Psikologis
4. Aspek Sosiologis dan humanis
5. Aspek Ekonomis dan Ekologis
6. dan lain-lain

Aspek Religius Spiritual
Apa manfaat dan fungsi puasa bagi keagamaan dan kespiritualan seseorang? Apakah benar bahwa puasa bisa meningkatkan kualitas ruhani seseorang? Apakah benar puasa bisa menjadikan seseorang lebih sholeh dan selalu ingin berbuat baik? Mengapa kesholehan itu hanya terlihat di bulan Ramadhan saja, sementara 11 bulan kemudian, tidak berkembang? Mengapa hal itu bisa terjadi? Itulah barangkali ragam pertanyaan yang mungkin timbul sebagai respons terhadap fungsi shaum terhadap aspek ruhani/spiritual seseorang. Kenapa masih banyak orang Islam, yang tidak mau dan taat melaksanakan ibadah puasa ini? Apakah ibadah shaum ini begitu memberatkan, sehingga banyak orang muslim yang tidak kuat menjalankannya? Perintah ibadah puasa ini sangat berkaitan erat dengan keimanan. Ayat yang sudah dikenal umum tentang puasa adalah Qs. 2 (Al Baqoroh: 183) : “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian ibadah puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang bertakwa”

Bila memperhatikan ayat di atas, ada beberapa penjelasan yang bisa kita tangkap, yaitu : Pertama, jelas sekali, ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang meyakini sepenuh hati tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT. Sehingga, tidak ada keberatan bagi mereka untuk melaksanakan ibadah shaum ini, karena mereka sudah meyakini dan mempercayai, bahwa apa yang diperintahkan Allah SWT pasti ada manfaaat dan hikmat yang terkandung di dalamnya. Kedua, ibadah shaum (puasa) merupakan ibadah primitif turun temurun. Artinya tidak hanya untuk umat nabi Muhammad SAW saja, namun umat-umat nabi lain sebelumnyapun mendapatkan perintah yang sama. Ketiga, puasa bertujuan untuk membentuk dan melahirkan ketakwaan. Apa itu takwa? Secara sederhana, istilah takwa bisa diartikan kondisi mental ruhani spiritual seseorang yang terikat dan terkait dengan kesadaran akan asal muasal jati dirinya. Darimana ia berasal, untuk apa ia diciptakan dan hendak ke mana muara akhir kehidupannya. Istilah lain yang lebih sederhana, TAKWA bisa diartikan manajemen hidup berbasis Allah.

Apa saja fungsi ibadah puasa bagi kehidupan ruhani, religius atau spiritual seseorang? Di bawah ini akan diuraikan secara ringkas, berdasarkan pengalaman dan interpretasi pribadi tentang ibadah puasa yang dijalani, diantaranya adalah :

1. Reposisi Restrukturisasi Alam Ruhani dalam Diri. 
Dalam diri manusia sebenarnya ada elemen-elemen langit atau yang disebut dengan aspek ruhani. Dengan ibadah puasa, elemen ruhani ini dibangkitkan dan disuburkan kembali. Bahwa manusia ini sebenarnya adalah makhluk langit, makhluk surga, makhluk ruhani, yang bertanggung jawab atas perjanjian ruhaninya pada saat diciptakan, bahwa ia hanya mengakui Allah SWT sebagai Tuhan yang harus diabdi dan disembah. Dengan ibadah puasa, maka jiwa dan diri manusia disadarkan kembali, bahwa elemen penting dalam diri manusia yang memiliki keterkaitan dengan Allah SWT adalah aspek ruhani atau spiritualnya. Sehingga manusia kembali sadar dan tahu diri, dari mana dan hendak kemana ia akan pergi dan kembali. Ketika kesadaran ini tumbuh subur dan berkembang dalam diri manusia, maka ia akan memancarkan nilai-nilai baik dari dalam dirinya, dan akan memberikan manfaat kepada manusia lain yang ada di sekitarnya. Dengan tidak makan, minum dan bergaul suami isteri di siang hari, serta meninggalkan segala hal yang bersifat bumi, ternyata manusia bisa dan kuasa. Ia bisa menempatkan aspek duniawi benar-benar di bawah pijakan ruhani spiritualnya, dan ternyata ia bisa membebaskan diri dari ketergantungan terhadap bumi yang bersifat duniawi.

