Selasa, 01 Agustus 2017

PEMBELAJARAN DAN PEMBERDAYAAN

SMP AHSANA
TARBIYATUN NISAA
SEKOLAH BERBASIS PEMBENTUKAN KARAKTER,
PEMBELAJARAN DAN PEMBERDAYAAN

PEMBELAJARAN
DAN PEMBERDAYAAN

EKSPLORASI POTENSI
Realitas yang ada, menunjukkan bahwa factor sarana dan prasarana, menjadi salah satu kekurangan yang masih ada di SMP Ahsana Tarbiyatun Nisaa, namun tetap penuh optimisme, mudah-mudahan suatu saat bisa terpenuhi.  Berdasar hal tersebut, maka focus khusus yang harus dilakukan di tahun ajaran 2017/2018 dan seterusnya adalah eksplorasi dan eksploitasi potensi siswa, dengan ragam pendekatan kreatif, tanpa harus meratapi kekurangan sarana dan prasarana selama ini. Dengan kata lain, sedikit apologi, bolehlah sarana dan prasarana masih sekelas “Hotel Melati” namun Program Pembelajaran sekelas “Hotel Bintang Lima”.

Menurut Edgar Dale (1969), salah seorang peneliti yang membuat prosentase pemahaman tentang kegiatan belajar. Menurutnya,  konsep belajar terbagi dua bagian: Passif dan Aktif. Termasuk katagori belajar Passif: Membaca = 1o% pemahaman, Mendengar = 20%, Melihat langsung = 30 %.  Sedang belajar Aktif: Diskusi/Presentasi = 70%, Praktik Langsung = 90% pemahaman.  Berdasar teori di atas, maka konsep pembelajaran aktif merupakan pilihan paling pas, agar siswa benar-benar faham, sadar dan mengerti, itulah prinsip belajar LIFE SKILL. 






EKSPLORASI KOGNITIF
Kaitan dengan pengembangan akademis, idealnya kalau memang ada dana yang yang memadai,  setiap siswa mendapatkan  Buku Pegangan dalam bentuk Buku Paket persemester. Namun  untuk sementara Pola pembelajaran bisa mengikuti pola Bimbel (Bimbingan Belajar) yaitu focus bahas soal.  Cukuplah dengan LKS atau Kumpulan Soal di tiap semester, sehingga tidak terpaku pada buku-buku terbitan,  yang selalu berubah-ubah, dengan harga yang relative mahal dan cenderung menjadi sampah. Untuk itu,  khusus untuk program Pembelajaran dan Pemberdayaan,  ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan, antara lain:

1.         Olah baca          (Literasi skill)
2.        Olah warta       (Narasi skill)
3.        Olah bicara      (Presentasi skill)

Ketiga pendekatan ini (baca,  warta dan bicara),  merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya, harus dilakukan secara bersama-sama, serentak, aktif dan seimbang,  dan dilaksanakan semenjak Kelas VII s/d IX.







OLAH BACA (Literasi Skill)
Membaca adalah “Causa Prima”, sebab yang paling utama, tumbuh dan berkembangnya Ilmu Pengetahuan, keterampilan dan kebijakan. Maka tidak ada cara lain, kecuali olah baca harus menjadi bagian utama proses pembelajaran dan pemberdayaan siswa.  Bagaimana cara menjadikan membaca, menjadi salah satu kegemaran dan kebiasaan siswa?

Teknis pembiasaan membaca siswa,  dilakukan dengan cara:
  1. Kegiatan membaca harus menjadi bagian dari system pembelajaran dan pemberdayaan siswa, sehingga masuk dalam katagori program wajib.
  2. Khusus program membaca, dilaksanakan setiap hari (Senin sd/ Jum’at) setelah Jam Belajar Kurikulum Diknas selesai dilaksanakan, yaitu mulai pukul 13.30 s/d 15.00 Wib
  3. Pola membaca, dilakukan secara terstruktur sistematis, mulai dari yang ringan, sedang sampai dengan bacaan berat
  4. Setiap hari minimal satu siswa membaca satu buku (one day one book)
  5. Maka target ideal dalam seminggu lk. 5 buku x 4 minggu = 20 buku/1 bulan x 12 bulan = 240 buku/ 1 tahun x 3 tahun = 720 judul buku selama 3 tahun terbaca oleh Siswa. Luar biasa!!!





