LIVE IS SHORT

Diposting oleh Tarbiyatun Nisaa - Sabtu, 26 November 2016, 14.47 Kategori: - Komentar: 0 komentar

LIVE IS SHORT

Live is short, hidup ini terlalu singkat. Bila dihitung secara bumi, dunia atau alam fana, kelihatannya, hidup manusia itu lama. Namun, kalau dihitung secara ruhani, metafisis atau langit, hidup yang jalani manusia, hakikatnya sebentar.  Banyak sekali penjelasan di dalam Al Qur’an berkaitan perbedaan antara waktu dunia dengan waktu akhirat.  

Perbandingan waktu

"Dan sesungguhnya satu hari (menurut perhitungan) Allahh Tuhanmu adalah seperti 1000 tahun menurut perkiraanmu." (Al-Hajj ayat 47)
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (As-Sajdah ayat 5)

Berdasarkan 2 ayat diatas, mari kita perkirakan perbandingan hari antara dunia dengan akhirat menggunakan hitungan matematika sederhana.

  • 1 hari di akhirat = 1.000 tahun di dunia
  • 1 tahun di dunia = 365 hari
  • 1 hari di akhirat = 365 x 1000 = 365.000 hari
Berarti satu hari di akhirat adalah 365 ribu hari di dunia.

Coba kita misalkan, jika 1 hari di akhirat juga ada 24 jam seperti di dunia.

  • 1 hari di akhirat = 1.000 tahun di dunia
  • 1 hari di dunia = 24 jam
  • 1 jam di akhirat = 1000/24 = 41,7 tahun
Maka setiap jam di akhirat adalah sama dengan 41,7 tahun di dunia.

Usia harapan hidup umat Nabi Muhammad adalah kurang lebih 60 tahun.
maka jika kita bandingkan waktu hidup di dunia dengan kehidupan akhirat.

  • 1 jam di akhirat = 41,7 tahun
  • 60 tahun/41,7 tahun = 1,4 jam
Maka kita hanya hidup di dunia selama 1,4 jam berdasarkan hitungan akhirat.

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu adalah terlebih baik bagi orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Al-An’am ayat 32)
Oleh karenanya, alangkah ruginya manusia, kalau hidup di dunia, tidak memiliki arti, tidak diisi dengan amal kebaikan, prestasi hidup, berbagi, bermanfaat dan bermakna bagi sesamanya. Sebuah kesia-siaan, kalau hanya diisi dengan amalan-amalan tak berarti, apalagi dipenuhi dengan maksiat, sombong, takabur, kafir, dholim, mengingkari kebenaran, dan menganggap berita-berita tentang kebenaran Al Qur’an, adanya akhirat, surga, neraka, hisaban, adalah kebohongan semata-mata. Karena, pasti mereka akan mengalaminya.

Apapun, dimanapun, bagaimanapun dan siapapun, pasti kematian adalah akhir kehidupannya. Oleh karenanya, kalau kematian adalah ujung kehidupan, maka tidak ada alasan untuk menjadikan hidup dipenuhi dengan main-main, iseng-iseng, asal-asalan atau sekedarnya saja, melainkan hidup yang harus lebih bermakna, bermanfaat, berguna dan memperbanyak investasi amal ukhrowiyah, yang memang akan jadi andalan dan bekal hakiki saat kita menghadap ke haribaan Ilahi.  Sungguh merugilah orang yang menganggap, bahwa hidup di dunia hanyalah main-main dan tidak serius. Karena kematian, akhirat dengan segala ragam isinya, akan dimasuki dan dijelang oleh manusia, dan itu sudah pasti, tidak bisa diingkari oleh siapapun.

Mumpung Allah SWT masih memberi peluang dan kesempatan, yaitu hidup di dunia, saat ini, di sini, maka isilah dengan ragam amal kebaikan, yang akan menjadi investasi dan bekal di hari kemudian. Tidak ada kesempatan kedua, karena, tidak ada lagi kehidupan yang akan dikembalikan ke dunia ini, semua berproses menuju keabadian di akhirat sana. Sungguh malang, orang yang menganggap, bahwa akhirat hanyalah cerita, isapan jempol belaka, khayalan orang-orang yang tersingkir, tak berdaya, tak bisa menikmati dunia sepenuhnya. Pepatah mengatakan, bagi orang hidup, dunia ini nyata, dan akhirat hanyalah cerita. Namun bagi orang yang sudah mati, Akhirat adalah nyata, dan dunia hanyalah tinggal cerita.

Termasuk orang yang diberik hikmah, dialah orang yang diberi kesadaran tentang adanya kehidupan di akhirat sana. Sehingga, setiap saat dia selalu mempersiapkan dirinya, dengan amal-amal kebaikan, karena, dia tidak tahu, kapan, dimana, sedang apa, dan sama siapa, dia akan dijemput oleh Malaikat Izroil, sang Penjemput Maut, yang selalu mendatanginya 23x sehari semalam tak terlewat. Rasulullah SAW bersabda, “Aktsiruu Dzikrol Haadimil Ladzaat Al Maut…”  Perbanyaklah kalian mengingat penghilang dan pencabut kenikmatan, yaitu kematian.  

Bila kematian sudah datang, tak ada lagi kesempatan, penyesalanpun menjadi tak ada artinya, bahkan penyesalan tiada tara tak berujung tak berakhir. Jangankan orang jahat penuh maksiat, orang shaleh, baek, syuhada, muttaqien, merekapun akan menyesal, kenapa mereka tidak maksimal dalam berbuat kebaikan. Mereka yang baik saja menyesal, apalagi yang tidak ada prestasi kebaikan sedikitpun saat dia hidup di dunia. So, sadarlah, sebelum semuanya berakhir………..

referensi
dari berbagai sumber online

0 komentar

Posting Komentar