2. Ketakwaan Manusia bisa melebihi Malaikat. 
Apa yang menyebabkan malaikat disuruh sujud kepada Adam? Tiada lain tiada bukan, adalah kelebihan manusia dibanding malaikat adalah ilmu dan kemampuan mengembangkan dirinya menjadi manusia ruhani, padahal ia terikat kuat dengan elemen bumi. Sedangkan malaikat hanya tercipta dari cahaya, yang dibuat hanya untuk taat dan mengabdi pada Allah. Namun manusia tercipta dari dua unsur yang saling dorong mendorong dan mempengaruhi, yaitu ruhani yang berdimensi langit, nafsu yang berdimensi bumi. Ketika manusia mampu membebaskan dirinya dari ketergantungan kepada bumi, dan hanya satu yang ia munculkan yaitu ketinggian ruhani langit, maka itulah kualitas dan prestasi manusia, sehingga malaikat disuruh sujud hormat kepada manusia. Salah satu media yang bisa menjadikan manusia bisa melebihi malaikat adalah ibadah puasa.

3. Menjadikan dan Menghadirkan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan. 
Dengan ibadah puasa, maka jiwa dan ruhani manusia direstrukturisasi dan direkonstruksi kembali, bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Manusia tidak memiliki apapun, semuanya berasal dari Allah SWT, tubuh kasar yang kita gunakan, hati, batin dan akal fikiran yang kita manfaatkan, semuanya berasal dariNya. Manusia tak memiliki sedikitpun, semuanya adalah pemberian dari Nya. Manusia hanya diberikan hak guna pakai dan pemeliharaan. Suatu saat, semua yang kita miliki akan dikembalikan lagi kepada sang pemiliknya, yaitu Allah SWT. Inilah tujuan dari pelaksanaan ibadah puasa, yaitu mengembalikan kesadaran dan kesejatian diri manusia, bahwa semua berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya, dan di akhirat nanti, manusia akan dituntut dan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT atas segala karunia, anugerah dan berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya. Oleh karenanya, tak pantas dan alangkah bodohnya manusia yang takabbur, sombong, adigung adiguna, menganggap bahwa apa yang ada pada dirinya adalah miliknya, kekayaan, kekuasaan, kehebatan, kepopuleran dan ragam assesories duniawiyah adalah kepunyaannya. Alangkah kasihan dan terhinanya manusia seperti itu. Karena sebenarnya, itu semua adalah titipan Allah SWT sang Pemilik Sejati kehidupan, dan semua akan dikembalikan kepadaNya, suka ataupun terpaksa, pasti akan kembali menuju kepadaNya. Inilah kesejatian Tauhid, Akidah dan Keyakinan kepada Allah SWT.
Bersambung....
Menjelang dan selama bulan Ramadhan 1435 H, YAYASAN WAKAF TARBIYATUN NISAA BOGOR, siap  kembali menampung, menghimpun dan menyalurkan INFAQ, SHADAQOH, ZAKAT, WAKAF Bapak/Ibu/Sdr/Sdri. Pemberian bisa dilakukan dengan cara: 
a. Transfer melalui rekening bank
b. Transfer melalui Pos Wesel
c. Diberikan langsung ke tempat kami
d. Atau petugas kami yang menghubungi
Teriring doa dari kami, mudah-mudahan kita masih diberikan keesempatan melaksanakan Ibadah Shaum Ramadhan, dalam keadaan sehat walafiyat, aman, tenang dan nyaman.  Dan semoga bentuk kebaikan yang Bapak/Ibu/Sdr/Sdri, akan menambah keberkahan nilai ibadah Shaum Ramadhan yang dijalankan, dan mendapat balasan Allah SWT dalam bentuk kemudahan, kemurahan dan keberlimpahan. Amin Ya Rabbal 'Alamin....
Selengkapnya »»»