OLAH WARTA (Narasi Skill)
Keterampilan menulis harus beriringan dengan kebiasaan membaca.  Yaitu setiap siswa, harus meresensi setiap buku yang dibacanya, tentu saja berdasar versi masing-masing siswa. Memang sulit, namun bila dijadikan salah satu program wajib pembelajaran, maka lama kelamaan siswa akan terbiasa menulis.

Adapun teknis pembiasaan menulis siswa, sama seperti pola teknis membaca di atas, hanya pola pendekatan sedikit berbeda yaitu dengan cara:
  1. Khusus program menulis, dilaksanakan setiap hari (Senin sd/ Jum’at) setelah Jam Belajar Kurikulum selesai dilaksanakan, yaitu mulai pukul 13.30 s/d 15.00 Wib
  2. Pola menulis, dilakukan secara terstruktur sistematis, mulai dari yang ringan, sedang sampai dengan tulisan panjang dan berat
  3. Setiap hari minimal satu siswa menulis ringkasan (resensi)  satu buku (one day one book)
  4. Maka target ideal  dalam seminggu lk. 5 resensi buku x 4 minggu = 20 resensi buku/1 bulan x 12 bulan = 240 resensi buku/ 1 tahun   x 3 tahun = 720 judul resensi buku selama 3 tahun berhasil ditulis Siswa. Luar biasa!!!
  5. Bila sarana Komputer sudah ada, dan memang harus diupayakan untuk diadakan, maka hasil karya tulis tangan siswa tersebut, dituliskan ulang oleh siswa sendiri melalui Program Microsoft Word, kemudian dicetak dan dibukukan. Sehingga setiap siswa di akhir kegiatan belajar,  masing-masing punya kenangan tulisannya sendiri. Sungguh luar biasa!!!




OLAH BICARA (Presentasi Skill)
Setelah siswa melakukan dua kegiatan membaca dan menulis, maka disempurnakan dengan program pembiasaan Presentasi, yaitu menyampaikan apa yang telah ditulis di depan teman-temannya secara bergiliran. Teknis penyampaiannya, siswa menjelaskan dan menerangkan isi buku yang dibacanya, berdasar hasil resensi yang telah dibuatnya. Sama halnya dengan membaca dan menulis. Bisa dipastikan selama 3 tahun, bila berjalan dengan lancar, disiplin dan konsisten, maka setiap siswa berlatih sebanyak  720 kali presentasi.  Luar biasa sekali!!!







APA SAJA YANG DIBUTUHKAN
Berkaitan dengan program di atas, agar target  capaiannya maksimal, maka setidak-tidaknya diperlukan sarana pendukung, antara lain:
  1. Lemari Buku. Di setiap kelas harus ada minimal 1 Lemari/Rak buku yang terkunci, yang mampu menampung ratusan judul buku, dari mulai buku ringan, sedang sampai berat. Kenapa harus lemari yang bisa  dikunci? Agar keberadaan buku tetap tertata rapih dan tidak tersebar liar kemana-mana.   
  2. Pengadaan Buku. Karena program ini bertujuan pembelajaran dan pemberdayaan, maka judul-judul buku yang diperlukan lebih banyak bersifat Inpirasi, Motivasi, Kisah-kisah atau Sejarah dan Pengetahuan Praktis.  
  3. Guru Pendamping. Karena program rutin tiap hari di setiap kelas, maka diperlukan minimal 3 orang guru pendamping yang bertugas mengatur distribusi buku, mengawasi, mengapresiasi dan ikut mengevaluasi setiap presentasi siswa. Kalau jumlah siswa sedikit, dan keterbatasan guru pendamping,  bisa dengan cara digabung,
  4. Suasana Ruang Kelas.  Agar memberikan nuansa kenyamanan dan ketenangan, maka settingan kelas harus dibuat adem, sejuk dan bersih. Maka pot-pot tanaman menjadi pelengkap pengindah ruangan kelas.

EKSPLORASI PSIKOMOTORIK
Psikomotorik berkaitan dengan keterampilan siswa (hand),  atau diistilahkan dengan Olah Raba termasuk Olah Raga. Ada yang bersifat halus dan juga kasar.  Tujuannya adalah untuk membentuk siswa aktif, kreatif, responsive, progresif,  produktif dan mandiri.

Psikomotorik Halus yang bisa diajarkan ke siswa, antara lain:
  1. Menulis halus atau kaligrafi.  Sehubungan dengan belum adanya guru khusus kaligrafi, karena satu dan lain hal, maka solusi pemecahannya adalah setiap siswa diharuskan untuk menulis satu mushaf Al Qur’an secara utuh dari mulai Al  Faatihah s/d An Naas. Tentu saja dilakukan secara bertahap 10 ayat setiap hari. Dengan pola praktik langsung seperti ini,  dijamin tulisan kaligrafi, minimal tulisan Arab siswa akan terasah baik.  Kegiatan ini dilaksanakan sejak Kelas VII s/d X.  Sudah dipastikan, dalam waktu 3 tahun, setiap siswa memiliki satu mushaf Al Qur’an hasil tulisannya sendiri. Luar biasa!!!



  1. Penguasaan Bahasa Arab dan Inggris. Fokus belajar diarahkan pada penguasaan kosa kata Bahasa Arab (Mufrodat) dan Bahasa Inggris (Vocabulary). Ditambah dengan percakapan sehari-hari dan tentu saja keterampilan Pidato, termasuk di dalamnya. Dengan prinsip  One day one word, satu hari 1 kata (Arab/Inggris) x 750 hari = 750 kosa kata, benar-benar dikuasai oleh para siswa.




  1. Keterampilan Pidato. Merupakan program wajib yang harus diikuti siswa. Diadakan rutin seminggu sekali. Target tujuan ideal yang ingin dicapai, setiap siswa menjadi da’i/da’iyat muda professional, yang memiliki keterampilan menyampaikan pesan-pesan kebaikan (dakwah) secara baik, menarik dan meyakinkan dalam 4 bahasa: Indonesia, Arab, Inggris dan Sunda. Dilaksanakan sejak Kelas VII s/d IX.  
  2. Keterampilan  Niaga (Jual Beli).   Kegiatan ini bertujuan, agar setiap siswa terbiasa untuk berdagang atau bisnis. Dilakukan di sela-sela waktu sekolah.  Walaupun mungkin secara nominal dan jenis barang yang diperjual belikan, tidak seberapa, tapi yang penting siswa sudah diajarkan “sadar uang” melalui cara berdagang (berniaga).  Suatu nanti mungkin bisa dikembangkan sendiri, saat mereka berada di daerahnya masing-masing. Kegiatan ini dilaksanakan mulai Kelas VIII s/d IX.
  3. Keterampilan Mengajar (Teaching Skill).  Diawalai dengan Pelatihan dan Pembinaan Khusus,  program ini diarahkan agar Siswa benar-benar memiliki kemampuan dan keterampilan mengajar anak-anak usia TK atau SD yang belajar di TKQ atau TPQ.  Diharapkan, setelah mereka lulus, walaupun secara biologis, mereka masih anak-anak, namun secara sosiologis, bermanfaat dan bermaslahat bisa ikut membantu mengajar Al Qur’an di daerahnya masing-masing.  Program ini khusus ditujukan untuk kelas IX.





Psikomotorik Kasar  yang bisa diajarkan ke siswa, antara lain:
  1. Budaya tanam menanam. Baik sayuran maupun tanaman hias. Target ideal yang ingin dicapai adalah siswa memiliki kesadaran dan kepekaan terhadap alam lingkungan sekitar, sekaligus mampu menanam, yang hasilnya sebagian untuk kebutuhan konsumsi sendiri dan sebagian lagi untuk dijual. Dilaksanakan sejak Kelas VII s/d IX.
  2. Keterampilan Kayu Triplek.  Bisa berbentuk Puzzle atau Potongan Triplek yang disambung-sambung mirip binatang, pesawat, mobil, motor dan lain-lain.
  3. Keterampilan Bambu atau Kayu.  Membuat kursi, meja, papan belajar atau bangku sederhana sendiri,  berbahan baku kayu atau bambu.