KEGIATAN AKHIR TAHUN 2013/2014

Diposkan oleh Tarbiyatun Nisaa - Kamis, 26 Juni 2014, 14.49 Kategori: - Komentar: 1 komentar

HAFLAH AKHIR SANNAH 2014
Alhamdulilah, walau agak terlambat, tapi jelas masih teringat hangat, dan  tidak ada salahnya untuk tetap diposting, sebagai ekspresi rasa syukur dan bahagia, sekaligus bukti laporan kepada para orangtua/wali, atas keberhasilan, kelancaran dan kesuksesan kegiatan belajar mengajar selama satu tahun akademik 2013/2014. Dimulai perayaan akhir tahun RA/TKQ, hari Sabtu, 21 Juni 2014, dilanjutkan SDIT, Ahad, 22 Juni 2014, dilanjutkan TKQ/TPQ, Senin 23 Juni 2013, dan terakhir SMP digabung bersama wisuda Mahasiswi PGTKA, 24 Juni 2014.  

Menampilkan ragam kemampuan, keterampilan dan prestasi siswa siswi  dalam berbagai kegiatan: Membaca dan hafalan Al Qur'an, Pidato Bahasa Indonesia, Arab, Inggris dan Sunda, Kreasi Seni Suara dan Tari, Marawis, Operet, Drama Musikal, dan ragam pertunjukan eksotis dan "heboh" lainnya. 






Patut disyukuri, bahwa rata-rata lulusan RA/TKQ, sudah bisa membaca Al Qur'an, bahkan ada yang sudah khatam Al Qur'an sebanyak 15 orang. Untuk lulusan SDIT, ada yang sudah hafal Al Qur'an 3 juz, lulusan SMP, rata-rata hafal 2 juz dan mampu menterjamahkan Al Qur'an surat Al Baqoroh sebanyak 180 ayat. Sedangkan untuk lulusan PGTKA, mereka rata-rata langsung diminta untuk mengajar di TK-TK Paforit yang ada di sekitar Bogor.

Untuk itu, pengurus Yayasan Wakaf Tarbiyatun Nisaa Bogor, menghaturkan terima kasih atas segala dedikasi, pengabdian, ketulusan dan keseriusan para Kepala Sekolah, para guru, TU, Karyawan dan seluruh pihak yang terkait dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan dari mulai PESANTREN, RA/TKQ, TKQ/TPQ, SDIT, SMP dan PGTKA. Juga tak lupa, kami sampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para orangtua/wali, para donatur dan dermawan, yang senantiasa setia membantu  kami, baik materil maupun moril, sehingga kegiatan pendidikan yang kami kelola selama ini tetap bisa berjalan, dan mudah-mudahan makin berkembang maju terus di masa depan. 

Mudah-mudahan semua amal kebaikan yang telah dilakukan selama ini, menjadi amal ibadah di sisi Allah SWT, dan mendapatkan pembalasan yang berlipat ganda. Amin Ya Robbal 'Alamin .....
Pengumuman
Sekolah Islam Terpadu (SIT) Tarbiyatun Nisaa Bogor, Sekolah berbasis karakter, kesadaran Lingkungan dan Akhlak Islami. Masih tetap MEMBUKA PENDAFTARAN siswa/siswi baru T.A. 2014/2015, untuk tingkat: RA/TKQ - SDIT - SMP KHUSUS PUTERI BERASRAMA-TKQ/TPQ. Dibuka sejak bulan Maret s/d Juli 2014. Dan menerima pendaftaran mahasiswi baru program 1 tahun terampil PGTKA (Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Al Qur'an. Pendaftaran dibuka s/d Akhir Juli 2014, Kuliah dimulai Akhir Juli 2014.
Selengkapnya »»»