  1. Mengumpulkan barang-barang bekas yang laku dijual.  Disamping peka terhadap kebersihan lingkungan sekitar, sekaligus kegiatan bernilai ekonomis, yaitu mengumpulkan barang-barang bekas yang laku dijual: Botol-botol Plastik dan lain sebagainya
  2. Pramuka dan Pencak Silat. Merupakan bagian penting untuk mempertajam keterampilan hidup, sekaligus memperkuat fisik raga siswa. Target capaian  ideal, bisa menjuarai berbagai kegiatan lomba pramuka dan Pencak Silat di berbagai event lomba. 

APA SAJA YANG DIBUTUHKAN
Untuk mendukung program psikomotorik di atas, agar target  capaiannya maksimal, maka setidak-tidaknya diperlukan sarana pendukung, antara lain:
  1. Buku Pegangan Bahasa Arab dan Inggris
  2. Buku Prestasi/Kontrol Penguasaan Bahasa (Arab/Inggris)
  3. Ruang Kerja (Workshop) tersendiri
  4. Box (Kotak) Penyimpan alat-alat
  5. Pot atau Polybag dengan berbagai ukuran
  6. Gabah/Sekam
  7. Kotoran kambing atau ayam
  8. Tanah yang sudah diayak
  9. Terpal Plastik
  10. Ember/Tong  Plastik besar untuk pembuatan Pupuk dari bahan-bahan limbah dapur: Sayuran, buah-buahan, ikan, daging dan lainnya
  11. Alat-alat pertanian dan Pertukangan: Pacul, Garpu, Sekop,  Kored, Golok,  Lem Fox, Ampelas,  Cat,  Gergaji kayu, Palu, Aneka Ukuran Paku,  Pisau Tatah, Pisau, Kayu Triplek, Serutan  dan lain-lain.

EKSPLORASI APEKTIF
Berkaitan dengan rasa (heart), emosi sekaligus juga spiritual.  Karena Al Qur’an, dijadikan sebagai sumber utama ide, inspirasi dan motivasi pembelajaran, maka kaitan Al Qur’an, memang mendapat porsi paling utama.   Untuk itu, keterampilan ini bisa dibentuk dan dibina, sehingga menjadi karakter dan kebiasaan siswa,  melalui pengulangan rutin terus menerus setiap hari,  antara lain:

AL QUR’AN
  1. Tadarus Al Qur’an Wajib, one day one juz, satu hari satu juz, maka dipastikan, siswa bisa khatam 1x/bulan x 30 bulan = 30 x khatam
  2. Tahfidz,  one day one ayat, satu hari 1 ayat x 750 hari = 750 ayat, maka dipastikan, minimal siswa hafal 3 juz Al Qur’an
  3. Muroja’ah, Setoran Hafalan Wajib dilakukan selepas Ashar dan Isya’

DOA-DOA HARIAN
  1. Hafal dan menguasai doa-doa harian: Doa akan/bangun tidur, mau/sudah makan, masuk/keluar WC, bepergian, bercermin, mendengar petir, masuk/keluar Mesjid, mulai/selesai belajar, doa orang sakit, doa untuk yang meninggal dunia, mau/selesai wudhu, setelah adzan, dan lain-lain yang bisa ditambahkan kemudian
  2. Muroja’ah, setoran hafalan wajib dilakukan selepas Ashar dan Isya’

WIRID, DZIKIR dan ASMAUL HUSNA
  1. Wirid, Dzikir dan Asmaul Husna setiap selesai wajib
  2. Doa Qunut Nazilah
  3. Dengan cara setiap santri/siswa bergiliran

SHALAT dan PENGURUSAN JANAZAH
  1. Wajib Berjama’ah setiap shalat wajib
  2. Terbiasa Shalat Sunnah Rawatib (Qobliyah/Bakdiyah)
  3. Terbiasa Shalat Sunnah Qiyamul Lail (Tahajud)
  4. Terbiasa Shalat Sunnah Dhuha berikut dengan doanya
  5. Pelatihan Shalat-shalat Sunnah lainnya: Janazah, Gerhana Matahari dan Bulan, Istisqo (minta hujan), Istikhoroh dan Hajat
  6. Pelatihan Pengurusan Janazah

MUSIKALITAS dan  SENI
  1. Keterampilan bermain musik, menjadi salah satu pelengkap keterampilan santri/siswa. Jenis-jenis musik yang bisa diajar kembangkan, yaitu: Seni Marawis, Nasyid, Paduan Suara, Gitar (Besar/Ukulele), dan lain-lain
  2. Metode Tamyiz atau Tashrifan
  3. Seni Angklung, Calung, dan Gamelan/Gending Sunda
  4. Group Band, bila memungkinkan

APA SAJA YANG DIBUTUHKAN
Untuk mendukung program Apektif di atas, agar target  capaiannya maksimal, maka setidak-tidaknya diperlukan sarana pendukung, antara lain:
  1. Guru Pendamping Khusus Tahfidz khusus putra dan putri
  2. Buku Panduan Doa-doa Harian, Wiridz, Dzikir, Asmaul Husna dan doa-doa lainnya
  3. Buku Prestasi/Kontrol Tadarus Al Qur’an
  4. Buku Prestasi/Kontrol  Hafalan/Tahfidz Al Qur’an
  5. Buku Prestasi/Kontrol  Hafalan Doa Harian, Wirid, Dzikir dan Asmaul Husna
  6. Seperangkat Alat Seni Marawis
  7. Gitar Ukulele minimal 5 buah
  8. Gitar biasa minimal 3 buah
  9. Seperangkat Alat Band (Guitar Elektrik, Drum, Chuck (Speaker Aktif), Keyboard dan lain-lainnya
  10. Ruangan Studio Musik Khusus

SUMBER DAYA GURU
Sumber Daya Guru, termasuk salah satu komponen penting tercapainya tujuan ideal di atas. Oleh karenanya, dibutuhkan guru dengan beberapa kriteria sebagai berikut :
  1. Aktualisasi Diri. Mengajar atau mendidik, bukan dianggap sebagai beban, melainkan sebuah proses memperindah, memperluas dan memperdalam eksistensi dan aktualisasi diri agar menjadi manusia yang bermanfaat dan maslahat,
  2. Semangat Belajar.  Bersama-sama dengan siswa, memproses diri untuk menjadi pembelajar sejati,
  3. Semangat Berubah Maju. Tiada hari tanpa belajar. Ada proses timbal balik antara guru dan siswa. Siswa belajar dari guru, dan guru belajar dari siswa. Sehingga proses pembelajaran menjadi pengalaman, pengetahuan, tabungan bekal sekaligus kearifan, untuk melakukan program pembelajaran yang sama di tempat lain, manakala sudah tidak lagi aktif mengajar di SMP Ahsana Tarbiyatun Nisaa.   
  4. Dinamis, Atraktif, Ekspresif, Rensponsif dan Kreatif.  Sosok guru yang tidak pernah diam, untuk terus merekayasa dan mempertajam program-program pembelajaran, agar lebih baik, berkembang, maju  dan lebih sempurna lagi.
  5. Program Pembinaan dan Pelatihan Guru. Untuk meningkatkan kualitas guru, maka program pembinaan, pelatihan, dan evaluasi, merupakan kegiatan rutin yang harus dilakukan, minimal satu tahun sekali.

KEGIATAN AKHIR TAHUN
Merupakan puncak perayaan, promosi, publikasi sekaligus pameran ragam hasil karya siswa untuk diperlihatkan ke orangtua, masyarakat, tokoh pendidik, instansi terkait,  donator, simpatisan dan para dermawan.
  1. Rihlah Ilmiah atau Study Tour. Sebagai sarana rekreasi plus relaksasi bagi para siswa dan guru. Idealnya diadakan satu tahun sekali.
  2. Outbond bersama
  3. Pameran Hasil Karya Siswa: Menampilkan ragam hasil karya siswa
  4. Pentas Pertunjukan Seni dan Hiburan Siswa: Seni Marawis, Paduan Suara, Pidato, Nasyid, Silat, Pantomim, Sulap, Drama dan lain-lainnya
  5. Acara Prosesi Wisuda/Pelepasan Kelas IX 









PENDANAAN
Semua program di atas, tentu saja tidak terlepas dari kebutuhan dana yang tidak sedikit. Kaitan dengan Pendanaan ini, bisa dilakukan dengan mengeksplorasi sumber-sumber dana, antara lain:
  1. Bayaran Siswa: Pendaftaran Awal, Pendaftaran Ulang,  SPP Rutin Bulanan
  2. Namun bila yang pertama tidak terpenuhi, maka perlu dicari sumber-sumber dana lain, antara lain:

  • Orang tua asuh
  • Donatur/Dermawan Rutin bulanan
  • Kas Yayasan
  • Subsidi Silang dari UPT Pendidikan yang lebih dulu berkembang dan mandiri
  • Hasil Usaha Siswa: Jual beli, Manggung Hiburan, Mengajar, Ceramah dan lain-lainnya
  • Kotak Infaq yang disebar di berbagai tempat
  • Bantuan Pemerintah: BOS, RKB dan lain sebagainya
  • Proposal Kegiatan Insidental
  • Sumber-sumber dana lain yang halal dan tidak mengikat
  • Penyebaran Brosur atau Liflet Khusus yang memuat program SMP Ahsana Tarbiyatun Nisaa,  dibuat dengan full color, eksentrik dan artistik, agar menarik  minat donasi.
  • Sumber-sumber dana lain yang halal dan tidak mengikat.


PENUTUP

Pepatah bijak Dalai Lama mengatakan,   Jaga fikiran, karena akan jadi perkatan. Jaga perkataan, karena akan jadi perbuatan. Jaga perbuatan, karena akan jadi Kebiasaan. Jaga kebiasaan, karena akan jadi karakter/watak, dan jaga karakter/watak, karena akan jadi nasib.  Jadi nasib seseorang, sangat ditentukan oleh fikirannya.  Fikiran negative, pesimis, malas, mudah menyerah  mengeluh,  asal-asalan, stagnan/tidak mau berubah, apatis, dan kebiasaan menyalahkan,  akan menghasilkan nasib yang sama, baik menyangkut perorangan, lembaga ataupun masyarakat. Sebaliknya,  fikiran positif, semangat,  pantang menyerah, terbuka selalu mencoba,  berusaha ingin maju, akan melahirkan nasib yang sama pula.

Mengelola lembaga usaha ataupun pendidikan, apapun jenisnya, kalau ingin maju dan berkembang, butuh konsentrasi, energy, dan keseriusan. Ibarat mengasuh bayi atau balita, butuh perawatan, pemeliharaan dan perhatian khusus.  Oleh karenanya, semangat “ngulik” harus menjadi bagian dari proses pengelolaan, pengembangan dan penerapan KBM di SMP Ahsana Tarbiyatun Nisaa. Dengannya, akan terbuka pintu-pintu kemajuan, kepuasan dan kesejahteraan.

Lebih dari itu, walau SMP secara struktur kelembagaan formal sekolah,  masih dalam katagori pendidikan dasar 9 tahun, namun visi, misi, serta isi bobot materi pembelajaran dan pemberdayaan yang  akan diberikan, seperti sebuah pusat pendidikan, pelatihan dan pembinaan calon-calon pemimpin di masa depan.   Dengan kata lain, walau secara biologis, masih termasuk katagori usia anak-anak, namun secara ideologis dan sosiologis, siswa-siswi SMP Ahsana Tarbiyatun Nisaa diproyeksikan untuk menjadi pribadi-pribadi inspiratif, kreatif, produktif, progresif dan mandiri yang memberikan manfaat dan maslahat di tempatnya masing-masing.

Untuk itu, kerjasama, kritik, saran, evaluasi dan diskusi terbuka, dengan berbagai pihak yang memiliki kompeten dan kepedulian, harus dikembangkan, dijaga dan dipelihara, sehingga kualitas SMP Ahsana Tarbiyatun Nisaa makin melesat bergerak maju. Harapan terwujudnya lembaga pendidikan kader da’i/da’iyat muda, benar-benar mewujud nyata.

Mudah-mudahan apa yang diniatkan dan direncanakan, menjadi bagian dari semangat pengabdian kepada Allah SWT, sebagai upaya memelihara estafeta risalah Islam dan menjaga kelestarian Al Qur’an di masa depan. Dengannya, semoga berkah dan ridho Allah SWT didapatkan. Insya Allah…..

Bogor, Awal Agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar